Al Baqarah Ayat 78-82
[سُورَةُ البَقَرَةِ (2): الآيَاتُ 78 إِلَى 82]
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ٧٨
Dan di antara mereka ada orang-orang yang ummi,
yang tidak mengetahui Kitab kecuali angan-angan kosong.
Mereka tidak lain hanyalah berprasangka.
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ ٧٩
Maka celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka sendiri,
kemudian mereka berkata, “Ini dari sisi Allah,”
untuk membeli (mendapatkan) dengan itu harga yang sedikit.
Maka celakalah mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka,
dan celakalah mereka karena apa yang mereka peroleh.
وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٨٠
Dan mereka berkata, “Api neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.”
Katakanlah, “Apakah kalian telah mengambil suatu perjanjian di sisi Allah,
sehingga Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya?
Ataukah kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?”
بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ٨١
Tidak demikian (bukan seperti itu).
Barangsiapa melakukan satu kejahatan,
dan dosa (kesalahannya) itu meliputi dirinya,
maka mereka itulah penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ٨٢
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh,
mereka itulah penghuni surga;
mereka kekal di dalamnya.
---
قَوْلُهُ: وَمِنْهُمْ
Firman-Nya: “Dan di antara mereka…”
أَيْ مِنَ الْيَهُودِ.
yakni: dari kalangan orang-orang Yahudi.
وَالْأُمِّيُّ مَنْسُوبٌ إِلَى الْأُمَّةِ الْأُمِّيَّةِ
Kata “ummi” dinisbatkan kepada umat yang ummiyyah,
الَّتِي هِيَ عَلَى أَصْلِ وِلَادَتِهَا مِنْ أُمَّهَاتِهَا
yaitu yang berada di atas keadaan asal kelahirannya dari para ibu mereka,
لَمْ تَتَعَلَّمِ الْكِتَابَةَ وَلَا تُحْسِنُ الْقِرَاءَةَ لِلْمَكْتُوبِ،
belum belajar menulis, dan tidak pandai membaca tulisan.
وَمِنْهُ حَدِيثُ: «إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ».
Di antaranya adalah hadis: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak menulis dan tidak menghitung.”
وَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ:
Abu ‘Ubaidah berkata:
إِنَّمَا قِيلَ لَهُمْ أُمِّيُّونَ لِنُزُولِ الْكِتَابِ عَلَيْهِمْ،
“Sesungguhnya mereka disebut ummiyyun karena turunnya Kitab kepada mereka,
كَأَنَّهُمْ نُسِبُوا إِلَى أُمِّ الْكِتَابِ،
seakan-akan mereka dinisbatkan kepada Umm al-Kitāb (induk kitab),
فَكَأَنَّهُ قَالَ: وَمِنْهُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ».
sehingga seakan-akan (ayat itu) berkata: ‘Dan di antara mereka adalah ahli kitab.’”
وَقِيلَ: هُمْ نَصَارَى الْعَرَبِ،
Ada yang berpendapat: mereka adalah orang-orang Nasrani Arab.
وَقِيلَ: هُمْ قَوْمٌ كَانُوا أَهْلَ كِتَابٍ، فَرُفِعَ كِتَابُهُمْ لِذُنُوبٍ ارْتَكَبُوهَا،
Ada juga yang berpendapat: mereka adalah satu kaum yang dulunya ahli kitab,
lalu kitab mereka diangkat (dicabut) karena dosa-dosa yang mereka lakukan.
وَقِيلَ: هُمُ الْمَجُوسُ،
Ada pula yang mengatakan: mereka adalah kaum Majusi.
وَقِيلَ غَيْرُ ذٰلِكَ،
Dan ada lagi pendapat-pendapat lain selain itu.
وَالرَّاجِحُ الْأَوَّلُ.
Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama (bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi ummi).
---
وَمَعْنَى: لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ
Makna firman-Nya: “Mereka tidak mengetahui Kitab kecuali angan-angan (amaniyy)”
أَنَّهُ لَا عِلْمَ لَهُمْ بِهِ
adalah bahwa mereka tidak memiliki ilmu tentang Kitab itu,
إِلَّا مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنَ الْأَمَانِيِّ الَّتِي يَتَمَنَّوْنَهَا وَيُعَلِّلُونَ بِهَا أَنْفُسَهُمْ.
kecuali berupa angan-angan yang mereka harap-harapkan dan yang mereka jadikan penghibur bagi diri mereka.
وَالْأَمَانِيُّ: جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ،
“Kata al-amāniyy” adalah bentuk jamak dari “umniyyah”,
وَهِيَ مَا يَتَمَنَّاهُ الْإِنْسَانُ لِنَفْسِهِ.
yakni sesuatu yang diangan-angankan manusia bagi dirinya.
فَهَؤُلَاءِ لَا عِلْمَ لَهُمْ بِالْكِتَابِ الَّذِي هُوَ التَّوْرَاةُ
Maka mereka ini tidak memiliki pengetahuan tentang Kitab, yaitu Taurat,
لِمَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ كَوْنِهِمْ لَا يَكْتُبُونَ وَلَا يَقْرَؤُونَ الْمَكْتُوبَ،
karena keadaan mereka yang tidak menulis dan tidak membaca tulisan.
وَالِاسْتِثْنَاءُ مُنْقَطِعٌ:
Pola istitsnā’ (pengecualian) di sini adalah munqathi‘ (terputus),
أَيْ لٰكِنَّ الْأَمَانِيَّ ثَابِتَةٌ لَهُمْ
yakni: “Akan tetapi angan-angan itu tetap ada pada mereka,
مِنْ كَوْنِهِمْ مَغْفُورًا لَهُمْ
berupa keyakinan bahwa mereka pasti diampuni,
بِمَا يَدَّعُونَهُ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ،
karena apa yang mereka klaim bagi diri mereka berupa amal-amal saleh,
أَوْ بِمَا لَهُمْ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِي اعْتِقَادِهِمْ».
atau karena apa yang mereka anggap sebagai leluhur-leluhur saleh di sisi mereka.”
وَقِيلَ: الْأَمَانِيُّ: الْأَكَاذِيبُ، كَمَا سَيَأْتِي عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.
