Surat An Naas Ayat 1-6
سُورَةُ النَّاسِ
وَالْخِلَافُ
فِي كَوْنِهَا مَكِّيَّةً أَوْ مَدَنِيَّةً كَالْخِلَافِ الَّذِي تَقَدَّمَ فِي
سُورَةِ الْفَلَقِ.
Perbedaan pendapat tentang apakah surah ini Makkiyyah atau
Madaniyyah sama seperti perbedaan yang telah disebutkan pada Surah Al-Falaq.
وَأَخْرَجَ
ابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أُنْزِلَ بِمَكَّةَ قُلْ أَعُوذُ
بِرَبِّ النَّاسِ.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Qul
a‘ūdzu birabbin-nās diturunkan di Makkah.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: أُنْزِلَ بِالْمَدِينَةِ قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Az-Zubair, ia berkata,
“Qul a‘ūdzu birabbin-nās diturunkan di Madinah.”
وَقَدْ
قَدَّمْنَا فِي سُورَةِ الْفَلَقِ مَا وَرَدَ فِي سَبَبِ نُزُولِ هَذِهِ
السُّورَةِ، وَمَا وَرَدَ فِي فَضْلِهَا، فَارْجِعْ إِلَيْهِ.
Dan telah kami sebutkan pada Surah Al-Falaq tentang sebab
turunnya surah ini dan tentang keutamaannya, maka rujuklah ke sana.
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
[سُورَةُ
النَّاسِ (١١٤): الْآيَاتُ ١ إِلَى ٦]
[Surah An-Nas (114): ayat 1 sampai 6]
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ١ مَلِكِ النَّاسِ ٢ إِلَٰهِ النَّاسِ ٣ مِنْ شَرِّ
الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ٤ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ٥ مِنَ
الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ٦
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja
manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan pembisik yang bersembunyi, yang
membisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.”
قَرَأَ
الْجُمْهُورُ: قُلْ أَعُوذُ بِالْهَمْزَةِ.
Mayoritas qari membaca qul a‘ūdzu dengan
hamzah.
وَقُرِئَ
بِحَذْفِهَا وَنَقْلِ حَرَكَتِهَا إِلَى اللَّامِ.
Dan ada pula qiraah yang membacanya dengan menghapus hamzah
dan memindahkan harakatnya kepada huruf lam.
وَقَرَأَ
الْجُمْهُورُ بِتَرْكِ الْإِمَالَةِ فِي النَّاسِ، وَقَرَأَ الْكِسَائِيُّ
بِالْإِمَالَةِ.
Mayoritas qari membaca kata an-nās tanpa
imalah, sedangkan Al-Kisa’i membacanya dengan imalah.
وَمَعْنَى
رَبِّ النَّاسِ: مَالِكُ أَمْرِهِمْ وَمُصْلِحُ أَحْوَالِهِمْ.
Makna Rabb an-nās ialah Penguasa urusan
mereka dan Yang memperbaiki keadaan mereka.
وَإِنَّمَا
قَالَ رَبِّ النَّاسِ مَعَ أَنَّهُ رَبُّ جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ لِلدَّلَالَةِ
عَلَى شَرَفِهِمْ، وَلِكَوْنِ الِاسْتِعَاذَةِ وَقَعَتْ مِنْ شَرِّ مَا يُوَسْوِسُ
فِي صُدُورِهِمْ.
Disebutkan Rabb an-nās, padahal Dia adalah Tuhan
seluruh makhluk-Nya, untuk menunjukkan kemuliaan manusia, dan karena permohonan
perlindungan itu berkaitan dengan kejahatan sesuatu yang membisik ke dalam dada
mereka.
وَقَوْلُهُ:
مَلِكِ النَّاسِ عَطْفُ بَيَانٍ جِيءَ بِهِ لِبَيَانِ أَنَّ رَبِّيَّتَهُ
سُبْحَانَهُ لَيْسَتْ كَرُبُوبِيَّةِ سَائِرِ الْمُلَّاكِ لِمَا تَحْتَ
أَيْدِيهِمْ مِمَّا يَمْلِكُونَهُ، بَلْ بِطَرِيقِ الْمُلْكِ الْكَامِلِ،
وَالسُّلْطَانِ الْقَاهِرِ.
Firman-Nya, Malik an-nās, adalah ‘athf
bayan yang disebutkan untuk menjelaskan bahwa rububiyah-Nya, Mahasuci
Dia, tidak seperti rububiyah para pemilik lainnya terhadap apa yang ada di
bawah kekuasaan mereka dari harta milik mereka; melainkan dengan kerajaan yang
sempurna dan kekuasaan yang mutlak menundukkan.
