Al Baqarah Ayat 26-27
[سُورَةُ الْبَقَرَةِ (٢) : الآيَاتُ ٢٦ إِلَى ٢٧]
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (٢٦)
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya (atau yang lebih tinggi di atasnya).
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka.
Sedangkan orang-orang yang kafir berkata, “Apa maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?”
Dengan perumpamaan itu Allah menyesatkan banyak orang dan dengan perumpamaan itu (pula) Dia memberi petunjuk kepada banyak orang.
Dan Dia tidak menyesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik.
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٢٧)
(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh,
dan memutuskan (hubungan) apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan,
serta berbuat kerusakan di bumi.
Mereka itulah orang-orang yang merugi.
---
أَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ رَدًّا عَلَى الْكُفَّارِ لَمَّا أَنْكَرُوا مَا ضَرَبَهُ سُبْحَانَهُ مِنَ الْأَمْثَالِ كَقَوْلِهِ: مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا1 وَقَوْلِهِ: أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ2 فَقَالُوا: اللَّهُ أَجَلُّ وَأَعْلَى مِنْ أَنْ يَضْرِبَ الْأَمْثَالَ.
Allah menurunkan ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir,
ketika mereka mengingkari perumpamaan-perumpamaan yang dibuat-Nya — Mahasuci Dia —
seperti firman-Nya: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api,”1
dan firman-Nya: “Atau seperti hujan lebat yang turun dari langit.”2
Maka mereka berkata, “Allah terlalu agung dan terlalu tinggi untuk membuat perumpamaan-perumpamaan (seperti itu).”
وَقَالَ الرَّازِيُّ: إِنَّهُ تَعَالَى لَمَّا بَيَّنَ بِالدَّلِيلِ كَوْنَ الْقُرْآنِ مُعْجِزًا أَوْرَدَ هَاهُنَا شُبْهَةً أَوْرَدَهَا الْكُفَّارُ قَدْحًا فِي ذَلِكَ وَأَجَابَ عَنْهَا،
Ar-Razi berkata: Ketika Allah Ta‘ala telah menjelaskan dengan dalil bahwa al-Qur’an itu mukjizat,
Dia menyebutkan di sini sebuah syubhat yang dikemukakan oleh orang-orang kafir sebagai celaan terhadap hal itu,
lalu Dia menjawabnya.
وَتَقْرِيرُ الشُّبْهَةِ: أَنَّهُ جَاءَ فِي الْقُرْآنِ ذِكْرُ النَّحْلِ وَالْعَنْكَبُوتِ وَالنَّمْلِ، وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ لَا يَلِيقُ ذِكْرُهَا بِكَلَامِ الْفُصَحَاءِ، فَاشْتِمَالُ الْقُرْآنِ عَلَيْهَا يَقْدَحُ فِي فَصَاحَتِهِ فَضْلًا عَنْ كَوْنِهِ مُعْجِزًا.
Penjelasan syubhat itu adalah: dalam al-Qur’an terdapat penyebutan lebah, laba-laba, dan semut.
Menurut mereka, menyebutkan hal-hal seperti ini tidak layak dalam perkataan para ahli fasih.
Maka adanya hal-hal tersebut dalam al-Qur’an dianggap merusak kefasihannya, apalagi statusnya sebagai mukjizat.
وَأَجَابَ اللَّهُ عَنْهَا بِأَنَّ أَصْغَرَ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ لَا تَقْدَحُ فِي الْفَصَاحَةِ إِذَا كَانَ ذِكْرُهَا مُشْتَمِلًا عَلَى حِكْمَةٍ بَالِغَةٍ. انْتَهَى.
Allah menjawab syubhat itu dengan (menunjukkan) bahwa sekecil apa pun makhluk-makhluk ini,
tidak merusak kefasihan apabila penyebutannya mengandung hikmah yang agung.
Selesai (ucapan ar-Razi).
وَلَا يَخْفَى عَلَيْكَ أَنَّ تَقْرِيرَ هَذِهِ الشُّبْهَةِ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ، وَإِرْجَاعَ الْإِنْكَارِ إِلَى مُجَرَّدِ الْفَصَاحَةِ، لَا مُسْتَنَدَ لَهُ وَلَا دَلِيلَ عَلَيْهِ،
Tidak samar bagimu bahwa merumuskan syubhat ini dengan cara demikian,
dan mengembalikan bentuk pengingkaran mereka semata-mata kepada aspek kefasihan,
tidak memiliki landasan dan tidak ada dalilnya.
وَقَدْ تَقَدَّمَهُ إِلَى شَيْءٍ مِنْ هَذَا صَاحِبُ «الْكَشَّافِ»،
Dan sebelum ar-Razi, pemilik kitab al-Kasysyāf telah lebih dahulu mengisyaratkan sebagian hal ini.
وَالظَّاهِرُ مَا ذَكَرْنَاهُ أَوَّلًا، لِكَوْنِ هَذِهِ الْآيَةِ جَاءَتْ عَقِبَ الْمَثَلَيْنِ اللَّذَيْنِ هُمَا مَذْكُورَانِ قَبْلَهَا،
Yang tampak (lebih kuat) adalah apa yang kami sebutkan pertama kali,
karena ayat ini datang setelah dua perumpamaan yang disebut sebelumnya,
وَلَا يَسْتَلْزِمُ اسْتِنْكَارُهُمْ لِضَرْبِ الْأَمْثَالِ بِالْأَشْيَاءِ الْمُحَقَّرَةِ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ قَادِحًا فِي الْفَصَاحَةِ وَالْإِعْجَازِ.
dan pengingkaran mereka terhadap perumpamaan dengan sesuatu yang dianggap hina
tidak mesti berarti bahwa hal itu merusak kefasihan dan kemukjizatan.
وَالْحَيَاءُ: تَغَيُّرٌ وَانْكِسَارٌ يَعْتَرِي الْإِنْسَانَ مِنْ تَخَوُّفِ مَا يُعَابُ بِهِ وَيُذَمُّ، كَذَا فِي «الْكَشَّافِ»، وَتَبِعَهُ الرَّازِيُّ فِي «مَفَاتِيحِ الْغَيْبِ».
Al-ḥayā’ (rasa malu) adalah perubahan dan kerendahan diri yang menimpa seseorang
karena ia takut terhadap sesuatu yang menyebabkan ia dicela dan dicacat.
Demikian disebutkan dalam al-Kasysyāf, dan ar-Razi mengikutinya dalam Mafatīḥ al-Ghayb.
وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ: أَصْلُ الِاسْتِحْيَاءِ الِانْقِبَاضُ عَنِ الشَّيْءِ وَالِامْتِنَاعُ مِنْهُ خَوْفًا مِنْ مُوَاقَعَةِ الْقَبِيحِ، وَهَذَا مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ. انْتَهَى.