Ada yang berpendapat: “al-amāniyy” berarti kebohongan-kebohongan,
sebagaimana akan datang riwayat dari Ibnu ‘Abbas.
وَمِنْهُ قَوْلُ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ:
Di antaranya adalah ucapan ‘Utsmān bin ‘Affān:
«مَا تَمَنَّيْتُ مُنْذُ أَسْلَمْتُ»
“Sejak aku masuk Islam, aku tidak pernah ‘tamannaytu’ (berangan-angan).”
أَيْ: مَا كَذَبْتُ،
Maksudnya: “Aku tidak pernah berbohong.”
حَكَاهُ عَنْهُ الْقُرْطُبِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ.
Hal ini dinukil darinya oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya.
وَقِيلَ: الْأَمَانِيُّ: التِّلَاوَةُ،
Ada juga yang berpendapat: “al-amāniyy” berarti tilawah (bacaan).
وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ1
Di antaranya adalah firman-Nya Ta‘ālā:
“Melainkan apabila ia ‘tamannā’, setan memasukkan (sesuatu) ke dalam umniyyah-nya.”1
أَيْ: إِذَا تَلَا أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي تِلَاوَتِهِ،
yakni: apabila ia membaca (Al-Qur’an), setan melemparkan (sesuatu) ke dalam bacaannya.
أَيْ لَا عِلْمَ لَهُمْ إِلَّا مُجَرَّدُ التِّلَاوَةِ مِنْ دُونِ تَفَهُّمٍ وَتَدَبُّرٍ.
Maksudnya: mereka tidak memiliki ilmu selain hanya sekadar bacaan,
tanpa pemahaman dan tanpa tadabbur (perenungan).
وَمِنْهُ قَوْلُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ:
Termasuk dalam penggunaan ini adalah ucapan Ka‘b bin Mālik:
تَمَنَّىٰ كِتَابَ اللَّهِ أَوَّلَ لَيْلَةٍ
وَآخِرَهُ لَاقَى حِمَامَ الْمَقَادِرِ
“Ia ‘tamannā’ (membaca/mengulang) Kitab Allah di awal malam,
dan di akhirnya ia berjumpa dengan kematian yang telah ditakdirkan.”
وَقَالَ آخَرُ:
Dan seorang penyair lain berkata:
تَمَنَّىٰ كِتَابَ اللَّهِ آخِرَ لَيْلَةٍ
تَمَنِّي دَاوُدَ الزَّبُورَ عَلَىٰ رُسْلِ
“Ia ‘tamannā’ (membaca/mengulang) Kitab Allah di penghujung malam,
sebagaimana (dahulu) Dawud membaca Zabur dengan tenang.”
وَقِيلَ: الْأَمَانِيُّ: التَّقْدِيرُ.
Ada juga yang berpendapat: “al-amāniyy” berarti penetapan/takdir.
قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: يُقَالُ: مُنِّيَ لَهُ: أَيْ قُدِّرَ،
Al-Jauharī berkata: dikatakan “munniya lahu”, artinya: “ditetapkan (ditakdirkan) baginya.”
وَمِنْهُ قَوْلُ الشَّاعِرِ:
Di antaranya adalah ucapan seorang penyair:
لَا تَأْمَنَنَّ وَإِنْ أَمْسَيْتَ فِي حَرَمٍ
حَتَّىٰ تُلَاقِيَ مَا يُمَنِّي لَكَ الْمَانِي
“Jangan sekali-kali engkau merasa aman, sekalipun engkau berada di tanah haram,
hingga engkau berjumpa dengan apa yang ‘yumannī’ (ditetapkan) bagimu oleh al-mānī (Dzat Yang Menetapkan).”
أَيْ: يُقَدِّرُ لَكَ الْمُقَدِّرُ.
Yakni: apa yang ditetapkan untukmu oleh Sang Penentu takdir.
قَالَ فِي الْكَشَّافِ:
Dalam al-Kasysyāf disebutkan:
وَالِاشْتِقَاقُ مِنْ «مُنِّيَ» إِذَا قُدِّرَ،
“Asal kata (al-amāniyy) adalah dari ‘munniya’ apabila berarti ‘ditetapkan/takdirkan’,
لِأَنَّ الْمُتَمَنِّيَ يُقَدِّرُ فِي نَفْسِهِ، وَيُجَوِّزُ مَا يَتَمَنَّاهُ،
karena orang yang berangan-angan menetapkan (membayangkan) dalam dirinya dan mengangankan apa yang ia harapkan,
وَكَذٰلِكَ الْمُخْتَلِقُ وَالْقَارِئُ يُقَدِّرَانِ كَلِمَةَ كَذَا بَعْدَ كَذَا».
demikian pula orang yang mengada-ada dan orang yang membaca (teks) menyusun (menetapkan) kata ini setelah kata itu.”
انْتَهَىٰ.
Selesai (kutipan).
---
وَإِنْ فِي قَوْلِهِ: وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ نَافِيَةٌ:
Huruf “inn” dalam firman-Nya “وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ” adalah huruf nafi (penafian),
أَيْ: مَا هُمْ،
yakni bermakna: “mā hum” (tidaklah mereka…).
وَالظَّنُّ: هُوَ التَّرَدُّدُ الرَّاجِحُ بَيْنَ طَرَفَيِ الِاعْتِقَادِ الْغَيْرِ الْجَازِمِ،
“Adh-dhann” (prasangka) adalah keragu-raguan yang cenderung (ke satu sisi) antara dua sisi keyakinan yang tidak pasti,
كَذٰلِكَ فِي «الْقَامُوسِ»،
demikian disebutkan di dalam al-Qāmūs (kamus).
أَيْ: مَا هُمْ إِلَّا يَتَرَدَّدُونَ بِغَيْرِ جَزْمٍ وَلَا يَقِينٍ.
Yakni: mereka tidak lain hanyalah ragu-ragu tanpa kepastian dan tanpa yakin.
وَقِيلَ: الظَّنُّ هُنَا بِمَعْنَى الْكَذِبِ،
Ada yang berpendapat: “adh-dhann” di sini bermakna kebohongan.
