Surat Al Falaq Ayat 1-5
[سُورَةُ الْفَلَقِ (١١٣): الْآيَاتُ ١ إِلَى ٥]
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ
إِذَا وَقَبَ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ٤ وَمِنْ شَرِّ
حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ٥
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan waktu subuh, dari
kejahatan segala sesuatu yang Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila
telah gelap gulita, dan dari kejahatan para perempuan penyihir yang meniup pada
buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
الْفَلَقُ
الصُّبْحُ، يُقَالُ: هُوَ أَبْيَنُ مِنْ فَلَقِ الصُّبْحِ، وَسُمِّيَ فَلَقًا
لِأَنَّهُ يُفْلَقُ عَنْهُ اللَّيْلُ، وَهُوَ فَعَلٌ بِمَعْنَى مَفْعُولٍ.
Al-falaq adalah waktu subuh. Dikatakan, “Ia lebih jelas
daripada fajar subuh.” Ia dinamai falaq karena malam terbelah
olehnya. Kata itu berbentuk fa‘al dengan makna maf‘ul.
قَالَ
الزَّجَّاجُ: لِأَنَّ اللَّيْلَ يَنْفَلِقُ عَنْهُ الصُّبْحُ، وَيَكُونُ بِمَعْنَى
مَفْعُولٍ، يُقَالُ: هُوَ أَبْيَنُ مِنْ فَلَقِ الصُّبْحِ، وَمِنْ فَرَقِ
الصُّبْحِ.
Az-Zajjaj berkata, “Karena malam terbelah oleh terbitnya
subuh, maka kata itu dapat bermakna maf‘ul. Dikatakan, ‘Ia lebih
jelas daripada falaq subuh,’ dan ‘daripada faraq subuh.’”
وَهَذَا
قَوْلُ جُمْهُورِ الْمُفَسِّرِينَ.
Inilah pendapat mayoritas ahli tafsir.
وَمِنْهُ
قَوْلُ ذِي الرُّمَّةِ: حَتَّى إِذَا مَا انْجَلَى عَنْ وَجْهِهِ فَلَقٌ هَادِيهِ
فِي أُخْرَيَاتِ اللَّيْلِ مُنْتَصِبُ.
Di antara contohnya adalah perkataan Dzu ar-Rummah: “Hingga
ketika tampak jelas dari wajahnya cahaya fajar pada awalnya, berdiri tegak di
penghujung-penghujung malam.”
وَقَوْلُ
الْآخَرِ: يَا لَيْلَةً لَمْ أَنَمْهَا بِتُّ مُرْتَفِقًا أَرْعَى النُّجُومَ
إِلَى أَنْ نَوَّرَ الْفَلَقُ.
Dan perkataan penyair lain: “Wahai malam, aku tidak tidur
padanya; aku bermalam sambil bersandar, memandangi bintang-bintang hingga fajar
mulai bercahaya.”
وَقِيلَ:
هُوَ سِجْنٌ فِي جَهَنَّمَ.
Dan dikatakan, al-falaq adalah sebuah
penjara di dalam Jahanam.
وَقِيلَ:
هُوَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ جَهَنَّمَ.
Dan dikatakan, ia adalah salah satu nama Jahanam.
وَقِيلَ:
شَجَرَةٌ فِي النَّارِ.
Dan dikatakan, ia adalah sebuah pohon di dalam neraka.
وَقِيلَ:
هُوَ الْجِبَالُ وَالصُّخُورُ، لِأَنَّهَا تُفْلَقُ بِالْمِيَاهِ، أَيْ: تُشَقَّقُ.
Dan dikatakan, ia adalah gunung-gunung dan batu-batu besar,
karena semuanya terbelah oleh air, yakni retak dan pecah.
وَقِيلَ:
هُوَ التَّفْلِيقُ بَيْنَ الْجِبَالِ لِأَنَّهَا تَنْشَقُّ مِنْ خَوْفِ اللَّهِ.
Dan dikatakan, ia adalah celah-celah di antara
gunung-gunung, karena gunung-gunung itu terbelah karena takut kepada Allah.
قَالَ
النَّحَّاسُ: يُقَالُ لِكُلِّ مَا اطْمَأَنَّ مِنَ الْأَرْضِ فَلَقٌ.
An-Nahhas berkata, “Setiap bagian tanah yang rendah
disebut falaq.”
وَمِنْهُ
قَوْلُ زُهَيْرٍ: مَا زِلْتُ أَرْمُقُهُمْ حَتَّى إِذَا هَبَطَتْ أَيْدِي
الرِّكَابِ بِهِمْ مِنْ رَاكِسٍ فَلَقًا.