Al-Qurthubi berkata: Asal makna istihyā’ (merasa malu) adalah menahan diri dari sesuatu dan menjauhinya
karena takut terjatuh pada sesuatu yang buruk.
Dan hal ini mustahil bagi Allah. Selesai.
وَقَدِ اخْتَلَفُوا فِي تَأْوِيلِ مَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ مِنْ ذِكْرِ الْحَيَاءِ، فَقِيلَ: سَاغَ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ وَاقِعًا فِي الْكَلَامِ الْمَحْكِيِّ عَنِ الْكُفَّارِ،
Mereka berbeda pendapat dalam menakwil penyebutan rasa malu pada ayat ini.
Ada yang mengatakan: itu dibolehkan karena muncul dalam konteks perkataan yang dikisahkan dari orang-orang kafir.
وَقِيلَ: هُوَ مِنْ بَابِ الْمُشَاكَلَةِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَقِيلَ: هُوَ جَارٍ عَلَى سَبِيلِ التَّمْثِيلِ.
Ada yang mengatakan: itu termasuk gaya bahasa musyākalah (penyerupaan lafaz), sebagaimana telah lewat penjelasannya.
Ada pula yang mengatakan: ia berjalan di atas cara penyerupaan (tasybīh/representasi).
قَالَ فِي «الْكَشَّافِ»: مِثْلُ تَرْكِهِ تَخْيِيبَ الْعَبْدِ، وَأَنَّهُ لَا يَرُدُّ يَدَيْهِ صِفْرًا مِنْ عَطَائِهِ لِكَرَمِهِ، بِتَرْكِ مَنْ يَتْرُكُ رَدَّ الْمُحْتَاجِ إِلَيْهِ حَيَاءً مِنْهُ. انْتَهَى.
Dalam al-Kasysyāf disebutkan: seperti perbuatan Allah yang tidak mengecewakan hamba-Nya,
dan Dia tidak mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong dari anugerah-Nya, karena kemurahan-Nya;
diserupakan dengan orang yang tidak menolak orang yang membutuhkan kepadanya karena merasa malu. Selesai.
وَقَدْ قَرَأَ ابْنُ مُحَيْصِنٍ وَابْنُ كَثِيرٍ فِي رِوَايَةٍ عَنْهُ «يَسْتَحِي» بِيَاءٍ وَاحِدَةٍ، وَهِيَ لُغَةُ تَمِيمٍ وَبَكْرِ بْنِ وَائِلٍ،
Ibnu Muḥaiṣin dan Ibnu Katsir dalam satu riwayat membacanya “yastahī” dengan satu huruf yā’.
Ini adalah dialek suku Tamim dan Bakar bin Wa’il.
نُقِلَتْ فِيهَا حَرَكَةُ الْيَاءِ الْأُولَى إِلَى الْحَاءِ فَسَكَنَتْ، ثُمَّ اسْتُثْقِلَتِ الضَّمَّةُ عَلَى الثَّانِيَةِ فَسَكَنَتْ، فَحُذِفَتْ إِحْدَاهُمَا لِالْتِقَاءِ السَّاكِنَيْنِ.
Dalam bacaan ini, harakat yā’ pertama dipindahkan ke huruf ḥā’ sehingga yā’ pertama menjadi sukun.
Lalu dhammah pada yā’ kedua dianggap berat, maka disukun-kan.
Kemudian salah satu dari kedua yā’ itu dihapus karena bertemunya dua huruf sukun.
وَضَرْبُ الْمَثَلِ: اعْتِمَادُهُ وَصَنْعُهُ.
“Ḍarb al-mathal” (membuat perumpamaan) berarti menjadikannya, menyusunnya.
وَ«ما» فِي قَوْلِهِ: ﴿مَا بَعُوضَةً﴾ إِبْهَامِيَّةٌ، أَيْ مُوجِبَةٌ لِإِبْهَامِ مَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ حَتَّى يَصِيرَ أَعَمَّ مِمَّا كَانَ عَلَيْهِ وَأَكْثَرَ شُيُوعًا فِي أَفْرَادِهِ،
Kata “mā” pada firman-Nya “mā ba‘ūḍatan” adalah “mā” ibhāmiyyah,
yakni yang menyebabkan kata yang dimasukinya menjadi lebih umum dan lebih tersebar cakupannya dari sebelumnya.
وَهِيَ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ عَلَى الْبَدَلِ مِنْ قَوْلِهِ: «مَثَلًا»، وَ«بَعُوضَةً» نَعْتٌ لَهَا لِإِبْهَامِهَا، قَالَهُ الْفَرَّاءُ وَالزَّجَّاجُ وَثَعْلَبٌ.
“Mā” ini berada pada posisi manshub sebagai badal dari “mathalan”.
Sedangkan “ba‘ūḍatan” adalah sifat (na‘t) bagi “mā” karena sifat ibhām-nya.
Demikian dikatakan oleh al-Farrā’, az-Zajjāj, dan Ṯa‘lab.
وَقِيلَ: إِنَّهَا زَائِدَةٌ، وَ«بَعُوضَةً» بَدَلٌ مِنْ «مَثَلًا».
Ada juga yang mengatakan: “mā” di sini adalah huruf tambahan (zā’idah), dan “ba‘ūḍatan” adalah badal dari “mathalan”.
وَنَصْبُ «بَعُوضَةً» فِي هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ ظَاهِرٌ.
Peng-‘i‘rab-an manshub pada “ba‘ūḍatan” dalam dua pendapat ini jelas.
وَقِيلَ: إِنَّهَا مَنْصُوبَةٌ بِنَزْعِ الْخَافِضِ، وَالتَّقْدِيرُ: أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَيْنَ بَعُوضَةٍ، فَحُذِفَ لَفْظُ «بَيْنَ».
Ada juga yang mengatakan: “ba‘ūḍatan” manshub karena pembuangan huruf jar.
Takdir kalimatnya: “an yaḍriba mathalan mā baina ba‘ūḍatin (antara nyamuk dan seterusnya)”,
lalu lafaz “baina” dihapus.
وَقَدْ رُوِيَ هَذَا عَنِ الْكِسَائِيِّ،
Pendapat ini diriwayatkan dari al-Kisā’ī.
وَقِيلَ: «يَضْرِبَ» بِمَعْنَى «يَجْعَلُ»، فَتَكُونَ «بَعُوضَةً» الْمَفْعُولَ الثَّانِيَ.
Ada pula yang mengatakan: kata “yaḍrib(a)” di sini bermakna “menjadikan”,
sehingga “ba‘ūḍatan” menjadi maf‘ul kedua.
وَقَرَأَ الضَّحَّاكُ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي عَبْلَةَ وَرُؤْبَةُ بْنُ الْعَجَّاجِ: «بَعُوضَةٌ» بِالرَّفْعِ، وَهِيَ لُغَةُ تَمِيمٍ.