وَقِيلَ: هُوَ مُجَرَّدُ الْحَدْسِ.
Ada pula yang berpendapat: ia hanyalah dugaan semata.
---
لَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَهْلَ الْعِلْمِ مِنْهُمْ
Setelah Allah Subhānahu menyebutkan golongan berilmu di antara mereka,
بِأَنَّهُمْ غَيْرُ عَامِلِينَ،
bahwa mereka itu tidak mengamalkan (ilmu),
بَلْ يُحَرِّفُونَ كَلَامَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ،
bahkan mereka mengubah kalam Allah setelah mereka memahaminya,
padahal mereka mengetahuinya,
ذَكَرَ أَهْلَ الْجَهْلِ مِنْهُمْ
maka Allah menyebutkan juga kelompok bodoh di antara mereka,
بِأَنَّهُمْ يَتَكَلَّمُونَ عَلَى الْأَمَانِيِّ
bahwa mereka berbicara berdasarkan angan-angan,
وَيَعْتَمِدُونَ عَلَى الظَّنِّ
dan bertumpu hanya pada prasangka,
الَّذِي لَا يَقِفُونَ مِنْ تَقْلِيدِهِمْ عَلَى غَيْرِهِ وَلَا يَظْفَرُونَ بِسِوَاهُ.
yang mereka tidak berpijak selain dari taklid (ikut-ikutan), dan tidak mendapatkan apa pun selain itu.
---
وَالْوَيْلُ: الْهَلَاكُ.
“Al-wail” berarti kehancuran (kebinasaan).
وَقَالَ الْفَرَّاءُ:
Al-Farrā’ berkata:
الْأَصْلُ فِي الْوَيْلِ: «وَيْ»، أَيْ حُزْنٌ،
“Asal kata ‘al-wail’ adalah ‘way’, yang berarti: kesedihan,
كَمَا تَقُولُ: «وَيْ لِفُلَانٍ»
sebagaimana engkau mengatakan: ‘way li fulān’,
أَيْ: حُزْنٌ لَهُ،
yakni: kesedihan baginya.”
فَوَصَلَتْهُ الْعَرَبُ بِاللَّامِ.
Lalu orang-orang Arab menyambungkannya dengan huruf lām (menjadi “wayl”).
قَالَ الْخَلِيلُ:
Al-Khalīl berkata:
وَلَمْ نَسْمَعْ عَلَى بِنَائِهِ إِلَّا: «وَيْحَ»، وَ«وَيْسَ»، وَ«وَيْهَ»، وَ«وَيْكَ»، وَ«وَيْبَ»،
“Kami tidak pernah mendengar bentuk serupa (dengan pola ini) kecuali ‘wayḥa’, ‘waysa’, ‘wayha’, ‘wayka’, dan ‘wayba’,
وَكُلُّهُ مُتَقَارِبٌ فِي الْمَعْنَى،
dan semuanya berdekatan maknanya.”
وَقَدْ فَرَّقَ بَيْنَهَا قَوْمٌ،
Sejumlah ulama ada yang membedakan makna-makna tersebut,
وَهِيَ مَصَادِرُ لَمْ يَنْطِقِ الْعَرَبُ بِأَفْعَالِهَا.
namun kata-kata ini adalah bentuk mashdar (kata benda dasar) yang tidak dikenal fi‘il-nya (kata kerjanya) dalam ucapan orang Arab.
وَجَازَ الِابْتِدَاءُ بِهِ وَإِنْ كَانَ نَكِرَةً؛ لِأَنَّ فِيهِ مَعْنَى الدُّعَاءِ.
Boleh memulai kalimat dengan kata tersebut meskipun ia nakirah,
karena di dalamnya terkandung makna doa (seruan).
---
وَالْكِتَابَةُ مَعْرُوفَةٌ،
Penulisan (al-kitābah) itu sudah maklum (dikenal).
وَالْمُرَادُ: أَنَّهُمْ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ الْمُحَرَّفَ،
Yang dimaksud (dalam ayat) adalah bahwa mereka menulis kitab yang telah diubah (dipalsukan),
وَلَا يُبَيِّنُونَ، وَلَا يُنْكِرُونَهُ عَلَى فَاعِلِهِ.
dan mereka tidak menjelaskannya (bahwa itu palsu), dan tidak mengingkari pelakunya.
وَقَوْلُهُ: بِأَيْدِيهِمْ تَأْكِيدٌ؛
Firman-Nya: “dengan tangan mereka” adalah bentuk penegasan,
لِأَنَّ الْكِتَابَةَ لَا تَكُونُ إِلَّا بِالْيَدِ،
karena penulisan memang tidak terjadi kecuali dengan tangan,
فَهُوَ مِثْلُ قَوْلِهِ: وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ2
maka ini seperti firman-Nya: “Dan tidak ada seekor makhluk melata pun di bumi dan tidak pula seekor burung yang terbang dengan kedua sayapnya…”2
وَقَوْلِهِ: يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ.
dan seperti firman-Nya: “mereka mengatakan (sesuatu) dengan mulut mereka.”
وَقَالَ ابْنُ السَّرَّاجِ:
Ibnu as-Sarrāj berkata:
هُوَ كِنَايَةٌ عَنْ أَنَّهُ مِنْ تِلْقَائِهِمْ، دُونَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ.
“Ini adalah kinayah (kiasan) bahwa (kitab itu) berasal dari diri mereka sendiri, bukan sesuatu yang diturunkan kepada mereka.”
وَفِيهِ أَنَّهُ قَدْ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مِنْ تِلْقَائِهِمْ قَوْلُهُ: يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ،
Hanya saja (pendapat ini) memiliki kelemahan, karena telah cukup jelas bahwa kitab itu berasal dari diri mereka sendiri dengan firman-Nya: “Mereka menulis kitab….”
فَإِسْنَادُ الْكِتَابَةِ إِلَيْهِمْ يُفِيدُ ذٰلِكَ.
Penyandaran perbuatan menulis kepada mereka sudah menunjukkan hal tersebut.