إِلَٰهِ
النَّاسِ هُوَ أَيْضًا عَطْفُ بَيَانٍ كَالَّذِي قَبْلَهُ لِبَيَانِ أَنَّ
رُبُوبِيَّتَهُ وَمُلْكَهُ قَدِ انْضَمَّ إِلَيْهِمَا الْمَعْبُودِيَّةُ
الْمُؤَسَّسَةُ عَلَى الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُقْتَضِيَةِ لِلْقُدْرَةِ التَّامَّةِ
عَلَى التَّصَرُّفِ الْكُلِّيِّ بِالْإِيجَادِ وَالْإِعْدَامِ.
Firman-Nya, Ilāh an-nās, juga merupakan ‘athf
bayan sebagaimana sebelumnya, untuk menjelaskan bahwa rububiyah dan
kerajaan-Nya disertai pula dengan sifat sebagai sesembahan, yang dibangun di
atas uluhiyah, yang menuntut kekuasaan sempurna atas pengaturan yang
menyeluruh, baik dengan mengadakan maupun meniadakan.
وَأَيْضًا
الرَّبُّ قَدْ يَكُونُ مَلِكًا، وَقَدْ لَا يَكُونُ مَلِكًا، كَمَا يُقَالُ: رَبُّ
الدَّارِ وَرَبُّ الْمَتَاعِ.
Selain itu, kata rabb terkadang berarti
pemilik yang juga raja, dan terkadang tidak berarti raja, seperti
ungkapan rabb ad-dār dan rabb al-matā‘.
وَمِنْهُ
قَوْلُهُ: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ
اللَّهِ.
Di antaranya adalah firman Allah: “Mereka menjadikan
orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”
فَبَيَّنَ
أَنَّهُ مَلِكُ النَّاسِ.
Maka Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Raja manusia.
ثُمَّ
الْمَلِكُ قَدْ يَكُونُ إِلَهًا، وَقَدْ لَا يَكُونُ، فَبَيَّنَ أَنَّهُ إِلَهٌ؛
لِأَنَّ اسْمَ الْإِلَهِ خَاصٌّ بِهِ لَا يُشَارِكُهُ فِيهِ أَحَدٌ.
Kemudian seorang raja terkadang menjadi sesembahan, dan
terkadang tidak. Maka Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Ilah, karena
nama Ilah itu khusus bagi-Nya, tidak ada seorang pun yang
menyekutui-Nya dalam hal itu.
وَأَيْضًا
بَدَأَ بِاسْمِ الرَّبِّ، وَهُوَ اسْمٌ لِمَنْ قَامَ بِتَدْبِيرِهِ وَإِصْلَاحِهِ
مِنْ أَوَائِلِ عُمُرِهِ إِلَى أَنْ صَارَ عَاقِلًا كَامِلًا.
Dan juga, Dia memulai dengan nama Rabb, yaitu
nama bagi Zat yang mengurus dan memperbaiki seseorang sejak awal usianya hingga
ia menjadi orang yang berakal dan sempurna.
فَحِينَئِذٍ
عَرَفَ بِالدَّلِيلِ أَنَّهُ عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، فَذَكَرَ أَنَّهُ مَلِكُ النَّاسِ.
Pada saat itu manusia mengetahui dengan dalil bahwa dirinya
adalah hamba yang dimiliki, maka disebutkanlah bahwa Dia adalah Raja manusia.
ثُمَّ
لَمَّا عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَةَ لَازِمَةٌ لَهُ وَوَاجِبَةٌ عَلَيْهِ، وَأَنَّهُ
عَبْدٌ مَخْلُوقٌ، وَأَنَّ خَالِقَهُ إِلَهٌ مَعْبُودٌ، بَيَّنَ سُبْحَانَهُ
أَنَّهُ إِلَٰهُ النَّاسِ.
Kemudian ketika manusia mengetahui bahwa ibadah itu pasti
baginya dan wajib atasnya, bahwa dia adalah hamba yang diciptakan, dan bahwa
Penciptanya adalah Tuhan yang disembah, Allah Yang Mahasuci menjelaskan bahwa
Dia adalah Sesembahan manusia.
وَكَرَّرَ
لَفْظَ النَّاسِ فِي الثَّلَاثَةِ الْمَوَاضِعِ؛ لِأَنَّ عَطْفَ الْبَيَانِ
يَحْتَاجُ إِلَى مَزِيَّةِ الْإِظْهَارِ، وَلِأَنَّ التَّكْرِيرَ يَقْتَضِي
مَزِيدَ شَرَفِ النَّاسِ.