Adh-Dahhak, Ibrahim bin Abi ‘Ablah, dan Ru’bah bin al-‘Ajjāj membaca “ba‘ūḍatun” dengan raf‘ (dhammah),
dan itu adalah dialek suku Tamim.
قَالَ أَبُو الْفَتْحِ: وَجْهُ ذَلِكَ أَنَّ «مَا» اسْمٌ بِمَنْزِلَةِ «الَّذِي»، وَ«بَعُوضَةٌ» رُفِعَ عَلَى إِضْمَارِ الْمُبْتَدَأِ،
Abu al-Fatḥ berkata: Penjelasannya adalah bahwa “mā” di sini adalah isim yang kedudukannya seperti “alladzī”,
sedangkan “ba‘ūḍatun” di-raf‘-kan dengan menganggap adanya mubtada’ yang dibuang.
وَيُحْتَمَلُ أَنْ تَكُونَ «مَا» اسْتِفْهَامِيَّةً، كَأَنَّهُ قَالَ تَعَالَى: مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا حَتَّى لَا يُضْرَبَ الْمَثَلُ بِهِ، بَلْ يُدَانُ لِمَثَلٍ بِمَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ بِكَثِيرٍ.
Ada juga kemungkinan bahwa “mā” adalah istifhāmiyyah (kata tanya),
seakan-akan Allah Ta‘ala berfirman: “Apa (istimewanya) nyamuk dan apa yang lebih (kecil/tinggi) darinya
sehingga tidak boleh dijadikan perumpamaan padanya? Bahkan sesuatu yang jauh lebih kecil pun layak dijadikan perumpamaan.”
وَالْبَعُوضَةُ «فَعُولَةٌ» مِنْ «بَعَضَ» إِذَا قَطَعَ، يُقَالُ: بَعَضَ وَبَضَعَ بِمَعْنًى،
Kata “al-ba‘ūḍah” berada pada wazan “fa‘ūlah”, berasal dari kata “ba‘aḍa” apabila memotong.
Dikatakan “ba‘aḍa” dan “baḍa‘a” dengan makna yang sama.
وَالْبَعُوضُ: الْبَقُّ، الْوَاحِدَةُ بَعُوضَةٌ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِصِغَرِهَا، قَالَهُ الْجَوْهَرِيُّ وَغَيْرُهُ.
Al-ba‘ūḍ adalah serangga kecil (seperti nyamuk); satuannya disebut ba‘ūḍah,
dinamakan demikian karena kecilnya.
Demikian dikatakan oleh al-Jauhari dan selainnya.
وَقَوْلُهُ: ﴿فَمَا فَوْقَهَا﴾ قَالَ الْكِسَائِيُّ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَغَيْرُهُمَا: فَمَا فَوْقَهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ مَا دُونَهَا، أَيْ أَنَّهَا فَوْقَهَا فِي الصِّغَرِ كَجَنَاحِهَا.
Adapun firman-Nya: “fa-mā fauqahā”, al-Kisā’ī, Abu ‘Ubaidah, dan selain keduanya berkata:
“Maka apa yang di atasnya — dan Allah lebih tahu apa yang di bawahnya” —
yakni yang lebih kecil darinya dalam ukuran, seperti sayapnya.
قَالَ الْكِسَائِيُّ: وَهَذَا كَقَوْلِكَ فِي الْكَلَامِ: أَتَرَاهُ قَصِيرًا؟ فَيَقُولُ الْقَائِلُ: أَوْ فَوْقَ ذَلِكَ، أَيْ أَقْصَرُ مِمَّا تَرَى.
Al-Kisā’ī berkata: Ini seperti ucapan seseorang dalam percakapan: “Menurutmu ia pendek?”
Lalu yang lain menjawab: “Bahkan lebih dari itu,” maksudnya: lebih pendek dari apa yang engkau lihat.
وَيُمْكِنُ أَنْ يُرَادَ: فَمَا زَادَ عَلَيْهَا فِي الْكِبَرِ، وَقَدْ قَالَ بِذَلِكَ جَمَاعَةٌ.
Juga mungkin dimaksudkan: “maka (juga) apa yang lebih besar darinya (dalam ukuran).”
Dan pendapat ini dikatakan oleh sekelompok ulama.
قَوْلُهُ: فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا «أَمَّا» حَرْفٌ فِيهِ مَعْنَى الشَّرْطِ، وَقَدَّرَهُ سِيبَوَيْهِ بِـ «مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْءٍ فَكَذَا».
Firman-Nya: “Fa-ammā alladzīna āmanū...” — huruf “ammā” adalah huruf yang mengandung makna syarat.
Sibawaih menakwilkannya dengan makna: “Apa pun yang terjadi, maka (hukumnya) demikian.”
وَذَكَرَ صَاحِبُ «الْكَشَّافِ» أَنَّ فَائِدَتَهُ فِي الْكَلَامِ أَنَّهُ يُعْطِيهِ فَضْلَ تَوْكِيدٍ، وَجَعَلَ تَقْدِيرَ سِيبَوَيْهِ دَلِيلًا عَلَى ذَلِكَ.
Pemilik al-Kasysyāf menyebutkan bahwa faedah “ammā” dalam percakapan adalah memberi tambahan penekanan (ta’kīd).
Ia menjadikan takdir (penjelasan) Sibawaih sebagai dalil atas hal itu.
وَالضَّمِيرُ فِي «أَنَّهُ» رَاجِعٌ إِلَى «الْمَثَلِ».
Dhamir dalam “annahu” kembali kepada “al-mathal” (perumpamaan).
وَالْحَقُّ: الثَّابِتُ، وَهُوَ الْمُقَابِلُ لِلْبَاطِلِ، وَ«الْحَقُّ» وَاحِدُ «الْحُقُوقِ»، وَالْمُرَادُ هُنَا الْأَوَّلُ.
Al-ḥaqq adalah sesuatu yang tetap dan kokoh, kebalikan dari al-bāṭil.
Kata “al-ḥaqq” juga merupakan bentuk tunggal dari “al-ḥuqūq” (hak-hak);
yang dimaksud di sini adalah makna pertama (kebenaran yang pasti).
وَقَدِ اخْتَلَفَ النُّحَاةُ فِي «مَاذَا»، فَقِيلَ: هِيَ بِمَنْزِلَةِ اسْمٍ وَاحِدٍ بِمَعْنَى: «أَيُّ شَيْءٍ أَرَادَ اللَّهُ؟» فَتَكُونُ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ بِـ «أَرَادَ».
Para ahli nahwu berbeda pendapat tentang kata “mādzā”.
Ada yang mengatakan: ia menempati kedudukan satu isim dengan makna: “Ayyu shay’in arāda Allāhu? (hal apa yang Allah kehendaki?)”,
sehingga berada pada posisi manshub oleh kata kerja “arāda”.