---
وَالِاشْتِرَاءُ: الِاسْتِبْدَالُ،
“Al-isytirā’” (membeli) bermakna mengganti (menukarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain),
وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ عَلَيْهِ.
dan pembahasannya telah berlalu (dijelaskan) sebelumnya.
وَوَصَفَهُ بِالْقِلَّةِ
Allah menyifati harga (yang mereka cari) itu sebagai sesuatu yang sedikit,
لِكَوْنِهِ فَانِيًا لَا ثَوَابَ فِيهِ،
karena ia fana (lenyap) dan tidak ada pahala di dalamnya,
أَوْ لِكَوْنِهِ حَرَامًا لَا تَحِلُّ بِهِ الْبَرَكَةُ.
atau karena ia bersifat haram sehingga tidak turun berkah padanya.
فَهَؤُلَاءِ الْكَتَبَةُ لَمْ يَكْتَفُوا بِالتَّحْرِيفِ،
Maka para penulis (dari kalangan mereka) ini tidak cukup hanya dengan melakukan tahrif (pengubahan),
وَلَا بِالْكِتَابَةِ لِذٰلِكَ الْمُحَرَّفِ،
juga tidak berhenti pada sekadar menuliskan hal yang telah dipalsukan itu,
حَتَّىٰ نَادَوْا فِي الْمَحَافِلِ بِأَنَّهُ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ،
sampai-sampai mereka mengumumkannya di berbagai majelis bahwa itu adalah dari sisi Allah,
لِيَنَالُوا بِهٰذِهِ الْمَعَاصِي الْمُتَكَرِّرَةِ هٰذَا الْغَرَضَ النَّزِيرَ وَالْعِوَضَ الْحَقِيرَ.
untuk mendapatkan dengan dosa-dosa yang berulang itu tujuan yang sangat remeh dan imbalan yang hina.
وَقَوْلُهُ: مِمَّا يَكْسِبُونَ
Firman-Nya: “dari apa yang mereka usahakan (kāsibūn)”
قِيلَ: مِنَ الرِّشَا وَنَحْوِهَا،
dikatakan: maksudnya adalah dari suap dan semacamnya,
وَقِيلَ: مِنَ الْمَعَاصِي.
dan ada yang berkata: maksudnya adalah dari berbagai maksiat.
وَكَرَّرَ الْوَيْلَ تَغْلِيظًا عَلَيْهِمْ،
Allah mengulang kata “wayl” (celaka) untuk memperberat ancaman terhadap mereka,
وَتَعْظِيمًا لِفِعْلِهِمْ،
dan untuk menunjukkan besarnya dosa perbuatan mereka,
وَهَتْكًا لِأَسْتَارِهِمْ.
serta untuk merobek tirai-tirai (kedok) mereka.
---
وَقَالُوا أَيْ: الْيَهُودُ: لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ الآيَةَ.
Dan mereka berkata — yakni orang-orang Yahudi: “Neraka tidak akan menyentuh kami…” (ayat).
وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي سَبَبِ نُزُولِ الْآيَةِ كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ.
Telah terjadi perbedaan pendapat tentang sebab turunnya ayat ini, sebagaimana akan dijelaskan.
وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا
Yang dimaksud dengan firman-Nya: “Katakanlah: Apakah kalian telah mengambil perjanjian di sisi Allah?”
الْإِنْكَارُ عَلَيْهِمْ
adalah bentuk pengingkaran terhadap mereka,
لِمَا صَدَرَ مِنْهُمْ مِنْ هٰذِهِ الدَّعْوَى الْبَاطِلَةِ:
karena ucapan batil yang mereka lontarkan ini,
أَنَّهَا لَنْ تَمَسَّهُمُ النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً،
yakni klaim bahwa neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa hari yang terhitung.
أَيْ: لَمْ يَتَقَدَّمْ لَكُمْ مَعَ اللَّهِ عَهْدٌ بِهٰذَا،
Yakni: “Tidak ada perjanjian terdahulu antara kalian dan Allah tentang hal itu,
وَلَا أَسْلَفْتُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ مَا يُصَدِّقُ هٰذِهِ الدَّعْوَىٰ،
dan kalian juga tidak pernah menyodorkan amal-amal saleh yang membenarkan klaim ini,
حَتَّىٰ يَتَعَيَّنَ الْوَفَاءُ بِذٰلِكَ وَعَدَمُ إِخْلَافِ الْعَهْدِ».
sehingga menjadi wajib untuk dipenuhi dan tidak mungkin diselisihi.”
أَيْ: إِنِ اتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ،
Yakni: “Jika kalian memang telah mengambil perjanjian di sisi Allah, maka Allah tidak akan menyelisihi perjanjian-Nya.”
أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ؟
“Ataukah kalian berkata atas (nama) Allah apa yang tidak kalian ketahui?”
قَالَ فِي «الْكَشَّافِ»:
Dalam al-Kasysyāf disebutkan:
وَ«أَمْ» إِمَّا أَنْ تَكُونَ مُعَادِلَةً،
“Kata ‘am’ di sini bisa jadi berfungsi sebagai mu‘ādilah (penyeimbang),
بِمَعْنَى: أَيُّ الْأَمْرَيْنِ كَائِنٌ؟ عَلَى سَبِيلِ التَّقْرِيرِ،
dengan makna: ‘Manakah dari dua perkara ini yang terjadi?’ sebagai bentuk penegasan,
لِأَنَّ الْعِلْمَ وَاقِعٌ بِكَوْنِ أَحَدِهِمَا،
karena sudah diketahui bahwa mesti salah satunya terjadi.
وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ مُنْقَطِعَةً».
Dan boleh juga ia dipahami sebagai ‘am’ munqathi‘ah (yang maknanya ‘bahkan/atau sebenarnya’).”
انْتَهَىٰ.
Selesai (kutipan).
وَهٰذَا تَوْبِيخٌ لَهُمْ شَدِيدٌ.
Ini adalah teguran yang sangat keras bagi mereka.