Di antaranya adalah perkataan Zuhair: “Aku terus mengamati
mereka hingga ketika tunggangan-tunggangan itu turun bersama mereka dari dasar
lembah menuju tanah yang rendah.”
وَالرَّاكِسُ:
بَطْنُ الْوَادِي.
Ar-rākis berarti dasar lembah.
وَمِثْلُهُ
قَوْلُ النَّابِغَةِ: أَتَانِي وَدُونِي رَاكِسٌ فَالضَّوَاجِعُ.
Dan yang semisal dengan itu adalah perkataan An-Nabighah:
“Ia datang kepadaku, padahal antara aku dan dia ada dasar lembah serta
tempat-tempat rebah.”
وَقِيلَ:
هُوَ الرَّحِمُ تَنْفَلِقُ بِالْحَيَوَانِ.
Dan dikatakan, ia adalah rahim yang terbelah karena
keluarnya makhluk hidup.
وَقِيلَ:
هُوَ كُلُّ مَا انْفَلَقَ عَنْ جَمِيعِ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنَ الْحَيَوَانِ
وَالصُّبْحِ وَالْحَبِّ وَالنَّوَى، وَكُلِّ شَيْءٍ مِنْ نَبَاتٍ وَغَيْرِهِ،
قَالَهُ الْحَسَنُ وَالضَّحَّاكُ.
Dan dikatakan, ia adalah segala sesuatu yang terbelah
sehingga darinya keluar semua yang Allah ciptakan, seperti hewan, waktu subuh,
biji-bijian, inti buah, dan segala sesuatu dari tumbuhan maupun selainnya. Ini
adalah pendapat Al-Hasan dan Adh-Dhahhak.
قَالَ
الْقُرْطُبِيُّ: هَذَا الْقَوْلُ يَشْهَدُ لَهُ الِانْشِقَاقُ، فَإِنَّ الْفَلْقَ:
الشَّقُّ، فَلَقْتُ الشَّيْءَ فَلْقًا: شَقَقْتُهُ، وَالتَّفْلِيقُ مِثْلُهُ.
Al-Qurthubi berkata, “Pendapat ini didukung oleh makna
keterbelahan, sebab al-falq berarti belahan. Aku
berkata: falaqtu asy-syai’a falqan, artinya aku membelahnya.
Dan at-taflīq juga bermakna sama.”
يُقَالُ:
فَلَقْتُهُ فَانْفَلَقَ وَتَفَلَّقَ، فَكُلُّ مَا انْفَلَقَ عَنْ شَيْءٍ مِنْ
حَيَوَانٍ وَصُبْحٍ وَحَبٍّ وَنَوًى وَمَاءٍ فَهُوَ فَلَقٌ.
Dikatakan, “Aku membelahnya, lalu ia terbelah dan pecah.”
Maka setiap sesuatu yang terbelah sehingga keluar darinya sesuatu, baik hewan,
subuh, biji-bijian, inti, maupun air, maka itulah falaq.
قَالَ
اللَّهُ سُبْحَانَهُ: فَالِقُ الْإِصْبَاحِ.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman, “Yang membelah waktu
subuh.”
وَقَالَ:
فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى.
Dan Dia juga berfirman, “Yang membelah biji-bijian dan
inti.”
انْتَهَى.
Selesai.
وَالْقَوْلُ
الْأَوَّلُ أَوْلَى؛ لِأَنَّ الْمَعْنَى وَإِنْ كَانَ أَعَمَّ مِنْهُ وَأَوْسَعَ
مِمَّا تَضَمَّنَهُ، لَكِنَّهُ الْمُتَبَادَرُ عِنْدَ الْإِطْلَاقِ.
Pendapat yang pertama lebih utama, karena meskipun maknanya
bisa lebih umum dan lebih luas daripada itu, namun makna itulah yang langsung
dipahami ketika lafaz ini disebutkan secara mutlak.
وَقَدْ
قِيلَ فِي وَجْهِ تَخْصِيصِ الْفَلَقِ: الْإِيمَاءُ إِلَى أَنَّ الْقَادِرَ عَلَى
إِزَالَةِ هَذِهِ الظُّلُمَاتِ الشَّدِيدَةِ عَنْ كُلِّ هَذَا الْعَالَمِ يَقْدِرُ
أَيْضًا أَنْ يَدْفَعَ عَنِ الْعَائِذِ كُلَّ مَا يَخَافُهُ وَيَخْشَاهُ.
Dan telah dikatakan tentang alasan pengkhususan kata al-falaq:
isyarat bahwa Zat yang mampu menghilangkan kegelapan-kegelapan yang pekat dari
seluruh alam ini, juga mampu menolak dari orang yang berlindung segala sesuatu
yang ia takuti dan khawatirkan.