Kata an-nās diulang pada tiga tempat itu,
karena ‘athf bayan memerlukan penegasan yang lebih jelas, dan
karena pengulangan itu menunjukkan tambahan kemuliaan manusia.
مِنْ
شَرِّ الْوَسْوَاسِ، قَالَ الْفَرَّاءُ: هُوَ بِفَتْحِ الْوَاوِ بِمَعْنَى
الِاسْمِ، أَيِ: الْمُوَسْوِسِ، وَبِكَسْرِهَا الْمَصْدَرُ، أَيِ: الْوَسْوَسَةُ،
كَالزِّلْزَالِ بِمَعْنَى الزَّلْزَلَةِ.
Tentang firman-Nya, min syarril-waswās;
Al-Farra’ berkata, “Dengan fathah pada huruf waw, ia bermakna isim, yaitu
pembisik. Dan dengan kasrah, ia bermakna mashdar, yaitu bisikan, seperti az-zilzāl yang
bermakna az-zalzalah.”
وَقِيلَ:
هُوَ بِالْفَتْحِ اسْمٌ بِمَعْنَى الْوَسْوَسَةِ.
Dan dikatakan, dengan fathah ia adalah isim yang bermakna
bisikan.
وَالْوَسْوَسَةُ
هِيَ حَدِيثُ النَّفْسِ.
Waswasah adalah bisikan dalam jiwa.
يُقَالُ:
وَسْوَسَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ وَسْوَسَةً، أَيْ: حَدَّثَتْهُ حَدِيثًا.
Dikatakan, waswasat ilaihi nafsuhu waswasatan,
artinya jiwanya membisikkan sesuatu kepadanya.
وَأَصْلُهَا
الصَّوْتُ الْخَفِيُّ.
Asal maknanya adalah suara yang samar.
وَمِنْهُ
قِيلَ: لِأَصْوَاتِ الْحَلْيِ وَسْوَاسٌ.
Karena itu, suara perhiasan pun disebut waswās.
وَمِنْهُ
قَوْلُ الْأَعْشَى: تَسْمَعُ لِلْحَلْيِ وَسْوَاسًا إِذَا انْصَرَفَتْ.
Di antaranya adalah perkataan Al-A‘sha: “Engkau mendengar
gemerincing perhiasan ketika ia berbalik pergi.”
قَالَ
الزَّجَّاجُ: الْوَسْوَاسُ هُوَ الشَّيْطَانُ، أَيْ: ذُو الْوَسْوَاسِ.
Az-Zajjaj berkata, “Al-waswās adalah setan, yakni yang
memiliki sifat suka membisik.”
وَيُقَالُ:
إِنَّ الْوَسْوَاسَ ابْنٌ لِإِبْلِيسَ.
Dan dikatakan, al-waswās adalah anak Iblis.
وَقَدْ
سَبَقَ تَحْقِيقُ مَعْنَى الْوَسْوَسَةِ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ: فَوَسْوَسَ
لَهُمَا الشَّيْطَانُ.
Penjelasan makna waswasah telah disebutkan sebelumnya pada
tafsir firman-Nya: “Lalu setan membisikkan kepada keduanya.”
وَمَعْنَى
الْخَنَّاسِ: كَثِيرُ الْخُنُوسِ، وَهُوَ التَّأَخُّرُ.
Makna al-khannās ialah yang banyak
bersembunyi atau mundur, yaitu yang selalu menarik diri.
يُقَالُ:
خَنَسَ يَخْنِسُ إِذَا تَأَخَّرَ.
Dikatakan, khanasa yakhnisu apabila ia
mundur atau menyusut ke belakang.
وَمِنْهُ
قَوْلُ أَبِي الْعَلَاءِ الْحَضْرَمِيِّ يَمْدَحُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنْ دَحَسُوا بِالشَّرِّ فَاعْفُ تَكَرُّمًا، وَإِنْ
خَنَسُوا عِنْدَ الْحَدِيثِ فَلَا تَسَلْ.
Di antaranya adalah perkataan Abu Al-‘Ala’ Al-Hadhrami dalam
memuji Rasulullah ﷺ:
“Jika mereka menyembunyikan keburukan, maka maafkanlah dengan kemurahanmu; dan
jika mereka mundur ketika berbicara, maka janganlah engkau bertanya lagi.”
قَالَ
مُجَاهِدٌ: إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ خَنَسَ وَانْقَبَضَ، وَإِذَا لَمْ يُذْكَرِ
انْبَسَطَ عَلَى الْقَلْبِ.