---
قَالَ الرَّازِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ:
Ar-Rāzī berkata dalam tafsirnya:
الْعَهْدُ فِي هٰذَا الْمَوْضِعِ يَجْرِي مَجْرَى الْوَعْدِ،
“Al-‘ahd (perjanjian) dalam konteks ini menempati posisi seperti janji (al-wa‘d),
وَإِنَّمَا سُمِّيَ خَبَرُهُ سُبْحَانَهُ عَهْدًا
dan berita (janji) Allah dinamakan ‘ahd
لِأَنَّ خَبَرَهُ أَوْكَدُ مِنَ الْعُهُودِ الْمُؤَكَّدَةِ».
karena berita-Nya lebih kuat daripada semua perjanjian yang dikuatkan.”
---
وَقَوْلُهُ: بَلَىٰ
Firman-Nya: “Balā” (Bukan demikian)
إِثْبَاتٌ بَعْدَ النَّفْيِ:
adalah bentuk penetapan setelah penafian,
أَيْ: بَلَىٰ تَمَسُّكُمْ،
yakni: “Benar, neraka akan menyentuh kalian,”
لَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي ذَكَرْتُمْ
namun tidak dengan cara yang kalian sebutkan,
مِنْ كَوْنِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَةً.
yaitu bahwa ia hanya beberapa hari yang dapat dihitung.
---
وَالسَّيِّئَةُ: الْمُرَادُ بِهَا الْجِنْسُ هُنَا،
Kata “as-sayyi’ah” (keburukan/kejahatan) yang dimaksud di sini adalah jenis secara umum,
وَمِثْلُهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا، مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ.
sebagaimana firman-Nya Ta‘ālā: “Dan balasan suatu sayyi’ah adalah sayyi’ah yang sebanding dengannya; barangsiapa berbuat kejahatan akan dibalas karenanya.”
ثُمَّ أَوْضَحَ سُبْحَانَهُ
Kemudian Allah Subhānahu menjelaskan
أَنَّ مُجَرَّدَ كَسْبِ السَّيِّئَةِ لَا يُوجِبُ الْخُلُودَ فِي النَّارِ،
bahwa semata-mata melakukan satu kejahatan tidak langsung mengharuskan kekekalan di neraka,
بَلْ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ سَيِّئَتُهُ مُحِيطَةً بِهِ.
namun haruslah kejahatannya itu meliputi dirinya (secara menyeluruh).
قِيلَ: هِيَ الشِّرْكُ،
Dikatakan: yang dimaksud adalah syirik.
وَقِيلَ: الْكَبِيرَةُ.
Dan ada yang berkata: yang dimaksud adalah dosa besar.
وَتَفْسِيرُهَا بِالشِّرْكِ أَوْلَىٰ
Menafsirkan “kejahatan yang meliputi” itu dengan makna syirik adalah lebih utama,
لِمَا ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ تَوَاتُرًا
karena telah tetap secara mutawatir dalam sunnah,
مِنْ خُرُوجِ عُصَاةِ الْمُوَحِّدِينَ مِنَ النَّارِ،
bahwa para pelaku maksiat dari kalangan ahli tauhid akan keluar dari neraka (pada akhirnya),
وَيُؤَيِّدُ ذٰلِكَ كَوْنُهَا نَازِلَةً فِي الْيَهُودِ،
dan hal itu dikuatkan oleh kenyataan bahwa ayat ini turun tentang orang-orang Yahudi,
وَإِنْ كَانَ الِاعْتِبَارُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ.
meskipun ukuran hukum tetap berdasarkan keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab turunnya.
وَقَدْ قَرَأَ نَافِعٌ: «خَطِيئَاتِهِ» بِالْجَمْعِ،
Nafi‘ membaca (ayat itu) dengan lafal “khaṭī’ātihi” (jamak),
وَقَرَأَ الْبَاقُونَ بِالْإِفْرَادِ،
sedangkan para qari’ lainnya membacanya dengan bentuk tunggal “khaṭī’atuhu”.
وَقَدْ تَقَدَّمَ تَفْسِيرُ الْخُلُودِ.
Penjelasan tentang makna “al-khulūd” (kekal) telah lalu disebutkan.
فَتْحُ الْقَدِيرِ لِلشَّوْكَانِيّ - ج ١ (ص: ١٢٣-١٢٤)
(Fath al-Qadīr karya asy-Syaukānī, jilid 1, hlm. 123–124)
---
وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ إِسْحَاقَ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Ishaq dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya:
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ
“Dan di antara mereka ada orang-orang yang ummi, yang tidak mengetahui Kitab…”
قَالَ: لَا يَدْرُونَ مَا فِيهِ،
ia berkata: “Mereka tidak mengetahui apa yang ada di dalamnya.”
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Firman-Nya: “Mereka tidak lain hanyalah berprasangka”,
قَالَ: وَهُمْ يَجْحَدُونَ نُبُوَّتَكَ بِالظَّنِّ.
ia berkata: “Mereka mengingkari kenabianmu dengan sekadar prasangka.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْهُ قَالَ:
Ibnu Jarir meriwayatkan darinya (Ibnu ‘Abbas), ia berkata:
«الْأُمِّيُّونَ قَوْمٌ لَمْ يُصَدِّقُوا رَسُولًا أَرْسَلَهُ اللَّهُ،
“Al-ummiyyūn adalah kaum yang tidak membenarkan seorang rasul pun yang Allah utus,
وَلَا كِتَابًا أَنْزَلَهُ اللَّهُ،
dan tidak (membenarkan) satu kitab pun yang Allah turunkan.
فَكَتَبُوا كِتَابًا بِأَيْدِيهِمْ،
Mereka lalu menulis sebuah kitab dengan tangan mereka sendiri,
ثُمَّ قَالُوا لِقَوْمٍ سَفَلَةٍ جُهَّالٍ: هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ».
kemudian mereka berkata kepada suatu kaum yang rendah kedudukannya dan bodoh: ‘Ini dari sisi Allah.’”
وَقَدْ أَخْبَرَ أَنَّهُمْ يَكْتُبُونَ بِأَيْدِيهِمْ،
Allah telah mengabarkan bahwa mereka menulis dengan tangan mereka sendiri,
ثُمَّ سَمَّاهُمْ أُمِّيِّينَ
lalu Allah menamakan mereka sebagai orang-orang ummi,
لِجُحُودِهِمْ كُتُبَ اللَّهِ وَرُسُلَهُ.
karena pengingkaran mereka terhadap kitab-kitab Allah dan para rasul-Nya.