وَقِيلَ:
طُلُوعُ الصُّبْحِ كَالْمِثَالِ لِمَجِيءِ الْفَرَحِ، فَكَمَا أَنَّ الْإِنْسَانَ
فِي اللَّيْلِ يَكُونُ مُنْتَظِرًا لِطُلُوعِ الصَّبَاحِ، كَذَلِكَ الْخَائِفُ
يَكُونُ مُتَرَقِّبًا لِطُلُوعِ صَبَاحِ النَّجَاحِ.
Dan dikatakan, terbitnya subuh itu seperti perumpamaan
datangnya kegembiraan. Sebagaimana manusia pada malam hari menunggu terbitnya
pagi, demikian pula orang yang takut menanti datangnya pagi keberhasilan.
وَقِيلَ:
غَيْرُ هَذَا مِمَّا هُوَ مُجَرَّدُ بَيَانِ مُنَاسَبَةٍ لَيْسَ فِيهَا كَثِيرُ
فَائِدَةٍ تَتَعَلَّقُ بِالتَّفْسِيرِ.
Dan ada pula penjelasan-penjelasan lain yang hanya berupa
pemaparan kesesuaian makna, yang tidak banyak manfaatnya dalam kaitannya dengan
tafsir.
مِنْ
شَرِّ مَا خَلَقَ مُتَعَلِّقٌ بِأَعُوذُ، أَيْ: مِنْ شَرِّ كُلِّ مَا خَلَقَهُ
سُبْحَانَهُ مِنْ جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ، فَيَعُمُّ جَمِيعَ الشُّرُورِ.
Frasa min syarri mā khalaq berkaitan dengan
kata a‘ūdzu, yaitu: dari kejahatan segala yang Dia ciptakan, dari
seluruh makhluk-Nya. Maka ini mencakup seluruh macam kejahatan.
وَقِيلَ:
هُوَ إِبْلِيسُ وَذُرِّيَّتُهُ.
Dan dikatakan, yang dimaksud ialah Iblis dan keturunannya.
وَقِيلَ:
جَهَنَّمُ.
Dan dikatakan, yang dimaksud ialah Jahanam.
وَلَا
وَجْهَ لِهَذَا التَّخْصِيصِ، كَمَا أَنَّهُ لَا وَجْهَ لِتَخْصِيصِ مَنْ خَصَّصَ
هَذَا الْعُمُومَ بِالْمَضَارِّ الْبَدَنِيَّةِ.
Tidak ada alasan yang tepat untuk pengkhususan ini,
sebagaimana tidak ada alasan pula bagi orang yang membatasi keumuman ayat ini
hanya pada bahaya-bahaya fisik.
وَقَدْ
حَرَّفَ بَعْضُ الْمُتَعَصِّبِينَ هَذِهِ الْآيَةَ مُدَافَعَةً عَنْ مَذْهَبِهِ
وَتَقْوِيمًا لِبَاطِلِهِ، فَقَرَؤُوا بِتَنْوِينِ شَرٍّ عَلَى أَنَّ مَا
نَافِيَةٌ، وَالْمَعْنَى: مِنْ شَرٍّ لَمْ يَخْلُقْهُ، وَمِنْهُمْ عَمْرُو بْنُ
عُبَيْدٍ وَعَمْرُو بْنُ عَائِذٍ.
Sebagian orang yang fanatik telah menyimpangkan ayat ini
untuk membela mazhabnya dan menguatkan kebatilannya. Mereka membacanya dengan
tanwin pada kata syarrin, dengan menganggap mā sebagai
kata penafian. Maka maknanya menjadi: “dari suatu kejahatan yang tidak Dia
ciptakan.” Di antara mereka ialah ‘Amr bin ‘Ubaid dan ‘Amr bin ‘Aid.
وَمِنْ
شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، الْغَاسِقُ: اللَّيْلُ، وَالْغَسَقُ: الظُّلْمَةُ،
يُقَالُ: غَسَقَ اللَّيْلُ يَغْسِقُ إِذَا أَظْلَمَ.
Dan firman-Nya, wa min syarri ghāsiqin idzā waqab;
yang dimaksud dengan ghāsiq adalah malam, dan ghasaq berarti
kegelapan. Dikatakan, ghasaqal-lailu yaghsiqu apabila malam
telah menjadi gelap.
قَالَ
الْفَرَّاءُ: يُقَالُ: غَسَقَ اللَّيْلُ وَأَغْسَقَ إِذَا أَظْلَمَ.
Al-Farra’ berkata, “Dikatakan: ghasaqal-lailu dan aghsaqa apabila
malam telah gelap.”
وَمِنْهُ
قَوْلُ قَيْسِ بْنِ الرُّقَيَّاتِ: إِنَّ هَذَا اللَّيْلَ قَدْ غَسَقَا
وَاشْتَكَيْتُ الْهَمَّ وَالْأَرَقَا.