قَالَ ابْنُ كَيْسَانَ: وَهُوَ الْجَيِّدُ.
Ibnu Kaysan berkata: Inilah pendapat yang baik.
وَقِيلَ: «مَا» اسْمٌ تَامٌّ فِي مَوْضِعِ رَفْعٍ بِالِابْتِدَاءِ، وَ«ذَا» بِمَعْنَى «الَّذِي»، وَهُوَ خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مَعَ صِلَتِهِ،
Ada juga yang mengatakan: “mā” adalah isim lengkap pada posisi raf‘ sebagai mubtada’,
dan “dzā” bermakna “alladzī” (yang), menjadi khabar bagi mubtada’ bersama dengan silah-nya (kalimat penjelas sesudahnya).
وَجَوَابُهُ يَكُونُ عَلَى الْأَوَّلِ مَنْصُوبًا، وَعَلَى الثَّانِي مَرْفُوعًا.
Jawaban (kalimat lanjutan) menurut pendapat pertama dibaca manshub,
sedangkan menurut pendapat kedua dibaca marfū‘.
وَالْإِرَادَةُ: نَقِيضُ الْكَرَاهَةِ، وَقَدِ اتَّفَقَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ إِطْلَاقُ هَذَا اللَّفْظِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ.
Al-irādah (kehendak) adalah lawan dari al-karāhah (ketidaksukaan).
Kaum Muslimin sepakat bahwa boleh menggunakan lafaz ini untuk Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
و«مَثَلًا» قَالَ ثَعْلَبٌ: مَنْصُوبٌ عَلَى الْقَطْعِ، وَالتَّقْدِيرُ: «أَرَادَ مَثَلًا».
Adapun kata “mathalan”, Ṯa‘lab berkata: ia manshub sebagai pemutusan (al-qaṭ‘),
dengan takdir kalimat: “Arāda mathalan (Dia menghendaki sebuah perumpamaan).”
وَقَالَ ابْنُ كَيْسَانَ: هُوَ مَنْصُوبٌ عَلَى التَّمْيِيزِ الَّذِي وَقَعَ مَوْقِعَ الْحَالِ، وَهَذَا أَقْوَى مِنَ الْأَوَّلِ.
Ibnu Kaysan berkata: Ia manshub sebagai tamyīz (kata penjelas) yang menempati posisi hal (keterangan keadaan),
dan pendapat ini lebih kuat daripada yang pertama.
وَقَوْلُهُ: ﴿يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا﴾ هُوَ كَالتَّفْسِيرِ لِلْجُمْلَتَيْنِ السَّابِقَتَيْنِ الْمُصَدَّرَتَيْنِ بِـ «أَمَّا»، فَهُوَ خَبَرٌ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ.
Firman-Nya: “Yudillu bihī kathīran wa yahdī bihī kathīrā” adalah semacam penjelasan
bagi dua kalimat sebelumnya yang diawali dengan “ammā”,
maka ia adalah berita dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
وَقِيلَ: هُوَ حِكَايَةٌ لِقَوْلِ الْكَافِرِينَ، كَأَنَّهُمْ قَالُوا: مَا مُرَادُ اللَّهِ بِهَذَا الْمَثَلِ الَّذِي يُفَرِّقُ بِهِ النَّاسَ إِلَى ضَلَالَةٍ وَإِلَى هُدًى؟
Ada juga yang mengatakan: ayat ini adalah pengisahan ucapan orang-orang kafir,
seakan-akan mereka berkata: “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini yang membagi manusia ke dalam golongan sesat dan golongan mendapat petunjuk?”
وَلَيْسَ هَذَا بِصَحِيحٍ، فَإِنَّ الْكَافِرِينَ لَا يُقِرُّونَ بِأَنَّ فِي الْقُرْآنِ شَيْئًا مِنَ الْهِدَايَةِ، وَلَا يَعْتَرِفُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِشَيْءٍ مِنَ الضَّلَالَةِ.
Namun pendapat ini tidak benar,
karena orang-orang kafir tidak mengakui bahwa di dalam al-Qur’an terdapat hidayah sedikit pun,
dan mereka tidak mau mengakui bahwa diri mereka berada dalam kesesatan.
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ: وَلَا خِلَافَ أَنَّ قَوْلَهُ: ﴿وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ﴾ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ.
Al-Qurthubi berkata: Tidak ada khilaf bahwa firman-Nya: “Dan Dia tidak menyesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik”
adalah bagian dari kalam Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
وَقَدْ أَطَالَ الْمُتَكَلِّمُونَ الْخِصَامَ فِي تَفْسِيرِ «الضَّلَالِ» الْمَذْكُورِ هُنَا وَفِي نِسْبَتِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ.
Para ahli kalam telah memanjangkan perdebatan dalam menafsirkan “kesesatan” yang disebut di sini
dan dalam hal penisbatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
وَقَدْ نَقَّحَ الْبَحْثَ الرَّازِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ «مَفَاتِيحِ الْغَيْبِ» فِي هَذَا الْمَوْضِعِ تَنْقِيحًا نَفِيسًا، وَجَوَّدَهُ وَطَوَّلَهُ وَأَوْضَحَ فُرُوعَهُ وَأُصُولَهُ، فَلْيُرْجَعْ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ مُفِيدٌ جِدًّا.
Ar-Razi telah menyaring pembahasan ini dalam tafsirnya, Mafatīḥ al-Ghayb, di tempat ini dengan penyaringan yang sangat berharga;
ia membahas dengan baik, memanjangkannya, dan menjelaskan cabang-cabang serta kaidah-kaidahnya.
Maka hendaklah dirujuk, karena sangat bermanfaat.
وَأَمَّا صَاحِبُ «الْكَشَّافِ» فَقَدِ اعْتَمَدَ هَاهُنَا عَلَى عَصَاهُ الَّتِي يَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا فِي تَفْسِيرِهِ،
Adapun pemilik al-Kasysyāf, di sini ia bertumpu pada “tongkat”-nya yang biasa ia jadikan sandaran dalam tafsirnya,
فَجَعَلَ إِسْنَادَ «الْإِضْلَالِ» إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِكَوْنِهِ سَبَبًا، فَهُوَ مِنَ الْإِسْنَادِ الْمَجَازِيِّ إِلَى مُلَابِسٍ لِلْفَاعِلِ الْحَقِيقِيِّ.
ia menjadikan penisbatan “penyesatan” kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam arti Dia sebagai sebab,
sehingga itu adalah isnad majāzi kepada sesuatu yang berkaitan dengan pelaku hakiki (yakni manusia).
وَحَكَى الْقُرْطُبِيُّ عَنْ أَهْلِ الْحَقِّ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ: «يُضِلُّ» يَخْذُلُ.