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ النَّخَعِيِّ قَالَ:
Ibnu Jarir meriwayatkan dari an-Nakha‘ī, ia berkata:
مِنْهُمْ مَنْ لَا يُحْسِنُ أَنْ يَكْتُبَ.
“Di antara mereka ada yang tidak pandai menulis.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya:
إِلَّا أَمَانِيَّ
“kecuali amaniyy (angan-angan)…”
قَالَ: الْأَحَادِيثُ.
ia berkata: “(Yang dimaksud) adalah cerita-cerita (omongan-omongan).”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْهُ أَنَّهَا الْكَذِبُ.
Ibnu Jarir meriwayatkan darinya juga bahwa yang dimaksud adalah kebohongan.
وَكَذَا رَوَى مِثْلَهُ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ مُجَاهِدٍ،
Demikian pula ‘Abd bin Humaid meriwayatkan yang serupa dari Mujahid,
وَزَادَ: وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
dan ia menambahkan (tentang firman-Nya): “Mereka tidak lain hanyalah berprasangka”
قَالَ: إِلَّا يَكْذِبُونَ.
ia berkata: “Maksudnya: mereka tidak lain kecuali berbohong.”
---
وَأَخْرَجَ النَّسَائِيُّ وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ:
An-Nasā’ī dan Ibnu al-Mundzir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya:
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ
“Maka celakalah orang-orang yang menulis Kitab…”
قَالَ: نَزَلَتْ فِي أَهْلِ الْكِتَابِ.
ia berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan Ahli Kitab.”
وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ فِي «صَحِيحِهِ» وَالْحَاكِمُ فِي «مُسْتَدْرَكِهِ»، وَصَحَّحَهُ،
Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan al-Hākim dalam al-Mustadrak — dan ia mensahihkannya —
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
meriwayatkan dari Abu Sa‘id, dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
«وَيْلٌ: وَادٍ فِي جَهَنَّمَ، يَهْوِي فِيهِ الْكَافِرُ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا قَبْلَ أَنْ يَبْلُغَ قَعْرَهُ».
“Wayl adalah sebuah lembah di Jahannam. Orang kafir jatuh di dalamnya selama empat puluh tahun (perjalanan), sebelum sampai ke dasarnya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ مِنْ حَدِيثِ عُثْمَانَ مَرْفُوعًا، قَالَ:
Ibnu Jarir meriwayatkan secara marfū‘ dari ‘Utsmān, ia berkata:
«الْوَيْلُ: جَبَلٌ فِي النَّارِ».
“Al-wayl adalah sebuah gunung di dalam neraka.”
وَأَخْرَجَ الْبَزَّارُ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ مِنْ حَدِيثِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ مَرْفُوعًا:
Al-Bazzar dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan secara marfū‘ dari Sa‘d bin Abi Waqqāsh
أَنَّهُ حَجَرٌ فِي النَّارِ.
bahwa “wayl” itu adalah sebuah batu di dalam neraka.
---
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya:
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ
“Maka celakalah orang-orang yang menulis Kitab…”
قَالَ: هُمْ أَحْبَارُ الْيَهُودِ،
ia berkata: “Mereka adalah para rahib (ulama) Yahudi.
وَجَدُوا صِفَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكْتُوبَةً فِي التَّوْرَاةِ:
Mereka mendapati sifat-sifat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tertulis di dalam Taurat:
أَكْحَلَ أَعْيَنَ، رَبْعَةً، جَعْدَ الشَّعَرِ، حَسَنَ الْوَجْهِ،
bermata bercelak (hitam pekat), tinggi sedang, berambut keriting, dan tampan wajahnya.
فَلَمَّا وَجَدُوهُ فِي التَّوْرَاةِ مَحَوْهُ حَسَدًا وَبَغْيًا،
Ketika mereka mendapatinya (sifat-sifat itu) di dalam Taurat, mereka menghapusnya karena dengki dan zalim.
فَأَتَاهُمْ نَفَرٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَقَالُوا:
Kemudian datang kepada mereka sekelompok orang dari Quraisy, lalu mereka berkata:
تَجِدُونَ فِي التَّوْرَاةِ نَبِيًّا أُمِّيًّا؟
‘Apakah kalian mendapati di dalam Taurat nabi yang ummi (tidak menulis dan membaca)?’
فَقَالُوا: نَعَمْ، نَجِدُهُ طَوِيلًا، أَزْرَقَ، سِبْطَ الشَّعَرِ.
Mereka menjawab: ‘Ya, kami mendapati (sifatnya) tinggi, bermata biru, berambut lurus.’
فَأَنْكَرَتْ قُرَيْشٌ، وَقَالُوا:
Maka orang-orang Quraisy mengingkarinya dan berkata:
لَيْسَ هَذَا مِنَّا».
‘Ini bukan (sifat-sifat) dari (kalangan) kami.’”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْهُ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Jarir meriwayatkan darinya tentang firman-Nya:
ثَمَنًا قَلِيلًا
“harga yang sedikit…”
قَالَ: عَرَضًا مِنْ عَرَضِ الدُّنْيَا.
ia berkata: “(Maksudnya) harta dunia yang fana.”
فَوَيْلٌ لَهُمْ
Firman-Nya: “Maka celakalah mereka…”
قَالَ: فَالْعَذَابُ عَلَيْهِمْ
ia berkata: “Maka siksaan itu menimpa mereka
مِنَ الَّذِي كَتَبُوا بِأَيْدِيهِمْ مِنْ ذٰلِكَ الْكَذِبِ،
karena apa yang telah mereka tulis dengan tangan mereka berupa kebohongan itu.
وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
Dan celakalah mereka karena apa yang mereka usahakan,
يَقُولُ: مِمَّا يَأْكُلُونَ بِهِ النَّاسَ السَّفَلَةَ وَغَيْرَهُمْ».
yakni: dari apa yang mereka makan (ambil) dari orang-orang yang rendah dan selain mereka.”