Di antaranya adalah perkataan Qais bin ar-Ruqayyat:
“Sesungguhnya malam ini telah menjadi gelap, dan aku mengeluhkan kesedihan
serta kegelisahan.”
وَقَالَ
الزَّجَّاجُ: قِيلَ لِلَّيْلِ: غَاسِقٌ لِأَنَّهُ أَبْرَدُ مِنَ النَّهَارِ،
وَالْغَاسِقُ: الْبَارِدُ، وَالْغَسَقُ: الْبَرْدُ.
Az-Zajjaj berkata, “Malam disebut ghāsiq karena
ia lebih dingin daripada siang. Al-ghāsiq berarti yang dingin,
dan al-ghasaq berarti dingin.”
وَلِأَنَّ
فِي اللَّيْلِ تَخْرُجُ السِّبَاعُ مِنْ آجَامِهَا، وَالْهَوَامُّ مِنْ
أَمَاكِنِهَا، وَيَنْبَعِثُ أَهْلُ الشَّرِّ عَلَى الْعَيْثِ وَالْفَسَادِ، كَذَا
قَالَ.
Dan karena pada malam hari binatang-binatang buas keluar
dari sarangnya, binatang melata keluar dari tempatnya, dan orang-orang jahat
bergerak untuk membuat kerusakan. Demikianlah katanya.
وَهُوَ
قَوْلٌ بَارِدٌ، فَإِنَّ أَهْلَ اللُّغَةِ عَلَى خِلَافِهِ، وَكَذَا جُمْهُورُ
الْمُفَسِّرِينَ.
Namun ini adalah pendapat yang lemah, karena para ahli
bahasa berpendapat sebaliknya, demikian pula mayoritas ahli tafsir.
وَوُقُوبُهُ:
دُخُولُ ظَلَامِهِ.
Makna wuqūb-nya adalah masuknya kegelapannya.
وَمِنْهُ
قَوْلُ الشَّاعِرِ: وَقَبَ الْعَذَابُ عَلَيْهِمْ فَكَأَنَّهُمْ لَحِقَتْهُمْ
نَارُ السَّمُومِ فَأُحْصِدُوا.
Di antaranya adalah perkataan penyair: “Azab telah menimpa
mereka, seakan-akan api panas yang membakar telah mengenai mereka, lalu mereka
pun binasa.”
أَيْ:
دَخَلَ الْعَذَابُ عَلَيْهِمْ.
Artinya: azab telah masuk menimpa mereka.
وَيُقَالُ:
وَقَبَتِ الشَّمْسُ إِذَا غَابَتْ.
Dan dikatakan, waqabat asy-syamsu apabila
matahari telah tenggelam.
وَقِيلَ:
الْغَاسِقُ: الثُّرَيَّا، وَذَلِكَ أَنَّهَا إِذَا سَقَطَتْ كَثُرَتِ الْأَسْقَامُ
وَالطَّوَاعِينُ، وَإِذَا طَلَعَتِ ارْتَفَعَ ذَلِكَ، وَبِهِ قَالَ ابْنُ زَيْدٍ.
Dan dikatakan, ghāsiq adalah bintang
Tsurayya, karena jika ia terbenam maka banyak penyakit dan wabah bermunculan,
dan jika ia terbit maka hal itu terangkat. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid.
وَهَذَا
مُحْتَاجٌ إِلَى نَقْلٍ عَنِ الْعَرَبِ أَنَّهُمْ يَصِفُونَ الثُّرَيَّا
بِالْغُسُوقِ.
Pendapat ini memerlukan riwayat dari orang Arab bahwa mereka
memang menyifati Tsurayya dengan istilah ghusūq.
وَقَالَ
الزُّهْرِيُّ: هُوَ الشَّمْسُ إِذَا غَرَبَتْ، وَكَأَنَّهُ لَاحَظَ مَعْنَى
الْوُقُوبِ وَلَمْ يُلَاحِظْ مَعْنَى الْغُسُوقِ.
Az-Zuhri berkata, “Itu adalah matahari apabila telah
terbenam.” Seakan-akan ia memperhatikan makna wuqūb namun
tidak memperhatikan makna ghusūq.
وَقِيلَ:
هُوَ الْقَمَرُ إِذَا خَسَفَ، وَقِيلَ: إِذَا غَابَ.
Dan dikatakan, itu adalah bulan apabila mengalami gerhana.
Dan dikatakan pula, apabila ia tenggelam.
وَبِهَذَا
قَالَ قَتَادَةُ وَغَيْرُهُ.
Inilah pendapat Qatadah dan selainnya.