Al-Qurthubi menukil dari para mufasir Ahlul-Haq bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya “yudillu” adalah “menelantarkan” (yakni tidak memberi taufik).
وَالْفِسْقُ: الْخُرُوجُ عَنِ الشَّيْءِ، يُقَالُ: فَسَقَتِ الرُّطَبَةُ إِذَا خَرَجَتْ عَنْ قِشْرِهَا، وَ«الْفَأْرَةُ» مِنْ جُحْرِهَا، ذَكَرَ مَعْنَى هَذَا الْفَرَّاءُ.
Al-fisq adalah keluar dari suatu batas;
dikatakan: “fasaqat ar-rutbah” apabila buah kurma basah itu keluar dari kulitnya,
dan (juga dikatakan) “keluarnya tikus dari lubangnya.”
Makna ini dijelaskan oleh al-Farrā’.
وَقَدِ اسْتَشْهَدَ أَبُو بَكْرِ بْنُ الْأَنْبَارِيِّ فِي كِتَابِهِ «الزَّاهِرِ» لَهُ عَلَى مَعْنَى الْفِسْقِ بِقَوْلِ رُؤْبَةَ بْنِ الْعَجَّاجِ:
Abu Bakr bin al-Anbari dalam kitabnya az-Zāhir menjadikan syair Ru’bah bin al-‘Ajjāj sebagai dalil atas makna “fisq”:
يَهْوِينَ فِي نَجْدٍ وَغَوْرًا غَائِرًا … فَوَاسِقًا عَنْ قَصْدِهَا جَوَائِرَا3
“Ia (unta-unta) turun (dari jalan utama) di tanah tinggi Najd dan ke lembah yang dalam;
maka ia menjauh (fasāqi) dari tujuan arahnya, berbelok-belok.”
وَقَدْ زَعَمَ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ أَنَّهُ لَمْ يُسْمَعْ قَطُّ فِي كَلَامِ الْجَاهِلِيَّةِ وَلَا فِي شِعْرِهِمْ «فَاسِقٌ»،
Ibnu al-A‘rabi beranggapan bahwa kata “fāsiq” tidak pernah terdengar dalam ucapan maupun syair orang-orang Jahiliah.
وَهَذَا مَرْدُودٌ عَلَيْهِ، فَقَدْ حَكَى ذَلِكَ عَنِ الْعَرَبِ وَأَنَّهُ مِنْ كَلَامِهِمْ جَمَاعَةٌ مِنْ أَئِمَّةِ اللُّغَةِ، كَابْنِ فَارِسٍ وَالْجَوْهَرِيِّ وَابْنِ الْأَنْبَارِيِّ وَغَيْرِهِمْ.
Pendapat ini tertolak,
karena sekelompok imam bahasa seperti Ibnu Faris, al-Jauhari, Ibnu al-Anbari, dan selain mereka
telah menukil bahwa kata itu berasal dari bahasa Arab dan termasuk dalam ucapan mereka.
وَقَدْ ثَبَتَ فِي «الصَّحِيحِ» عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «خَمْسُ فَوَاسِقَ» الْحَدِيثَ.
Dalam Shahih (al-Bukhari dan Muslim) telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
“Lima hewan fawāsiq (pengganggu) ...” — hingga akhir hadis.
وَقَالَ فِي «الْكَشَّافِ»: الْفِسْقُ الْخُرُوجُ عَنِ الْقَصْدِ، ثُمَّ ذَكَرَ عَجُزَ بَيْتِ رُؤْبَةَ الْمَذْكُورِ، ثُمَّ قَالَ: وَالْفَاسِقُ فِي الشَّرِيعَةِ: الْخَارِجُ عَنْ أَمْرِ اللَّهِ بَارْتِكَابِ الْكَبِيرَةِ. انْتَهَى.
Dalam al-Kasysyāf disebutkan: “Al-fisq adalah keluar dari arah yang lurus”,
kemudian ia menyebut bagian akhir bait Ru’bah tadi,
lalu berkata: “Sedangkan al-fāsiq dalam syariat adalah orang yang keluar dari perintah Allah dengan melakukan dosa besar.” Selesai.
وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ: وَالْفِسْقُ فِي عُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ الشَّرْعِيِّ: الْخُرُوجُ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ يَقَعُ عَلَى مَنْ خَرَجَ بِكُفْرٍ وَعَلَى مَنْ خَرَجَ بِعِصْيَانٍ. انْتَهَى.
Al-Qurthubi berkata: Fisq dalam kebiasaan pemakaian syar‘i adalah keluar dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Istilah ini bisa mengenai orang yang keluar dengan kekufuran dan juga orang yang keluar dengan maksiat. Selesai.
وَهَذَا هُوَ أَنْسَبُ بِالْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ، وَلَا وَجْهَ لِقَصْرِهِ عَلَى بَعْضِ الْخَارِجِينَ دُونَ بَعْضٍ.
Inilah yang paling sesuai dengan makna bahasa;
tidak ada alasan untuk membatasinya hanya pada sebagian orang yang keluar (dari ketaatan) tanpa sebagian yang lain.
قَالَ الرَّازِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ: وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْقِبْلَةِ: هَلْ هُوَ مُؤْمِنٌ أَوْ كَافِرٌ؟ فَعِنْدَ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ مُؤْمِنٌ، وَعِنْدَ الْخَوَارِجِ أَنَّهُ كَافِرٌ، وَعِنْدَ الْمُعْتَزِلَةِ لَا مُؤْمِنٌ وَلَا كَافِرٌ،
Ar-Razi berkata dalam tafsirnya:
“Ulama Ahlul-Qiblah berbeda pendapat: apakah al-fāsiq itu mukmin atau kafir?
Menurut ulama kami (Ahlus-Sunnah), ia adalah mukmin.
Menurut Khawarij, ia adalah kafir.
Sedangkan menurut Mu‘tazilah, ia bukan mukmin dan bukan kafir.”
وَاحْتَجَّ الْمُخَالِفُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ﴾4 وَقَوْلِهِ: ﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾5 وَقَوْلِهِ: ﴿حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ﴾6.
Pihak yang menyelisihi (Ahlus-Sunnah) berdalil dengan firman-Nya Ta‘ala:
“Amat buruklah sebutan fasik itu sesudah beriman,”4
dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik,”5
serta firman-Nya: “(Allah) menjadikan kalian mencintai iman dan menghiasinya di dalam hati kalian,
serta menjadikan kalian benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan.”6
وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ طَوِيلَةٌ مَذْكُورَةٌ فِي عِلْمِ الْكَلَامِ. انْتَهَى.
Masalah ini pembahasannya panjang lebar dan telah disebutkan dalam ilmu kalam. Selesai.
وَقَوْلُهُ: ﴿الَّذِينَ يَنْقُضُونَ﴾ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ وَصْفًا لِلْفَاسِقِينَ.