وَقَدْ ذَكَرَ صَاحِبُ «الدُّرِّ الْمَنْثُورِ» آثَارًا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ
Penulis ad-Durr al-Mantsūr menyebutkan atsar-atsar dari sekelompok ulama salaf
أَنَّهُمْ كَرِهُوا بَيْعَ الْمَصَاحِفِ مُسْتَدِلِّينَ بِهٰذِهِ الْآيَةِ،
bahwa mereka memakruhkan jual beli mushaf, dengan berdalil ayat ini,
وَلَا دَلَالَةَ فِيهَا عَلَى ذٰلِكَ.
padahal tidak ada dalil (langsung) di dalam ayat ini atas hal tersebut.
ثُمَّ ذَكَرَ آثَارًا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُمْ أَنَّهُمْ جَوَّزُوا ذٰلِكَ وَلَمْ يَكْرَهُوهُ.
Kemudian ia menyebutkan atsar-atsar dari sekelompok yang lain bahwa mereka membolehkannya dan tidak memakruhkannya.
---
وَأَخْرَجَ ابْنُ إِسْحَاقَ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَالطَّبَرَانِيُّ وَالْوَاحِدِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:
Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, ath-Thabarani, dan al-Wahidi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:
أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا يَقُولُونَ:
bahwa orang-orang Yahudi biasa berkata:
«مُدَّةُ الدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ،
‘Masa dunia ini adalah tujuh ribu tahun,
وَإِنَّمَا نُعَذَّبُ بِكُلِّ أَلْفِ سَنَةٍ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا يَوْمًا وَاحِدًا فِي النَّارِ،
dan kami hanya akan diazab di neraka setiap seribu tahun dunia satu hari saja.
وَإِنَّمَا هِيَ سَبْعَةُ أَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ،
Jadi (azab) itu hanya tujuh hari yang terhitung,
ثُمَّ يَنْقَطِعُ الْعَذَابُ».
kemudian azab pun terputus.’
فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي ذٰلِكَ: وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ…
Maka Allah menurunkan tentang hal tersebut firman-Nya: “Dan mereka berkata: Neraka tidak akan menyentuh kami…” (ayat).
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْهُ:
Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan darinya:
قَالَ: وَجَدَ أَهْلُ الْكِتَابِ مَسِيرَةَ مَا بَيْنَ طَرَفَيْ جَهَنَّمَ مَسِيرَةَ أَرْبَعِينَ،
ia berkata: “Ahli Kitab mendapati (dalam kitab mereka) bahwa jarak antara dua ujung Jahannam adalah perjalanan selama empat puluh (hari atau tahun),
فَقَالُوا: لَنْ يُعَذَّبَ أَهْلُ النَّارِ إِلَّا قَدْرَ أَرْبَعِينَ.
maka mereka berkata: ‘Penghuni neraka tidak akan diazab kecuali selama empat puluh (waktu).’
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أُلْجِمُوا فِي النَّارِ،
Namun ketika hari kiamat tiba, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka,
فَسَارُوا فِيهَا حَتَّى انْتَهَوْا إِلَى سَقَرَ،
lalu mereka berjalan di dalamnya hingga sampai ke (tingkatan) Saqar,
وَفِيهَا شَجَرَةُ الزَّقُّومِ إِلَى آخِرِ يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ الْمَعْدُودَةِ،
dan di dalamnya ada pohon zaqqūm hingga akhir hari dari hari-hari yang mereka sebut “terhitung” itu.
فَقَالَ لَهُمْ خَزَنَةُ النَّارِ:
Kemudian para penjaga neraka berkata kepada mereka:
يَا أَعْدَاءَ اللَّهِ! زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ لَنْ تُعَذَّبُوا فِي النَّارِ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً،
‘Wahai musuh-musuh Allah! Kalian mengira bahwa kalian tidak akan diazab di neraka kecuali beberapa hari yang terhitung,
فَقَدِ انْقَضَى الْعَدَدُ، وَبَقِيَ الْأَبَدُ».
padahal sekarang bilangan (hari) itu telah habis, dan yang tersisa hanyalah keabadian (azab yang kekal).’
فَيَأْخُذُونَ فِي الصُّعُودِ، يُرْهَقُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ.
Lalu mereka pun diseret untuk naik (dari satu tingkatan ke tingkatan lain),
dipaksakan (didorong) di atas wajah-wajah mereka.
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْهُ:
Ibnu Jarir juga meriwayatkan darinya:
أَنَّ الْيَهُودَ قَالُوا: لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَرْبَعِينَ لَيْلَةً،
bahwa orang-orang Yahudi berkata: “Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali selama empat puluh malam,
مُدَّةَ عِبَادَةِ الْعِجْلِ».
yaitu selama masa mereka menyembah anak sapi.”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ:
‘Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ikrimah, ia berkata:
«اجْتَمَعَتِ الْيَهُودُ يَوْمًا فَخَاصَمُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
“Suatu hari orang-orang Yahudi berkumpul lalu berdebat dengan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam,
فَقَالُوا: لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ، أَرْبَعِينَ يَوْمًا،
mereka berkata: ‘Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari yang terhitung, empat puluh hari saja.
ثُمَّ يَخْلُفُنَا فِيهَا نَاسٌ»،
Setelah itu akan datang sekelompok orang menggantikan kami di dalamnya.”
وَأَشَارُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ.
Mereka menunjuk kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَدَّ يَدَيْهِ عَلَى رَأْسِهِ:
Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil mengangkat kedua tangannya ke kepalanya:
«كَذَبْتُمْ، بَلْ أَنْتُمْ خَالِدُونَ مُخَلَّدُونَ فِيهَا،
‘Kalian telah berdusta! Bahkan kalianlah yang kekal dan dikekalkan di dalamnya,
لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا، إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَبَدًا».
kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya, insya Allah, selama-lamanya.’
فَفِيهِمْ نَزَلَتْ هٰذِهِ الْآيَةُ: وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ…
Berkaitan dengan mereka inilah turun ayat: “Dan mereka berkata: Neraka tidak akan menyentuh kami…” (ayat).
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ مَرْفُوعًا نَحْوَهُ.