وَاسْتَدَلُّوا
بِحَدِيثٍ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ
الْمُنْذِرِ وَأَبُو الشَّيْخِ فِي الْعَظَمَةِ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَابْنُ
مَرْدَوَيْهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى الْقَمَرِ لَمَّا طَلَعَ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ
اسْتَعِيذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا، فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْغَاسِقُ إِذَا
وَقَبَ.
Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad,
At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, Abu Syaikh dalam Al-‘Azhamah,
Al-Hakim — dan ia mensahihkannya — serta Ibnu Mardawaih, dari ‘Aisyah, ia
berkata: “Suatu hari Rasulullah ﷺ memandang bulan ketika ia terbit, lalu beliau bersabda, ‘Wahai
‘Aisyah, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan ini, karena inilah yang
dimaksud dengan al-ghāsiq idzā waqab.’”
قَالَ
التِّرْمِذِيُّ: بَعْدَ إِخْرَاجِهِ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
At-Tirmidzi berkata setelah meriwayatkannya, “Hadis ini
hasan sahih.”
وَهَذَا
لَا يُنَافِي قَوْلَ الْجُمْهُورِ، لِأَنَّ الْقَمَرَ آيَةُ اللَّيْلِ وَلَا
يُوجَدُ لَهُ سُلْطَانٌ إِلَّا فِيهِ، وَهَكَذَا يُقَالُ فِي جَوَابِ مَنْ قَالَ:
إِنَّهُ الثُّرَيَّا.
Hal ini tidak bertentangan dengan pendapat mayoritas, karena
bulan adalah tanda malam dan kekuasaannya hanya tampak pada malam. Demikian
pula jawaban terhadap orang yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah
Tsurayya.
قَالَ
ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ: فِي تَأْوِيلِ هَذَا الْحَدِيثِ: وَذَلِكَ أَنَّ أَهْلَ
الرَّيْبِ يَتَحَيَّنُونَ وَجْبَةَ الْقَمَرِ.
Ibnu Al-A‘rabi berkata dalam menafsirkan hadis ini, “Hal itu
karena orang-orang yang berbuat buruk menunggu saat munculnya bulan.”
وَقِيلَ:
الْغَاسِقُ: الْحَيَّةُ إِذَا لَدَغَتْ.
Dan dikatakan, ghāsiq adalah ular apabila
ia menggigit.
وَقِيلَ:
الْغَاسِقُ كُلُّ هَاجِمٍ يَضُرُّ كَائِنًا مَنْ كَانَ، مِنْ قَوْلِهِمْ غَسَقَتِ
الْقُرْحَةُ إِذَا جَرَى صَدِيدُهَا.
Dan dikatakan, ghāsiq adalah setiap yang
menyerang dan membahayakan siapa pun, diambil dari ungkapan mereka: ghasaqati
al-qurḥatu apabila nanah luka mengalir.
وَقِيلَ:
الْغَاسِقُ هُوَ السَّائِلُ.
Dan dikatakan, ghāsiq adalah sesuatu yang
mengalir.
وَقَدْ
عَرَّفْنَاكَ أَنَّ الرَّاجِحَ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ هُوَ مَا قَالَهُ
أَهْلُ الْقَوْلِ الْأَوَّلِ.
Dan telah kami jelaskan kepadamu bahwa pendapat yang lebih
kuat dalam menafsirkan ayat ini adalah pendapat golongan pertama.
وَوَجْهُ
تَخْصِيصِهِ أَنَّ الشَّرَّ فِيهِ أَكْثَرُ، وَالتَّحَرُّزَ مِنَ الشُّرُورِ فِيهِ
أَصْعَبُ.
Alasan pengkhususannya adalah karena kejahatan pada waktu
itu lebih banyak, dan menjaga diri dari berbagai keburukan pada waktu itu lebih
sulit.
وَمِنْهُ
قَوْلُهُمْ: اللَّيْلُ أَخْفَى لِلْوَيْلِ.
Di antaranya adalah ucapan mereka: “Malam lebih menutupi
berbagai keburukan.”
وَمِنْ
شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، النَّفَّاثَاتُ: هُنَّ السَّوَاحِرُ، أَيْ:
وَمِنْ شَرِّ النُّفُوسِ النَّفَّاثَاتِ، أَوِ النِّسَاءِ النَّفَّاثَاتِ.
Dan firman-Nya, wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad;
yang dimaksud dengan an-naffāṡāt adalah para penyihir
perempuan, yakni dari kejahatan jiwa-jiwa yang meniup, atau perempuan-perempuan
yang meniup.
وَالنَّفْثُ:
النَّفْخُ كَمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ مَنْ يَرْقِي وَيَسْحَرُ، قِيلَ: مَعَ رِيقٍ،
وَقِيلَ: بِدُونِ رِيقٍ.