Firman-Nya: “alladzīna yanquḍūn(a)” berada pada posisi manshub sebagai sifat bagi “al-fāsiqīn”.
وَالنَّقْضُ: إِفْسَادُ مَا أُبْرِمَ مِنْ بِنَاءٍ أَوْ حَبْلٍ أَوْ عَهْدٍ، وَ«النُّقَاضَةُ»: مَا نُقِضَ مِنْ حَبْلِ الشَّعْرِ.
An-naqḍ adalah merusak sesuatu yang telah dipintal atau disusun,
baik berupa bangunan, tali, ataupun perjanjian.
Sedangkan “an-nuqāḍah” adalah rambut yang rusak (terurai) dari jalinannya.
وَالْعَهْدُ: قِيلَ هُوَ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ عَلَى بَنِي آدَمَ حِينَ اسْتَخْرَجَهُمْ مِنْ ظَهْرِهِ،
Al-‘ahd (perjanjian) — ada yang mengatakan: ia adalah perjanjian yang Allah ambil dari Bani Adam
ketika Dia mengeluarkan mereka dari tulang sulbi (Adam).
وَقِيلَ: هُوَ وَصِيَّةُ اللَّهِ إِلَى خَلْقِهِ، وَأَمْرُهُ إِيَّاهُمْ بِمَا أَمَرَهُمْ بِهِ مِنْ طَاعَتِهِ، وَنَهْيُهُ إِيَّاهُمْ عَمَّا نَهَاهُمْ عَنْهُ مِنْ مَعْصِيَتِهِ فِي كُتُبِهِ عَلَى أَلْسُنِ رُسُلِهِ، وَنَقْضُهُمْ ذَلِكَ: تَرْكُ الْعَمَلِ بِهِ.
Ada pula yang mengatakan: ia adalah wasiat Allah kepada makhluk-Nya,
yakni perintah-Nya kepada mereka untuk menaati-Nya dan larangan-Nya dari bermaksiat kepada-Nya,
yang tercantum dalam kitab-kitab-Nya melalui lisan para rasul-Nya.
Sedangkan “mereka melanggarnya” adalah meninggalkan pengamalan terhadapnya.
وَقِيلَ: بَلْ هُوَ نَصْبُ الْأَدِلَّةِ عَلَى وَحْدَانِيَّتِهِ بِالسَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَسَائِرِ مَخْلُوقَاتِهِ، وَنَقْضُهُ: تَرْكُ النَّظَرِ فِيهِ.
Ada yang mengatakan: yang dimaksud adalah Allah menegakkan dalil-dalil atas keesaan-Nya melalui langit, bumi, dan seluruh makhluk-Nya.
Melanggarnya adalah meninggalkan tadabbur (perenungan) atas dalil-dalil itu.
وَقِيلَ: هُوَ مَا عَهِدَهُ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ.
Ada lagi yang mengatakan: ia adalah perjanjian yang Allah bebankan kepada orang-orang yang diberi kitab,
yaitu agar mereka menjelaskannya kepada manusia.
وَالْمِيثَاقُ: الْعَهْدُ الْمُؤَكَّدُ بِالْيَمِينِ، «مِفْعَالٌ» مِنَ الْوِثَاقَةِ، وَهِيَ الشِّدَّةُ فِي الْعَقْدِ وَالرَّبْطِ، وَالْجَمْعُ: الْمَوَاثِيقُ وَالْمَيَاثِيقُ.
Al-mīṯāq adalah perjanjian yang dikuatkan dengan sumpah,
berbentuk wazan “mif‘āl” dari kata al-wiṯāqah (keterikatan kuat),
yakni kekokohan dalam pengikatan dan pengokohan.
Bentuk jamaknya adalah “al-mawāṯīq” dan “al-mayāṯīq”.
وَأَنْشَدَ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ:
Ibnu al-A‘rabi mengutip syair:
حِمًى لَا يُحَلُّ الدَّهْرَ إِلَّا بِإِذْنِنَا … وَلَا نَسْأَلُ الْأَقْوَامَ عَهْدَ الْمَيَاثِيقِ
“(Daerah) himā (perlindungan) yang tak boleh dimasuki selamanya kecuali dengan izin kami;
dan kami tak meminta kepada kaum-kaum itu perjanjian-perjanjian yang berat.”
وَاسْتِعْمَالُ «النَّقْضِ» فِي إِبْطَالِ الْعَهْدِ عَلَى سَبِيلِ الِاسْتِعَارَةِ.
Penggunaan kata “naqḍ” (merusak) untuk membatalkan perjanjian adalah secara majaz (kiasan).
وَالْقَطْعُ مَعْرُوفٌ، وَالْمَصْدَرُ فِي الرَّحِمِ «الْقَطِيعَةُ»، وَقَطَعْتُ الْحَبْلَ قَطْعًا، وَقَطَعْتُ النَّهْرَ قَطْعًا.
Adapun al-qaṭ‘ (memutus) sudah dikenal maknanya.
Bentuk mashdarnya dalam konteks hubungan silaturahim adalah “al-qaṭī‘ah” (memutus hubungan).
Dikatakan: “Aku memutus tali (qaṭa‘tul-ḥabla qaṭ‘an)” dan “Aku menyeberangi sungai (qaṭa‘tun-nahra qaṭ‘an).”
و«ما» فِي قَوْلِهِ: ﴿مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ﴾ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ بِـ «يَقْطَعُونَ»، وَ«أَنْ يُوصَلَ» فِي مَحَلِّ نَصْبٍ بِـ «أَمَرَ».
Kata “mā” dalam firman-Nya: “mā amara Allāhu bihī” berada pada posisi manshub oleh kata kerja “yaqṭa‘ūn(a)”.
Sedangkan “an yūṣal(a)” berada pada posisi manshub oleh kata kerja “amara”.
وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ بَدَلًا مِنْ «مَا» أَوْ مِنَ «الْهَاءِ» فِي «بِهِ».
Ada kemungkinan juga “an yūṣal(a)” menjadi badal dari “mā” atau dari dhamir “hā” pada kata “bihī”.
وَاخْتَلَفُوا فِي مَا هُوَ الشَّيْءُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِوَصْلِهِ؛ فَقِيلَ: «الْأَرْحَامُ»،
Mereka berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan sesuatu yang Allah perintahkan untuk disambungkan.
Ada yang mengatakan: itu adalah hubungan kekerabatan (arḥām).
وَقِيلَ: أَمَرَ أَنْ يُوصَلَ الْقَوْلُ بِالْعَمَلِ،
Ada yang mengatakan: Allah memerintahkan agar ucapan dihubungkan dengan amal (yakni konsistensi antara ucapan dan perbuatan).