Ibnu Jarir meriwayatkan secara marfū‘ dari Zaid bin Aslam yang semakna dengan riwayat itu.
---
وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَالدَّارِمِيُّ وَالنَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ:
Ahmad, al-Bukhari, ad-Dārimi, dan an-Nasā’ī meriwayatkan dari Abu Hurairah,
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ الْيَهُودَ فِي خَيْبَرَ: مَنْ أَهْلُ النَّارِ؟
bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada orang-orang Yahudi di Khaibar:
“Siapakah penghuni neraka?”
فَقَالُوا: نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا، ثُمَّ تَخْلُفُونَا فِيهَا،
Mereka menjawab: “Kami akan berada di dalamnya sebentar saja, kemudian kalian akan menggantikan kami di dalamnya.”
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
«اخْسَئُوا، وَاللَّهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا».
“Menjauhlah kalian! Demi Allah, kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selama-lamanya.”
---
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَابْنُ جَرِيرٍ عَنْ مُجَاهِدٍ فِي قَوْلِهِ:
‘Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid tentang firman-Nya:
قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا
“Katakanlah: Apakah kalian telah mengambil perjanjian di sisi Allah…”
أَيْ: مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ بِذٰلِكَ أَنَّهُ كَمَا تَقُولُونَ.
yakni: “Apakah kalian telah mengambil ikatan (janji yang kuat) dari Allah bahwa perkara itu sebagaimana yang kalian katakan?”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas
أَنَّهُ فَسَّرَ الْعَهْدَ هُنَا بِأَنَّهُمْ قَالُوا: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،
bahwa ia menafsirkan “al-‘ahd” di sini dengan ucapan mereka: “Lā ilāha illallāh,”
لَمْ يُشْرِكُوا بِهِ وَلَمْ يَكْفُرُوا.
yakni: mereka tidak menyekutukan-Nya dan tidak kafir kepada-Nya.
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ قَتَادَةَ فِي قَوْلِهِ:
‘Abd bin Humaid meriwayatkan dari Qatadah tentang firman-Nya:
أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ataukah kalian mengatakan atas (nama) Allah apa yang tidak kalian ketahui…”
قَالَ: قَالَ الْقَوْمُ: الْكَذِبَ وَالْبَاطِلَ.
ia berkata: “Kaum itu telah mengatakan kedustaan dan kebatilan atas (nama) Allah.”
---
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya:
بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً
“Tidak demikian, barangsiapa melakukan satu kejahatan…”
قَالَ: الشِّرْكُ.
ia berkata: “(Yang dimaksud) adalah syirik.”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ مُجَاهِدٍ وَعِكْرِمَةَ وَقَتَادَةَ مِثْلَهُ.
‘Abd bin Humaid meriwayatkan hal yang serupa dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan Qatadah.
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah tentang firman-Nya:
وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ
“dan dosa (kesalahannya) itu meliputi dirinya…”
قَالَ: أَحَاطَ بِهِ شِرْكُهُ.
ia berkata: “(Maksudnya) syiriknya telah meliputinya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ إِسْحَاقَ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ فِي قَوْلِهِ:
Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan tentang firman-Nya:
بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً
“Tidak demikian, barangsiapa melakukan satu kejahatan…”
أَيْ: مَنْ عَمِلَ مِثْلَ أَعْمَالِكُمْ،
yakni: “Barangsiapa melakukan perbuatan seperti perbuatan kalian,
وَكَفَرَ بِمِثْلِ مَا كَفَرْتُمْ،
dan kafir terhadap apa yang kalian kafiri,
حَتَّىٰ يُحِيطَ كُفْرُهُ بِمَا لَهُ مِنْ حَسَنَةٍ،
hingga kekufurannya meliputi semua kebaikan yang ia miliki,
فَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ، هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
maka mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh…”
أَيْ: مَنْ آمَنَ بِمَا كَفَرْتُمْ بِهِ،
yakni: “Barangsiapa beriman terhadap apa yang kalian ingkari,
وَعَمِلَ بِمَا تَرَكْتُمْ مِنْ دِينِهِ،
dan mengamalkan apa yang kalian tinggalkan dari agamanya,
فَلَهُمُ الْجَنَّةُ خَالِدِينَ فِيهَا».
maka bagi mereka surga, mereka kekal di dalamnya.”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ قَتَادَةَ فِي قَوْلِهِ:
‘Abd bin Humaid meriwayatkan dari Qatadah tentang firman-Nya:
وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ
“dan dosa itu meliputi dirinya…”
قَالَ: هِيَ الْكَبِيرَةُ الْمُوجِبَةُ لِأَهْلِهَا النَّارَ.
ia berkata: “(Yang dimaksud) adalah dosa besar yang mengharuskan pelakunya masuk neraka.”
وَأَخْرَجَ وَكِيعٌ وَابْنُ جَرِيرٍ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ:
Waki‘ dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasan bahwa ia berkata:
«كُلُّ مَا وَعَدَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ فَهُوَ الْخَطِيئَةُ».
“Setiap dosa yang Allah janjikan neraka atasnya, maka itulah yang disebut khathī’ah (dosa yang meliputi).”
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَابْنُ جَرِيرٍ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ خُثَيْمٍ قَالَ:
Ibnu Abi Syaibah, ‘Abd bin Humaid, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari ar-Rabī‘ bin Khaytsam, ia berkata:
«هُوَ الَّذِي يَمُوتُ عَلَى خَطِيئَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَتُوبَ».
“(Yang dimaksud) adalah orang yang mati dalam keadaan masih berada di atas dosanya, sebelum ia sempat bertaubat.”
وَأَخْرَجَ مِثْلَهُ ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ الْأَعْمَشِ.
Ibnu Jarir meriwayatkan hal yang semisal dari al-A‘mash.
فَتْحُ الْقَدِيرِ لِلشَّوْكَانِيّ - ج ١ (ص: ١٢٤-١٢٥)
(Fath al-Qadīr karya asy-Syaukānī, jilid 1, hlm. 124–125)
---
1 QS. al-Hajj [22]: 52.
2 QS. al-An‘ām [6]: 38.