Al Baqarah Ayat 125-128
[سُورَةُ البَقَرَةِ (٢): الآيَاتُ ١٢٥ إِلَى ١٢٨]
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (١٢٥)
Dan (ingatlah) ketika Kami jadikan Baitullah (Ka‘bah) sebagai tempat kembali bagi manusia dan (tempat) yang aman.
Dan (Kami perintahkan), “Jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.”
Dan Kami telah mengambil perjanjian dari Ibrahim dan Ismail, “Sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang beri‘tikaf, dan yang ruku’ serta sujud (shalat).”
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٢٦)
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Tuhanku, jadikanlah (negeri) ini sebagai negeri yang aman, dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, (yaitu) di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.”
(Allah) berfirman, “Dan (juga) kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menuju azab neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧)
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa),
“Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (١٢٨)
“Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri (tunduk patuh) kepada-Mu,
dan (jadikanlah) dari keturunan kami satu umat yang berserah diri kepada-Mu.
Tunjukkanlah kepada kami manasik (tata cara ibadah haji) kami, dan terimalah taubat kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
---
قَوْلُهُ: عَهِدْنَا مَعْنَاهُ هُنَا: أَمَرْنَا أَوْ أَوْجَبْنَا.
Firman-Nya: “عَهِدْنَا” (Kami telah mengambil perjanjian) di sini maknanya adalah, “Kami memerintahkan” atau “Kami mewajibkan.”
وَقَوْلُهُ: أَنْ طَهِّرَا فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ بِنَزْعِ الْخَافِضِ، أَيْ: بِأَنْ طَهِّرَا، قَالَهُ الْكُوفِيُّونَ،
Firman-Nya: “أَنْ طَهِّرَا” secara posisi i‘rab adalah manshub karena pembuangan huruf jar,
yakni asalnya “بِأَنْ طَهِّرَا”; demikian dikatakan oleh para ahli nahwu dari Kufah.
وَقَالَ سِيبَوَيْهِ: هُوَ بِتَقْدِيرِ أَيْ الْمُفَسِّرَةِ، أَيْ: أَنْ طَهِّرَا، فَلَا مَوْضِعَ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ.
Sibawaih berkata: Ia berdasarkan takdir huruf “أَيْ” yang menjelaskan, yakni “(yaitu) sucikanlah”.
Maka huruf “أَنْ” di sini tidak mempunyai tempat dalam i‘rab (tidak dihukumi manshub/majrur).
وَالْمُرَادُ بِالتَّطْهِيرِ: قِيلَ: مِنَ الْأَوْثَانِ،
Yang dimaksud dengan “pensucian” (tathhir) itu, ada yang mengatakan: dari berhala-berhala.
وَقِيلَ: مِنَ الْآفَاتِ وَالرِّيَبِ،
Ada yang mengatakan: dari berbagai bencana dan keraguan (hal-hal yang meragukan).
وَقِيلَ: مِنَ الْكُفَّارِ،
Ada yang mengatakan: dari orang-orang kafir.
وَقِيلَ: مِنَ النَّجَاسَاتِ، وَطَوَافِ الْجُنُبِ، وَالْحَائِضِ، وَكُلِّ خَبِيثٍ.
Ada yang mengatakan: dari najis-najis, dari (perbuatan) thawaf orang junub dan perempuan haid, dan dari segala yang kotor.
وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يُخْتَصُّ بِنَوْعٍ مِنْ هَذِهِ الْأَنْوَاعِ،
Yang tampak (lebih kuat) adalah bahwa (perintah) itu tidak khusus pada satu jenis dari jenis-jenis ini saja,
وَأَنَّ كُلَّ مَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ مُسَمَّى التَّطْهِيرِ فَهُوَ يَتَنَاوَلُهُ إِمَّا تَنَاوُلًا شُمُولِيًّا أَوْ بَدَلِيًّا،
dan bahwa setiap sesuatu yang layak disebut “pensucian” tercakup di dalamnya,
baik secara menyeluruh (semua) maupun secara bergantian (sebagian demi sebagian).
وَالْإِضَافَةُ فِي قَوْلِهِ: بَيْتِيَ لِلتَّشْرِيفِ وَالتَّكْرِيمِ.
Idhafah (penyandaran) pada firman-Nya “بَيْتِيَ” (rumah-Ku) adalah untuk memuliakan dan memuliakan kedudukannya.
وَقَرَأَ الْحَسَنُ، وَابْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، وَأَهْلُ الْمَدِينَةِ، وَهِشَامٌ، وَحَفْصٌ: «بَيْتِيَ» بِفَتْحِ الْيَاءِ،
Al-Hasan, Ibnu Abi Ishaq, penduduk Madinah, Hisyam, dan Hafsh membaca “بَيْتِيَ” dengan fathah pada huruf ya’.
وَقَرَأَ الْآخَرُونَ بِإِسْكَانِهَا.