وَقِيلَ: أَمَرَ أَنْ يُوصَلَ التَّصْدِيقُ بِجَمِيعِ أَنْبِيَائِهِ، فَقَطَعُوهُ بِتَصْدِيقِ بَعْضِهِمْ وَتَكْذِيبِ الْبَعْضِ الْآخَرِ،
Ada yang mengatakan: Allah memerintahkan agar keimanan mencakup seluruh nabi-Nya,
tetapi mereka memutuskannya dengan hanya membenarkan sebagian dan mendustakan yang lain.
وَقِيلَ: الْمُرَادُ بِهِ حِفْظُ شَرَائِعِهِ وَحُدُودِهِ الَّتِي أَمَرَ فِي كُتُبِهِ الْمُنَزَّلَةِ وَعَلَى أَلْسُنِ رُسُلِهِ بِالْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا، فَهِيَ عَامَّةٌ، وَبِهِ قَالَ الْجُمْهُورُ، وَهُوَ الْحَقُّ.
Ada pula yang mengatakan: yang dimaksud adalah menjaga syariat-syariat dan batasan-batasan-Nya,
yang Allah perintahkan dalam kitab-kitab yang diturunkan dan melalui lisan para rasul-Nya untuk dijaga.
Maka maknanya umum, dan inilah pendapat jumhur serta itulah yang benar.
وَالْمُرَادُ بِالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ: الْأَفْعَالُ وَالْأَقْوَالُ الْمُخَالِفَةُ لِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ، كَعِبَادَةِ غَيْرِهِ، وَالْإِضْرَارِ بِعِبَادِهِ، وَتَغْيِيرِ مَا أَمَرَ بِحِفْظِهِ،
Yang dimaksud dengan “kerusakan di bumi” adalah perbuatan dan ucapan yang menyelisihi apa yang Allah perintahkan,
seperti menyembah selain-Nya, menyakiti hamba-hamba-Nya, dan mengubah apa yang diperintahkan untuk dijaga,
وَبِالْجُمْلَةِ فَكُلُّ مَا خَالَفَ الصَّلَاحَ شَرْعًا أَوْ عَقْلًا فَهُوَ فَسَادٌ.
dan secara ringkas: segala sesuatu yang bertentangan dengan kemaslahatan menurut syariat ataupun akal adalah kerusakan.
وَالْخُسْرَانُ: النُّقْصَانُ، وَالْخَاسِرُ: هُوَ الَّذِي نَقَصَ نَفْسَهُ مِنَ الْفَلَاحِ وَالْفَوْزِ،
Al-khusrān adalah kekurangan (kerugian).
Al-khāsir adalah orang yang mengurangi dirinya dari keberuntungan dan kemenangan.
وَهَؤُلَاءِ لَمَّا اسْتَبْدَلُوا النَّقْضَ بِالْوَفَاءِ، وَالْقَطْعَ بِالْوَصْلِ، كَانَ عَمَلُهُمْ فَسَادًا لِمَا نَقَصُوا أَنْفُسَهُمْ مِنَ الْفَلَاحِ وَالرِّبْحِ.
Mereka (yang fasik ini), ketika mengganti sikap menepati dengan melanggar,
dan mengganti penyambungan (silaturahim dan ketaatan) dengan pemutusan,
maka perbuatan mereka adalah kerusakan, karena mereka telah mengurangi diri mereka dari keberuntungan dan keuntungan.
فَتْحُ الْقَدِيرِ لِلشَّوْكَانِيِّ - ج ١ (ص: ٦٩)
Fathul Qadîr karya asy-Syaukani – Jilid 1 (hlm. 69).
وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَنَاسٍ مِنَ الصَّحَابَةِ قَالُوا:
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud dan sejumlah sahabat, mereka berkata:
لَمَّا ضَرَبَ اللَّهُ هَذَيْنِ الْمَثَلَيْنِ لِلْمُنَافِقِينَ قَوْلَهُ: ﴿مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا﴾ وَقَوْلَهُ: ﴿أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ﴾ قَالَ الْمُنَافِقُونَ: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ مِنْ أَنْ يَضْرِبَ هَذِهِ الْأَمْثَالَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا﴾ الْآيَةَ.
Ketika Allah membuat dua perumpamaan ini bagi orang-orang munafik, yaitu firman-Nya:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api,” dan firman-Nya:
“atau seperti hujan lebat yang turun dari langit,”
orang-orang munafik berkata: “Allah lebih tinggi dan lebih agung daripada membuat perumpamaan-perumpamaan ini.”
Maka Allah menurunkan ayat: “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan ...” hingga akhir ayat.
وَأَخْرَجَ الْوَاحِدِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:
Al-Wahidi dalam tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:
إِنَّ اللَّهَ ذَكَرَ آلِهَةَ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: ﴿وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا﴾7، وَذَكَرَ كَيْدَ الْآلِهَةِ فَجَعَلَهُ كَبَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ،
“Sesungguhnya Allah menyebut tuhan-tuhan orang musyrik, lalu Dia berfirman:
‘Dan jika lalat merampas sesuatu dari mereka ...’7
Dan Dia menyebut tipu daya tuhan-tuhan itu lalu menjadikannya seperti rumah laba-laba.
فَقَالُوا: أَرَأَيْتَ حَيْثُ ذَكَرَ اللَّهُ الذُّبَابَ وَالْعَنْكَبُوتَ فِيمَا أَنْزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلَى مُحَمَّدٍ أَيُّ شَيْءٍ كَانَ يَصْنَعُ بِهَذَا؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي﴾.
Maka mereka berkata: “Bagaimana menurutmu, ketika Allah menyebut lalat dan laba-laba dalam apa yang diturunkan dari al-Qur’an kepada Muhammad,
untuk apa gunanya ini?”
Lalu Allah menurunkan (ayat): “Sesungguhnya Allah tidak segan ...”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ قَتَادَةَ نَحْوَ قَوْلِ ابْنِ عَبَّاسٍ.
‘Abdur Razzaq, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah
dengan riwayat yang semakna dengan ucapan Ibnu ‘Abbas ini.
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ﴾8 قَالَ الْمُشْرِكُونَ: مَا هَذَا مِنَ الْأَمْثَالِ فَيُضْرَبُ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Hasan, ia berkata:
“Ketika turun firman-Nya: ‘Wahai manusia, dibuat satu perumpamaan ...’8,
orang-orang musyrik berkata: ‘Apa ini? Perumpamaan apa yang dibuat seperti ini?’
Maka Allah menurunkan ayat ini.”
فَتْحُ الْقَدِيرِ لِلشَّوْكَانِيِّ - ج ١ (ص: ٧٠)
Fathul Qadîr karya asy-Syaukani – Jilid 1 (hlm. 70).