Mujahid berkata, “Apabila Allah disebut, ia mundur dan
mengempis; dan apabila Allah tidak disebut, ia membentang di atas hati.”
وَوُصِفَ
بِالْخَنَّاسِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ الِاخْتِفَاءِ.
Ia disifati dengan al-khannās karena sangat
sering bersembunyi.
وَمِنْهُ
قَوْلُهُ تَعَالَى: فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ، يَعْنِي النُّجُومَ
لِاخْتِفَائِهَا بَعْدَ ظُهُورِهَا كَمَا تَقَدَّمَ.
Dan di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka Aku
bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam,” yaitu
bintang-bintang karena tersembunyinya setelah tampak, sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya.
وَقِيلَ:
الْخَنَّاسُ اسْمٌ لِابْنِ إِبْلِيسَ، كَمَا تَقَدَّمَ فِي الْوَسْوَاسِ.
Dan dikatakan, al-khannās adalah nama salah
satu anak Iblis, sebagaimana telah disebutkan pada al-waswās.
الَّذِي
يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، الْمَوْصُولُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ فِي مَحَلِّ
جَرٍّ نَعْتًا لِلْوَسْوَاسِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَنْصُوبًا عَلَى الذَّمِّ،
وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَرْفُوعًا عَلَى تَقْدِيرِ مُبْتَدَأٍ.
Frasa alladzī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās; isim
maushul ini boleh berkedudukan majrur sebagai sifat bagi al-waswās,
boleh pula manshub sebagai celaan, dan boleh pula marfu‘ dengan perkiraan
adanya mubtada.
وَقَدْ
تَقَدَّمَ مَعْنَى الْوَسْوَسَةِ.
Dan makna waswasah telah dijelaskan sebelumnya.
قَالَ
قَتَادَةُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَهُ خُرْطُومٌ كَخُرْطُومِ الْكَلْبِ فِي صَدْرِ
الْإِنْسَانِ، فَإِذَا غَفَلَ ابْنُ آدَمَ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَسْوَسَ لَهُ،
وَإِذَا ذَكَرَ الْعَبْدُ رَبَّهُ خَنَسَ.
Qatadah berkata, “Sesungguhnya setan memiliki semacam
moncong seperti moncong anjing di dalam dada manusia. Maka apabila anak Adam
lalai dari mengingat Allah, ia membisikkan kepadanya. Dan apabila seorang hamba
mengingat Tuhannya, ia pun mundur.”
قَالَ
مُقَاتِلٌ: إِنَّ الشَّيْطَانَ فِي صُورَةِ خِنْزِيرٍ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ
مَجْرَى الدَّمِ فِي عُرُوقِهِ، سَلَّطَهُ اللَّهُ عَلَى ذَلِكَ، وَوَسْوَسَتُهُ
هِيَ الدُّعَاءُ إِلَى طَاعَتِهِ بِكَلَامٍ خَفِيٍّ يَصِلُ إِلَى الْقَلْبِ مِنْ
غَيْرِ سَمَاعِ صَوْتٍ.
Muqatil berkata, “Sesungguhnya setan dalam rupa babi
mengalir pada diri anak Adam seperti aliran darah dalam urat-uratnya. Allah
memberinya kekuasaan untuk itu. Dan bisikannya adalah ajakan untuk menaati
dirinya dengan perkataan yang samar, yang sampai ke hati tanpa terdengar
suaranya.”
ثُمَّ
بَيَّنَ سُبْحَانَهُ الَّذِي يُوَسْوِسُ بِأَنَّهُ ضَرْبَانِ: جِنِّيٌّ
وَإِنْسِيٌّ، فَقَالَ: مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
Kemudian Allah Yang Mahasuci menjelaskan bahwa pembisik itu
ada dua jenis: dari golongan jin dan dari golongan manusia. Maka Dia
berfirman: minal-jinnati wan-nās.
أَمَّا
شَيْطَانُ الْجِنِّ فَيُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ.
Adapun setan dari golongan jin, maka ia membisikkan ke dalam
dada manusia.
وَأَمَّا
شَيْطَانُ الْإِنْسِ فَوَسْوَسَتُهُ فِي صُدُورِ النَّاسِ أَنَّهُ يَرَى نَفْسَهُ
كَالنَّاصِحِ الْمُشْفِقِ، فَيُوقِعُ فِي الصَّدْرِ مِنْ كَلَامِهِ الَّذِي
أَخْرَجَهُ مَخْرَجَ النَّصِيحَةِ مَا يُوقِعُ الشَّيْطَانُ فِيهِ بِوَسْوَسَتِهِ.