An-nafṡ adalah hembusan, sebagaimana yang
dilakukan oleh orang yang meruqyah dan menyihir. Dikatakan, hembusan itu
disertai sedikit ludah. Dan dikatakan pula, tanpa ludah.
وَالْعُقَدُ:
جَمْعُ عُقْدَةٍ.
Al-‘uqad adalah bentuk jamak dari ‘uqdah.
وَذَلِكَ
أَنَّهُنَّ كُنَّ يَنْفُثْنَ فِي عُقَدِ الْخُيُوطِ حِينَ يَسْحَرْنَ بِهَا.
Hal itu karena mereka dahulu meniup pada simpul-simpul
benang ketika melakukan sihir dengannya.
وَمِنْهُ
قَوْلُ عَنْتَرَةَ: فَإِنْ يَبْرَأْ فَلَمْ أَنْفُثْ عَلَيْهِ وَإِنْ يُفْقَدْ
فَحَقٌّ لَهُ الْفُقُودُ.
Di antaranya adalah perkataan ‘Antarah: “Jika ia sembuh,
maka bukan aku yang meniup padanya; dan jika ia hilang, maka kehilangan itu
memang pantas baginya.”
وَقَوْلُ
مُتَمِّمِ بْنِ نُوَيْرَةَ: نَفَثْتُ فِي الْخَيْطِ شَبِيهَ الرُّقَى مِنْ
خَشْيَةِ الْجِنَّةِ وَالْحَاسِدِ.
Dan perkataan Mutammim bin Nuwairah: “Aku meniup pada benang
seperti bacaan ruqyah, karena takut kepada gangguan jin dan orang yang dengki.”
قَالَ
أَبُو عُبَيْدَةَ: النَّفَّاثَاتُ هُنَّ بَنَاتُ لَبِيدِ الْأَعْصَمِ
الْيَهُودِيِّ، سَحَرْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Abu ‘Ubaidah berkata, “An-naffāṡāt adalah putri-putri Labid
Al-A‘sham, seorang Yahudi, yang telah menyihir Nabi ﷺ.”
قَرَأَ
الْجُمْهُورُ: النَّفَّاثَاتِ جَمْعُ نَفَّاثَةٍ عَلَى الْمُبَالَغَةِ.
Mayoritas qari membaca an-naffāṡāt, sebagai
bentuk jamak dari naffāṡah yang menunjukkan makna sangat
sering meniup.
وَقَرَأَ
يَعْقُوبُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَابِطٍ وَعِيسَى بْنُ عُمَرَ: النَّافِثَاتِ
جَمْعُ نَافِثَةٍ.
Ya‘qub, ‘Abdurrahman bin Sabith, dan ‘Isa bin ‘Umar
membaca an-nāfiṡāt, yaitu bentuk jamak dari nāfiṡah.
وَقَرَأَ
الْحَسَنُ: النُّفَّاثَاتِ بِضَمِّ النُّونِ.
Al-Hasan membaca an-nuffāṡāt dengan dhammah
pada huruf nun.
وَقَرَأَ
أَبُو الرَّبِيعِ: النَّفَثَاتُ بِدُونِ أَلِفٍ.
Abu Ar-Rabi‘ membaca an-nafaṡāt tanpa alif.
وَمِنْ
شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ، الْحَسَدُ: تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ الَّتِي
أَنْعَمَ اللَّهُ بِهَا عَلَى الْمَحْسُودِ، عَلَى إِيقَاعِ الشَّرِّ بِهِ.
Dan firman-Nya, wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad;
hasad adalah menginginkan lenyapnya nikmat yang Allah berikan kepada orang yang
didengki, disertai keinginan agar keburukan menimpanya.
قَالَ
عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: لَمْ أَرَ ظَالِمًا أَشْبَهَ بِالْمَظْلُومِ مِنْ
حَاسِدٍ.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Aku tidak pernah melihat
seorang zalim yang lebih mirip dengan orang yang dizalimi daripada orang yang
dengki.”
وَقَدْ
نَظَمَ الشَّاعِرُ هَذَا الْمَعْنَى فَقَالَ: قُلْ لِلْحَسُودِ إِذَا تَنَفَّسَ
طَعْنَةً يَا ظَالِمًا وَكَأَنَّهُ مَظْلُومُ.
Seorang penyair menggubah makna ini dengan berkata:
“Katakanlah kepada orang yang dengki ketika ia menghembuskan tusukan
kebenciannya: wahai orang zalim yang seakan-akan dirinya orang yang dizalimi.”
ذَكَرَ
اللَّهُ سُبْحَانَهُ فِي هَذِهِ السُّورَةِ إِرْشَادَ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الِاسْتِعَاذَةِ مِنْ شَرِّ كُلِّ مَخْلُوقَاتِهِ عَلَى
الْعُمُومِ.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam surah ini menyebutkan
petunjuk kepada Rasul-Nya ﷺ
untuk berlindung dari kejahatan seluruh makhluk-Nya secara umum.