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ﴾ قَالَ: يُؤْمِنُ بِهِ الْمُؤْمِنُ، وَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ، وَيَهْدِيهِمُ اللَّهُ بِهِ، وَيَعْرِفُهُ الْفَاسِقُونَ فَيَكْفُرُونَ بِهِ.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu al-‘Āliyah, tentang firman-Nya Ta‘ala:
“Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka,”
ia berkata: “Orang mukmin beriman kepadanya dan mereka mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka;
Allah memberi petunjuk kepada mereka dengannya.
Sedangkan orang-orang fasik mengetahuinya, lalu mereka kafir terhadapnya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَنَاسٍ مِنَ الصَّحَابَةِ فِي قَوْلِهِ: ﴿يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا﴾ يَعْنِي الْمُنَافِقِينَ، ﴿وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا﴾ يَعْنِي الْمُؤْمِنِينَ، ﴿وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ﴾ قَالَ: هُمُ الْمُنَافِقُونَ.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud dan sejumlah sahabat, tentang firman-Nya:
“Yudillu bihī kathīrā” — maksudnya adalah orang-orang munafik;
“wa yahdī bihī kathīrā” — maksudnya orang-orang mukmin;
“wa mā yudillu bihī illā al-fāsiqīn” — ia berkata: “Mereka adalah orang-orang munafik.”
وَفِي قَوْلِهِ: ﴿يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ﴾ قَالَ: هُوَ مَا عَهِدَ إِلَيْهِمْ فِي الْقُرْآنِ فَأَقَرُّوا بِهِ ثُمَّ كَفَرُوا فَنَقَضُوهُ.
Dan tentang firman-Nya: “Mereka melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh,” ia berkata:
“Itulah apa yang telah Dia janjikan kepada mereka di dalam al-Qur’an, lalu mereka mengakuinya, kemudian kafir dan melanggarnya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ﴾ يَقُولُ: يَعْرِفُهُ الْكَافِرُونَ فَيَكْفُرُونَ بِهِ.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, tentang firman-Nya:
“Dan Dia tidak menyesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik”, ia berkata:
“Orang-orang kafir mengenalnya, kemudian mereka kafir terhadapnya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: فَسَقُوا فَأَضَلَّهُمُ اللَّهُ بِفِسْقِهِمْ.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, ia berkata:
“Mereka berbuat fasik, maka Allah menyesatkan mereka karena kefasikan mereka.”
وَأَخْرَجَ الْبُخَارِيُّ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: «الْحَرُورِيَّةُ» هُمُ الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ، وَكَانَ يُسَمِّيهِمُ «الْفَاسِقِينَ».
Al-Bukhari, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa‘d bin Abi Waqqash, ia berkata:
“Al-ḥarūriyyah (kaum Khawarij) adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh,”
dan ia biasa menyebut mereka sebagai “orang-orang fasik”.
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَأَبُو الشَّيْخِ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: مَا نَعْلَمُ اللَّهَ أَوْعَدَ فِي ذَنْبٍ مَا أَوْعَدَ فِي نَقْضِ هَذَا الْمِيثَاقِ، فَمَنْ أَعْطَى عَهْدَ اللَّهِ وَمِيثَاقَهُ مِنْ ثَمَرَةِ قَلْبِهِ فَلْيُوفِ لِلَّهِ.
‘Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Abu asy-Syaikh meriwayatkan dari Qatadah, ia berkata:
“Kami tidak mengetahui bahwa Allah mengancam dalam satu dosa pun seperti ancaman-Nya terhadap pelanggaran mīṯāq (perjanjian) ini.
Maka siapa yang telah memberikan janji dan mīṯāq kepada Allah dari lubuk hatinya, hendaklah ia memenuhinya untuk Allah.”
وَقَدْ ثَبَتَ عَن رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي أَحَادِيثَ ثَابِتَةٍ فِي «الصَّحِيحِ» وَغَيْرِهِ مِنْ طَرِيقِ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ النَّهْيُ عَنْ نَقْضِ الْعَهْدِ وَالْوَعِيدُ الشَّدِيدُ عَلَيْهِ.
Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetap dalam hadis-hadis sahih di Shahih dan selainnya,
melalui banyak sahabat, larangan keras dari melanggar perjanjian dan ancaman yang berat terhadapnya.
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَابْنُ جَرِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ﴾ قَالَ: الرَّحِمُ وَالْقُرَابَةُ.
‘Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, tentang firman-Nya:
“Dan mereka memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan,” ia berkata:
“Yaitu hubungan rahim dan kekerabatan.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ السُّدِّيِّ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ﴾ قَالَ: يَعْمَلُونَ فِيهَا بِالْمَعْصِيَةِ.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi, tentang firman-Nya: “Dan mereka berbuat kerusakan di bumi,” ia berkata:
“Mereka beramal di bumi dengan kemaksiatan.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ مُقَاتِلٍ فِي قَوْلِهِ: ﴿أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾ يَقُولُ: هُمْ أَهْلُ النَّارِ.
Ibnu al-Mundzir meriwayatkan dari Muqatil, tentang firman-Nya: “Mereka itulah orang-orang yang merugi,” ia berkata:
“Mereka adalah penghuni neraka.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُلُّ شَيْءٍ نَسَبَهُ اللَّهُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِ الْإِسْلَامِ، مِثْلِ: خَاسِرٍ، وَمُسْرِفٍ، وَظَالِمٍ، وَمُجْرِمٍ، وَفَاسِقٍ، فَإِنَّمَا يَعْنِي بِهِ الْكُفْرَ، وَمَا نَسَبَهُ إِلَى أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَإِنَّمَا يَعْنِي بِهِ الذَّمَّ.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:
“Setiap sifat yang Allah sandarkan kepada selain Ahlul-Islam,
seperti khāsir (orang yang rugi), musrif (melampaui batas), ẓālim (zalim), mujrim (berdosa), dan fāsiq,
maka yang dimaksud adalah kekufuran.
Sedangkan jika disandarkan kepada Ahlul-Islam, maka yang dimaksud hanyalah celaan (bukan keluar dari iman).”
---
1 ٱلْبَقَرَةُ: ١٧ Al-Baqarah: 17.
2 ٱلْبَقَرَةُ: ١٩ Al-Baqarah: 19.
3 فِي ٱلْقُرْطُبِيِّ: «يَذْهَبْنَ» مَكَانَ «يَهْوِينَ» Dalam Tafsir al-Qurthubi lafaz syair dibaca “يَذْهَبْنَ (pergi/menjauh)” sebagai ganti “يَهْوِينَ”.
4 ٱلْحُجُرَاتُ: ١١ Al-Ḥujurât: 11.
5 ٱلتَّوْبَةُ: ٦٧ At-Tawbah: 67.
6 ٱلْحُجُرَاتُ: ٧ Al-Ḥujurât: 7.
7 ٱلْحَجُّ: ٧٣ Al-Ḥajj: 73 (bagian “وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْئًا”).
8 ٱلْحَجُّ: ٧٣ Al-Ḥajj: 73 (bagian “يَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ”).