Adapun setan dari golongan manusia, maka bisikannya ke dalam
dada manusia adalah dengan menampilkan dirinya seolah-olah sebagai penasihat
yang penuh kasih, lalu ia memasukkan ke dalam dada melalui ucapannya yang
dibungkus sebagai nasihat, sesuatu yang sama dengan apa yang dimasukkan setan
melalui bisikannya.
كَمَا
قَالَ سُبْحَانَهُ: شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ.
Sebagaimana Allah Yang Mahasuci berfirman: “setan-setan dari
golongan manusia dan jin.”
وَيَجُوزُ
أَنْ يَكُونَ مُتَعَلِّقًا بِـيُوَسْوِسُ، أَيْ: يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِهِمْ مِنْ
جِهَةِ الْجِنَّةِ وَمِنْ جِهَةِ النَّاسِ.
Dan boleh jadi frasa itu berkaitan dengan kata yuwaswisu,
yaitu: ia membisikkan ke dalam dada mereka dari arah jin dan dari arah manusia.
وَيَجُوزُ
أَنْ يَكُونَ بَيَانًا لِلنَّاسِ.
Dan boleh juga menjadi penjelas bagi kata an-nās.
قَالَ
الرَّازِيُّ: وَقَالَ قَوْمٌ: مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ قِسْمَانِ مُنْدَرِجَانِ
تَحْتَ قَوْلِهِ: فِي صُدُورِ النَّاسِ، لِأَنَّ الْقَدْرَ الْمُشْتَرَكَ بَيْنَ
الْجِنِّ وَالْإِنْسِ يُسَمَّى إِنْسَانًا، وَالْإِنْسَانُ أَيْضًا يُسَمَّى
إِنْسَانًا، فَيَكُونُ لَفْظُ الْإِنْسَانِ وَاقِعًا عَلَى الْجِنْسِ وَالنَّوْعِ
بِالِاشْتِرَاكِ.
Ar-Razi berkata, “Sebagian kaum berkata: frasa minal-jinnati
wan-nās adalah dua bagian yang termasuk dalam firman-Nya fī ṣudūrin-nās,
karena unsur yang sama antara jin dan manusia dapat disebut insan, dan manusia
juga disebut insan. Maka lafaz insan dapat digunakan untuk jenis umum dan jenis
khusus secara bersamaan.”
وَالدَّلِيلُ
عَلَى أَنَّ لَفْظَ الْإِنْسَانِ يَنْدَرِجُ فِيهِ لَفْظُ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ
مَا رُوِيَ أَنَّهُ جَاءَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ، فَقِيلَ لَهُمْ: مَنْ أَنْتُمْ؟
قَالُوا: نَاسٌ مِنَ الْجِنِّ.
Dalil bahwa lafaz insan dapat mencakup manusia dan jin
adalah riwayat bahwa sekelompok jin datang, lalu dikatakan kepada mereka,
“Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah manusia dari golongan jin.”
وَأَيْضًا
قَدْ سَمَّاهُمُ اللَّهُ رِجَالًا فِي قَوْلِهِ: وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ
الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ.
Dan juga Allah telah menyebut mereka dengan kata rijāl pada
firman-Nya: “Dan sesungguhnya ada beberapa laki-laki dari golongan manusia yang
meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari golongan jin.”
وَقِيلَ:
يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ: أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مِنَ الْوَسْوَاسِ
الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، وَمِنَ الْجِنَّةِ
وَالنَّاسِ.
Dan dikatakan, boleh jadi maksudnya adalah: aku berlindung
kepada Tuhan manusia dari setan pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke
dalam dada manusia, dan dari jin serta manusia.
كَأَنَّهُ
اسْتَعَاذَ رَبَّهُ مِنْ ذَلِكَ الشَّيْطَانِ الْوَاحِدِ، ثُمَّ اسْتَعَاذَ
بِرَبِّهِ مِنْ جَمِيعِ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
Seakan-akan ia meminta perlindungan kepada Tuhannya dari
setan yang satu itu, kemudian meminta perlindungan kepada Tuhannya dari seluruh
jin dan manusia.
وَقِيلَ:
الْمُرَادُ بِالنَّاسِ النَّاسِي، وَسَقَطَتِ الْيَاءُ كَسُقُوطِهَا فِي قَوْلِهِ:
يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ.
Dan dikatakan, yang dimaksud dengan an-nās adalah an-nāsī (orang
yang lupa), lalu huruf ya dihilangkan sebagaimana penghilangannya pada
firman-Nya: yauma yad‘ud-dā‘.