ثُمَّ
ذَكَرَ بَعْضَ الشُّرُورِ عَلَى الْخُصُوصِ مَعَ انْدِرَاجِهِ تَحْتَ الْعُمُومِ؛
لِزِيَادَةِ شَرِّهِ وَمَزِيدِ ضُرِّهِ، وَهُوَ الْغَاسِقُ وَالنَّفَّاثَاتُ
وَالْحَاسِدُ.
Kemudian Dia menyebut sebagian bentuk kejahatan secara
khusus, padahal semuanya sudah tercakup dalam keumuman sebelumnya, karena
besarnya keburukan dan beratnya bahayanya, yaitu malam yang gelap, para peniup
pada buhul-buhul, dan orang yang dengki.
فَكَأَنَّ
هَؤُلَاءِ لِمَا فِيهِمْ مِنْ مَزِيدِ الشَّرِّ حَقِيقُونَ بِإِفْرَادِ كُلِّ
وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِالذِّكْرِ.
Seakan-akan mereka ini, karena besarnya unsur kejahatan pada
mereka, memang layak untuk disebutkan masing-masing secara tersendiri.
وَقَدْ
أَخْرَجَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ: صَلَّى بِنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ: قُلْ أَعُوذُ
بِرَبِّ الْفَلَقِ، فَقَالَ: يَا ابْنَ عَبَسَةَ أَتَدْرِي مَا الْفَلَقُ؟ قُلْتُ:
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: بِئْرٌ فِي جَهَنَّمَ.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia
berkata, “Rasulullah ﷺ
mengimami kami dalam salat, lalu beliau membaca: Qul a‘ūdzu
birabbil-falaq. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Ibnu ‘Abasah, tahukah
engkau apa itu al-falaq?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’
Beliau bersabda, ‘Ia adalah sebuah sumur di dalam Jahanam.’”
وَأَخْرَجَهُ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ مِنْ قَوْلِ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ غَيْرَ مَرْفُوعٍ.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya sebagai ucapan ‘Amr bin
‘Abasah sendiri, bukan sebagai hadis marfu‘.
وَأَخْرَجَ
ابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَأْ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، هَلْ
تَدْرِي مَا الْفَلَقُ؟ بَابٌ فِي النَّارِ إِذَا فُتِحَ سُعِّرَتْ جَهَنَّمُ.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia
berkata: Rasulullah ﷺ
berkata kepadaku, “Bacalah Qul a‘ūdzu birabbil-falaq. Tahukah
engkau apa itu al-falaq? Ia adalah sebuah pintu di dalam neraka; apabila
dibuka, Jahanam pun menyala dengan sangat hebat.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ مَرْدَوَيْهِ وَالدَّيْلَمِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
الْعَاصِ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ
قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، فَقَالَ: هُوَ
سِجْنٌ فِي جَهَنَّمَ، يُحْبَسُ فِيهِ الْجَبَّارُونَ وَالْمُتَكَبِّرُونَ،
وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَتَتَعَوَّذُ بِاللَّهِ مِنْهُ.
Ibnu Mardawaih dan Ad-Dailami meriwayatkan dari ‘Abdullah
bin ‘Amr bin Al-‘Ash, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ
tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla: Qul a‘ūdzu birabbil-falaq.
Maka beliau bersabda, ‘Ia adalah sebuah penjara di dalam Jahanam, tempat
orang-orang yang sewenang-wenang dan sombong dipenjarakan di dalamnya. Dan
sungguh Jahanam sendiri meminta perlindungan kepada Allah darinya.’”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: الْفَلَقُ جُبٌّ فِي جَهَنَّمَ.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda, “Al-falaq adalah sebuah sumur di dalam Jahanam.”
وَهَذِهِ
الْأَحَادِيثُ لَوْ كَانَتْ صَحِيحَةً ثَابِتَةً عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَانَ الْمَصِيرُ إِلَيْهَا وَاجِبًا، وَالْقَوْلُ
بِهَا مُتَعَيَّنًا.
Seandainya hadis-hadis ini sahih dan benar-benar tetap
berasal dari Rasulullah ﷺ,
niscaya wajib berpegang kepadanya, dan wajib menetapkan pendapat berdasarkan
hadis-hadis itu.
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: الْفَلَقُ سِجْنٌ فِي جَهَنَّمَ.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
“Al-falaq adalah penjara di dalam Jahanam.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ
عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: الْفَلَقُ الصُّبْحُ.
Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan
dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, “Al-falaq adalah subuh.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مِثْلَهُ.
Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas pendapat yang
sama.
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْهُ قَالَ: الْفَلَقُ
الْخَلْقُ.
Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan
darinya bahwa ia berkata, “Al-falaq adalah makhluk.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ وَأَبُو الشَّيْخِ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ
إِذَا وَقَبَ، قَالَ: النَّجْمُ، هُوَ الْغَاسِقُ، وَهُوَ الثُّرَيَّا.
Ibnu Jarir, Abu Syaikh, dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari
Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ
tentang firman-Nya: wa min syarri ghāsiqin idzā waqab, beliau
bersabda, “Bintang itulah al-ghāsiq, yaitu Tsurayya.”
وَأَخْرَجَهُ
ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْهُ غَيْرَ مَرْفُوعٍ.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya melalui
jalur lain darinya sebagai ucapan biasa, bukan hadis marfu‘.
وَقَدْ
قَدَّمْنَا تَأْوِيلَ هَذَا، وَتَأْوِيلَ مَا وَرَدَ أَنَّ الْغَاسِقَ الْقَمَرُ.
Dan telah kami jelaskan sebelumnya takwil terhadap riwayat
ini, serta takwil terhadap riwayat yang menyebutkan bahwa al-ghāsiq adalah
bulan.
وَأَخْرَجَ
أَبُو الشَّيْخِ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا ارْتَفَعَتِ النُّجُومُ رُفِعَتْ كُلُّ عَاهَةٍ عَنْ
كُلِّ بَلَدٍ.
Abu Syaikh juga meriwayatkan darinya bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda, “Apabila bintang-bintang telah tinggi, maka diangkatlah setiap wabah
dari setiap negeri.”
وَهَذَا
لَوْ صَحَّ لَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْغَاسِقَ هُوَ النَّجْمُ أَوِ
النُّجُومُ.
Seandainya riwayat ini sahih, tetap tidak ada dalil di
dalamnya bahwa al-ghāsiq adalah bintang atau bintang-bintang.
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: وَمِنْ
شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، قَالَ: اللَّيْلُ إِذَا أَقْبَلَ.
Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas
tentang firman-Nya: wa min syarri ghāsiqin idzā waqab, ia berkata,
“Itu adalah malam ketika datang.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ
فِي الْعُقَدِ، قَالَ: السَّاحِرَاتُ.
Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang
firman-Nya: wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad, ia berkata, “Itu
adalah para perempuan penyihir.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ جَرِيرٍ عَنْهُ فِي الْآيَةِ قَالَ: هُوَ مَا خَالَطَ السِّحْرَ مِنَ
الرُّقَى.
Ibnu Jarir meriwayatkan darinya tentang ayat itu, ia
berkata, “Itu adalah ruqyah-ruqyah yang bercampur dengan sihir.”
وَأَخْرَجَ
النَّسَائِيُّ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَقَدَ عُقْدَةً ثُمَّ نَفَثَ
فِيهَا فَقَدْ سَحَرَ، وَمَنْ سَحَرَ فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا
وُكِلَ إِلَيْهِ.
An-Nasa’i dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu Hurairah
bahwa Nabi ﷺ
bersabda, “Barang siapa mengikat satu simpul lalu meniup padanya, maka sungguh
ia telah melakukan sihir. Dan barang siapa melakukan sihir, maka sungguh ia
telah berbuat syirik. Dan barang siapa menggantungkan diri pada sesuatu, maka
ia akan diserahkan kepada sesuatu itu.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ سَعْدٍ وَابْنُ مَاجَهْ وَالْحَاكِمُ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي
فَقَالَ: أَلَا أَرْقِيكَ بِرُقْيَةٍ رَقَانِي بِهَا جِبْرِيلُ؟ فَقُلْتُ: بَلَى
بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، وَاللَّهُ يَشْفِيكَ
مِنْ كُلِّ دَاءٍ فِيكَ، مِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ
حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ، فَرَقَانِي بِهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
Ibnu Sa‘d, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Ibnu Mardawaih
meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi ﷺ datang menjengukku lalu bersabda, ‘Maukah
aku ruqyah engkau dengan ruqyah yang Jibril gunakan untuk meruqyahku?’ Maka aku
berkata, ‘Tentu, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.’ Beliau bersabda,
‘Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dan Allah akan menyembuhkanmu dari setiap
penyakit yang ada padamu, dari kejahatan para peniup pada buhul-buhul, dan dari
kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.’ Lalu beliau meruqyahku
dengannya sebanyak tiga kali.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا
حَسَدَ، قَالَ: نَفْسُ ابْنِ آدَمَ وَعَيْنُهُ.
Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang
firman-Nya: wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad, ia berkata, “Yaitu
jiwa anak Adam dan matanya.”