ثُمَّ
بَيَّنَ بِالْجِنَّةِ وَالنَّاسِ؛ لِأَنَّ كُلَّ فَرْدٍ مِنْ أَفْرَادِ
الْفَرِيقَيْنِ فِي الْغَالِبِ مُبْتَلًى بِالنِّسْيَانِ.
Kemudian dijelaskan dengan frasa minal-jinnati
wan-nās, karena setiap individu dari dua golongan itu pada umumnya ditimpa
kelupaan.
وَأَحْسَنُ
مِنْ هَذَا أَنْ يَكُونَ قَوْلُهُ: وَالنَّاسِ مَعْطُوفًا عَلَى الْوَسْوَاسِ،
أَيْ: مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ وَمِنْ شَرِّ النَّاسِ، كَأَنَّهُ أُمِرَ أَنْ
يَسْتَعِيذَ مِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ.
Pendapat yang lebih baik dari ini adalah bahwa
firman-Nya wan-nās di-athaf-kan kepada al-waswās,
yaitu: dari kejahatan pembisik dan dari kejahatan manusia; seakan-akan ia
diperintahkan untuk berlindung dari kejahatan jin dan manusia.
قَالَ
الْحَسَنُ: أَمَّا شَيْطَانُ الْجِنِّ فَيُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ،
وَأَمَّا شَيْطَانُ الْإِنْسِ فَيَأْتِي عَلَانِيَةً.
Al-Hasan berkata, “Adapun setan dari golongan jin, ia
membisikkan ke dalam dada manusia; sedangkan setan dari golongan manusia, ia
datang secara terang-terangan.”
وَقَالَ
قَتَادَةُ: إِنَّ مِنَ الْجِنِّ شَيَاطِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِنْسِ شَيَاطِينَ،
فَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ.
Qatadah berkata, “Sesungguhnya dari golongan jin ada
setan-setan, dan dari golongan manusia juga ada setan-setan. Maka kita
berlindung kepada Allah dari setan-setan jin dan manusia.”
وَقِيلَ:
إِنَّ إِبْلِيسَ يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ الْجِنِّ كَمَا يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ
الْإِنْسِ.
Dan dikatakan, sesungguhnya Iblis membisikkan ke dalam dada
jin sebagaimana ia membisikkan ke dalam dada manusia.
وَوَاحِدُ
الْجِنَّةِ: جِنِّيٌّ، كَمَا أَنَّ وَاحِدَ الْإِنْسِ: إِنْسِيٌّ.
Bentuk tunggal dari al-jinnah adalah jinni,
sebagaimana bentuk tunggal dari al-ins adalah insi.
وَالْقَوْلُ
الْأَوَّلُ هُوَ أَرْجَحُ هَذِهِ الْأَقْوَالِ، وَإِنْ كَانَ وَسْوَسَةُ الْإِنْسِ
فِي صُدُورِ النَّاسِ لَا تَكُونُ إِلَّا بِالْمَعْنَى الَّذِي قَدَّمْنَا.
Pendapat yang pertama adalah yang lebih kuat di antara
pendapat-pendapat ini, meskipun bisikan manusia ke dalam dada manusia hanya
terjadi dengan makna yang telah kami sebutkan sebelumnya.
وَيَكُونُ
هَذَا الْبَيَانُ تَذْكِيرًا لِلثَّقَلَيْنِ لِلْإِرْشَادِ إِلَى أَنَّ مَنِ
اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ مِنْهُمَا ارْتَفَعَتْ عَنْهُ مِحَنُ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ.
Dan penjelasan ini menjadi peringatan bagi dua golongan
makhluk yang dibebani syariat, untuk menunjukkan bahwa siapa yang berlindung
kepada Allah dari keduanya, maka akan terangkat darinya berbagai cobaan dunia
dan akhirat.
وَقَدْ
أَخْرَجَ ابْنُ أَبِي دَاوُدَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: الْوَسْوَاسِ
الْخَنَّاسِ، قَالَ: مَثَلُ الشَّيْطَانِ كَمَثَلِ ابْنِ عُرْسٍ، وَاضِعٌ فَمَهُ
عَلَى فَمِ الْقَلْبِ فَيُوَسْوِسُ إِلَيْهِ، فَإِنْ ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ،
وَإِنْ سَكَتَ عَادَ إِلَيْهِ، فَهُوَ الْوَسْوَاسُ الْخَنَّاسُ.
Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang
firman-Nya al-waswās al-khannās, ia berkata, “Perumpamaan setan itu
seperti musang, yang meletakkan mulutnya di atas mulut hati lalu membisikkan
kepadanya. Jika seseorang mengingat Allah, ia mundur; dan jika ia diam, ia
kembali lagi. Itulah al-waswās al-khannās.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي مَكَائِدِ الشَّيْطَانِ، وَأَبُو يَعْلَى، وَابْنُ
شَاهِينٍ، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ، عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ وَاضِعٌ خَطْمَهُ عَلَى
قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِنْ ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ، وَإِنْ نَسِيَهُ الْتَقَمَ
قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الْوَسْوَاسُ الْخَنَّاسُ.
Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Makā’id asy-Syaithān,
Abu Ya‘la, Ibnu Syahin, dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu‘ab meriwayatkan
dari Anas, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda, “Sesungguhnya setan meletakkan moncongnya di atas hati anak
Adam. Jika ia mengingat Allah, setan itu mundur. Dan jika ia melupakan-Nya, ia
menelan hatinya. Itulah al-waswās al-khannās.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
فِي قَوْلِهِ: الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، قَالَ: الشَّيْطَانُ جَاثٍ عَلَى قَلْبِ
ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ.
Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir, dan Ibnu Mardawaih
meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya al-waswās al-khannās,
ia berkata, “Setan duduk menempel pada hati anak Adam. Jika ia lalai dan
lengah, setan membisikkan kepadanya. Dan jika ia mengingat Allah, setan itu
mundur.”
وَأَخْرَجَ
ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَالْحَاكِمُ
وَصَحَّحَهُ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ وَالضِّيَاءُ فِي الْمُخْتَارَةِ
وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْهُ قَالَ: مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا عَلَى قَلْبِهِ
الْوَسْوَاسُ، فَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ، وَإِذَا غَفَلَ وَسْوَسَ، فَذَلِكَ
قَوْلُهُ: الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ.
Ibnu Abi Ad-Dunya, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, Al-Hakim —
dan ia mensahihkannya — Ibnu Mardawaih, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtārah,
dan Al-Baihaqi meriwayatkan darinya, ia berkata, “Tidak ada seorang bayi pun
yang dilahirkan kecuali pada hatinya ada pembisik. Jika ia mengingat Allah,
pembisik itu mundur. Dan jika ia lalai, ia membisikkan. Itulah makna
firman-Nya: al-waswās al-khannās.”
وَقَدْ
وَرَدَ فِي مَعْنَى هَذَا غَيْرُهُ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ مُطْلَقَ ذِكْرِ اللَّهِ
يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى طَرِيقِ الِاسْتِعَاذَةِ.
Dan telah datang riwayat-riwayat lain dengan makna yang
sama. Tampak dari semuanya bahwa zikir kepada Allah secara mutlak dapat
mengusir setan, walaupun bukan dalam bentuk isti‘adzah secara khusus.
وَلِذِكْرِ
اللَّهِ سُبْحَانَهُ فَوَائِدُ جَلِيلَةٌ، حَاصِلُهَا: الْفَوْزُ بِخَيْرَيِ
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Dan zikir kepada Allah Yang Mahasuci memiliki manfaat yang
agung, yang intinya adalah memperoleh dua kebaikan: kebaikan dunia dan akhirat.
وَإِلَى
هُنَا انْتَهَى هَذَا التَّفْسِيرُ الْمُبَارَكُ بِقَلَمِ مُؤَلِّفِهِ مُحَمَّدِ
بْنِ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدٍ الشَّوْكَانِيِّ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ.
Sampai di sini berakhirlah tafsir yang penuh berkah ini,
yang ditulis oleh pengarangnya, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani,
semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.
وَكَانَ
الْفَرَاغُ مِنْهُ فِي ضَحْوَةِ يَوْمِ السَّبْتِ لَعَلَّهُ الثَّامِنُ
وَالْعِشْرُونَ مِنْ شَهْرِ رَجَبٍ، أَحَدِ شُهُورِ سَنَةِ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ
بَعْدَ مِائَتَيْنِ وَأَلْفِ سَنَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ.
Penulisan ini selesai pada waktu dhuha hari Sabtu, tampaknya
tanggal dua puluh delapan bulan Rajab, salah satu bulan pada tahun dua ratus
dua puluh sembilan setelah seribu tahun dari Hijrah Nabi.
اللَّهُمَّ
كَمَا مَنَنْتَ عَلَيَّ بِإِكْمَالِ هَذَا التَّفْسِيرِ، وَأَعَنْتَنِي عَلَى
تَحْصِيلِهِ، وَتَفَضَّلْتَ عَلَيَّ بِالْفَرَاغِ مِنْهُ، فَامْنُنْ عَلَيَّ
بِقَبُولِهِ، وَاجْعَلْهُ لِي ذُخْرًا عِنْدَكَ.
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menganugerahkan kepadaku
penyempurnaan tafsir ini, menolongku untuk menghimpunkannya, dan melimpahkan
karunia kepadaku dengan menyelesaikannya, maka anugerahkan pula kepadaku
penerimaan atasnya, dan jadikanlah ia sebagai simpanan pahala bagiku di
sisi-Mu.
وَأَجْزِلْ
لِيَ الْمَثُوبَةَ بِمَا لَاقَيْتُهُ مِنَ التَّعَبِ وَالنَّصَبِ فِي تَحْرِيرِهِ
وَتَقْرِيرِهِ.
Dan limpahkanlah kepadaku pahala yang banyak atas segala
keletihan dan kepayahan yang aku alami dalam menyusun dan menegaskannya.
وَانْفَعْ
بِهِ مَنْ شِئْتَ مِنْ عِبَادِكَ؛ لِيَدُومَ لِيَ الِانْتِفَاعُ بِهِ بَعْدَ
مَوْتِي، فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْمَقْصِدُ الْجَلِيلُ مِنَ التَّصْنِيفِ.
Dan berilah manfaat dengannya kepada siapa saja yang Engkau
kehendaki dari hamba-hamba-Mu, agar manfaatnya terus mengalir bagiku setelah
kematianku. Sesungguhnya itulah tujuan agung dari penulisan.
وَاجْعَلْهُ
خَالِصًا لَكَ، وَتَجَاوَزْ عَنِّي إِذَا خَطَرَ لِي مِنْ خَوَاطِرِ السُّوءِ مَا
فِيهِ شَائِبَةٌ تُخَالِفُ الْإِخْلَاصَ.
Dan jadikanlah ia ikhlas semata-mata karena-Mu, serta
maafkanlah aku jika terlintas dalam benakku berbagai bisikan buruk yang
mengandung noda yang bertentangan dengan keikhlasan.
وَاغْفِرْ
لِي مَا لَا يُطَابِقُ مُرَادَكَ، فَإِنِّي لَمْ أَقْصِدْ فِي جَمِيعِ أَبْحَاثِي
فِيهِ إِلَّا إِصَابَةَ الْحَقِّ وَمُوَافَقَةَ مَا تَرْضَاهُ.
Dan ampunilah aku atas apa yang tidak sesuai dengan
kehendak-Mu, karena sesungguhnya dalam seluruh pembahasan di dalamnya aku tidak
bermaksud selain untuk mencapai kebenaran dan menyesuaikan dengan apa yang
Engkau ridhai.
فَإِنْ
أَخْطَأْتُ فَأَنْتَ غَافِرُ الْخَطِيئَاتِ، وَمُسْبِلُ ذَيْلِ السِّتْرِ عَلَى
الْهَفَوَاتِ، يَا بَارِئَ الْبَرِيَّاتِ.
Maka jika aku keliru, Engkaulah Pengampun segala kesalahan,
dan Engkaulah yang membentangkan tabir penutup atas segala kekhilafan, wahai
Pencipta seluruh makhluk.
وَأَحْمَدُكَ
لَا أُحْصِي حَمْدًا لَكَ، وَأَشْكُرُكَ لَا أُحْصِي شُكْرَكَ، أَنْتَ كَمَا
أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
Dan aku memuji-Mu; aku tidak mampu menghitung pujian
bagi-Mu. Aku juga bersyukur kepada-Mu; aku tidak mampu menghitung syukur
kepada-Mu. Engkau sebagaimana Engkau sendiri memuji diri-Mu.
وَأُصَلِّي
وَأُسَلِّمُ عَلَى رَسُولِكَ.
Dan aku bersalawat serta mengucapkan salam kepada Rasul-Mu.
تَمَّ
سَمَاعًا عَلَى مُؤَلِّفِهِ، حَفِظَ اللَّهُ عِزَّتَهُ، يَوْمَ الِاثْنَيْنِ
صُبْحَ الْيَوْمِ الْخَامِسِ مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ سَنَةَ ١٢٤١ هـ.
Selesai dibacakan di hadapan pengarangnya — semoga Allah
menjaga kemuliaannya — pada hari Senin pagi, tanggal lima bulan Rabiul Awwal
tahun 1241 H.
كَتَبَهُ
يَحْيَى بْنُ عَلِيٍّ الشَّوْكَانِيُّ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُمَا.
Ditulis oleh Yahya bin ‘Ali Asy-Syaukani. Semoga Allah
mengampuni keduanya.