Sedangkan qāri’ yang lain membacanya dengan mensukunkan huruf ya’.
وَالطَّائِفُ: الَّذِي يَطُوفُ بِهِ،
“Thāif” adalah orang yang melakukan thawaf di sekelilingnya (Ka‘bah).
وَقِيلَ: الْغَرِيبُ الطَّارِئُ عَلَى مَكَّةَ.
Ada yang mengatakan: yang dimaksud thāif adalah orang asing yang datang ke Makkah (pendatang).
وَالْعَاكِفُ: الْمُقِيمُ،
“‘Ākif” adalah orang yang menetap (berdiam).
وَأَصْلُ الْعُكُوفِ فِي اللُّغَةِ: اللُّزُومُ وَالْإِقْبَالُ عَلَى الشَّيْءِ،
Asal kata “‘ukūf” dalam bahasa adalah menetap dan menghadap penuh kepada sesuatu.
وَقِيلَ: هُوَ الْمُجَاوِرُ دُونَ الْمُقِيمِ مِنْ أَهْلِهَا.
Ada pula yang mengatakan: yang dimaksud ‘ākif adalah orang yang bertetangga (bermukim untuk ibadah) bukan penduduk asli Makkah.
وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: الرُّكَّعِ السُّجُودِ الْمُصَلُّونَ،
Yang dimaksud dengan “الرُّكَّعِ السُّجُودِ” adalah orang-orang yang shalat.
وَخَصَّ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ بِالذِّكْرِ لِأَنَّهُمَا أَشْرَفُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ.
Kedua rukun ini (ruku’ dan sujud) disebutkan secara khusus karena keduanya adalah rukun shalat yang paling mulia.
وَقَوْلُهُ: وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ سَتَأْتِي الْأَحَادِيثُ الدَّالَّةُ عَلَى أَنَّ إِبْرَاهِيمَ هُوَ الَّذِي حَرَّمَ مَكَّةَ،
Firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata …” — akan datang hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Ibrahim-lah yang menjadikan Makkah sebagai tanah haram.
وَالْأَحَادِيثُ الدَّالَّةُ عَلَى أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَهَا يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ،
Dan (juga) hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Allah telah menjadikannya tanah haram pada hari Dia menciptakan langit dan bumi,
وَالْجَمْعُ بَيْنَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ فِي هَذَا الْبَحْثِ.
Beserta (penjelasan) cara mengkompromikan hadits-hadits tersebut akan disebutkan pada pembahasan ini.
وَقَوْلُهُ: بَلَدًا آمِنًا أَيْ: مَكَّةَ،
Firman-Nya: “(negeri) yang aman” maksudnya Makkah.
وَالْمُرَادُ: الدُّعَاءُ لِأَهْلِهِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِ وَغَيْرِهِمْ،
Yang dimaksud adalah doa bagi penduduknya, baik dari keturunannya maupun selain mereka,
كَقَوْلِهِ: عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ1 أَيْ: رَاضٍ صَاحِبُهَا.
Seperti firman-Nya: “(mendapat) kehidupan yang diridhai,”1 maksudnya: pemiliknya ridha (terhadap kehidupan itu).
وَقَوْلُهُ: مَنْ آمَنَ بَدَلٌ مِنْ قَوْلِهِ: أَهْلَهُ،
Firman-Nya: “مَنْ آمَنَ” adalah badal (pengganti) dari kata “أَهْلَهُ”.
أَيِ: ارْزُقْ مَنْ آمَنَ مِنْ أَهْلِهِ دُونَ مَنْ كَفَرَ.
Yakni (doa Ibrahim): “Berilah rezeki kepada orang yang beriman dari penduduknya, bukan kepada yang kafir.”
وَقَوْلُهُ: وَمَنْ كَفَرَ الظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا مِنْ كَلَامِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ،
Firman-Nya: “Dan (juga) kepada orang yang kafir …” tampak bahwa ini merupakan ucapan Allah Yang Mahasuci,
رَدٌّ عَلَى إِبْرَاهِيمَ حَيْثُ طَلَبَ الرِّزْقَ لِلْمُؤْمِنِينَ دُونَ غَيْرِهِمْ،
sebagai jawaban terhadap Ibrahim yang memohon rezeki bagi orang-orang beriman saja, tidak bagi selain mereka.
أَيْ: وَأَرْزُقُ مَنْ كَفَرَ، فَأُمَتِّعُهُ بِالرِّزْقِ قَلِيلًا، ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ.
Maksudnya: “Dan Aku (juga) akan memberi rezeki kepada orang yang kafir, Aku beri ia kesenangan dengan rezeki dalam waktu yang singkat, kemudian Aku paksa ia menuju azab neraka.”
وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ كَلَامًا مُسْتَقِلًّا بَيَانًا لِحَالِ مَنْ كَفَرَ،
Ada kemungkinan pula bahwa kalimat ini merupakan ucapan yang berdiri sendiri, sebagai penjelasan keadaan orang yang kafir,
وَيَكُونَ فِي حُكْمِ الْإِخْبَارِ عَنْ حَالِ الْكَافِرِينَ بِهَذِهِ الْجُمْلَةِ الشَّرْطِيَّةِ،
dan ia berstatus sebagai pemberitahuan tentang keadaan orang kafir dengan kalimat syarat ini:
أَيْ: مَنْ كَفَرَ فَإِنِّي أُمَتِّعُهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا بِمَا يَحْتَاجُهُ مِنَ الرِّزْقِ،
yakni: “Barangsiapa kafir, maka Aku memberi kesenangan kepadanya di dunia ini dengan rezeki yang ia butuhkan,
ثُمَّ أَضْطَرُّهُ بَعْدَ هَذَا التَّمْتِيعِ إِلَى عَذَابِ النَّارِ.”
kemudian setelah kesenangan ini Aku paksa dia menuju azab neraka.”
فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّهُ لَا يَنَالُ الْكُفَّارَةَ مِنَ الْخَيْرِ إِلَّا تَمْتِيعُهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا،
Maka Allah Yang Mahasuci memberitahukan bahwa orang-orang kafir tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali kesenangan sementara bagi mereka di dunia ini,
وَلَيْسَ لَهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَّا مَا هُوَ شَرٌّ مَحْضٌ، وَهُوَ عَذَابُ النَّارِ.
dan setelah itu mereka tidak memiliki (balasan) kecuali keburukan yang murni, yaitu azab neraka.
وَأَمَّا عَلَى قِرَاءَةِ مَنْ قَرَأَ: «فَأُمَتِّعُهُ» بِصِيغَةِ الْأَمْرِ، وَكَذَلِكَ: «ثُمَّ أَضْطَرُّهُ» بِصِيغَةِ الْأَمْرِ،
Adapun menurut qiraat yang membaca “فَأَمْتِعْهُ” dengan sighat amr (bentuk perintah), dan demikian pula “ثُمَّ اضْطَرَّهُ” dengan sighat amr,
فَهِيَ مَبْنِيَّةٌ عَلَى أَنَّ ذَلِكَ مِنْ جُمْلَةِ كَلَامِ إِبْرَاهِيمَ،
maka (penafsiran) itu dibangun atas dasar bahwa kalimat ini merupakan bagian dari ucapan Ibrahim,
وَأَنَّهُ لَمَّا فَرَغَ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْمُؤْمِنِينَ، دَعَا لِلْكَافِرِينَ بِالْإِمْتَاعِ قَلِيلًا، ثُمَّ دَعَا عَلَيْهِمْ بِأَنْ يَضْطَرَّهُمْ إِلَى عَذَابِ النَّارِ.
dan bahwa ketika ia selesai berdoa untuk orang-orang beriman, ia berdoa bagi orang-orang kafir agar diberi kesenangan sebentar, lalu ia berdoa atas mereka agar dipaksa menuju azab neraka.
وَمَعْنَى: أَضْطَرَّهُ: أَلْزَمَهُ حَتَّىٰ صَيَّرَهُ مُضْطَرًّا لِذَلِكَ، لَا يَجِدُ عَنْهُ مُخَلِّصًا، وَلَا مِنْهُ مُتَحَوَّلًا.
Makna “أَضْطَرَّهُ” adalah: memaksanya hingga menjadikannya terpaksa (masuk ke neraka) sehingga ia tidak mendapatkan jalan keluar darinya dan tidak dapat berpindah daripadanya.
وَقَوْلُهُ: وَإِذْ يَرْفَعُ، هُوَ حِكَايَةٌ لِحَالٍ مَاضِيَةٍ اسْتِحْضَارًا لِصُورَتِهَا الْعَجِيبَةِ.
Firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan …” adalah pengisahan tentang keadaan masa lalu, dengan menghadirkan gambaran menakjubkan dari peristiwa itu.
وَالْقَوَاعِدُ: الْأَسَاسُ، قَالَهُ أَبُو عُبَيْدَةَ وَالْفَرَّاءُ.
“Al-qawā‘id” adalah fondasi; demikian dikatakan oleh Abu ‘Ubaidah dan al-Farrā’.
وَقَالَ الْكِسَائِيُّ: هِيَ الْجُدُرُ.
Al-Kisā’i berkata: Yang dimaksud adalah dinding-dinding.
وَالْمُرَادُ بِرَفْعِهَا: رَفْعُ مَا هُوَ مَبْنِيٌّ فَوْقَهَا، لَا رَفْعُهَا فِي نَفْسِهَا،
Yang dimaksud dengan “meninggikan fondasi-fondasi” adalah meninggikan bangunan yang berada di atas fondasi itu, bukan meninggikan fondasinya sendiri,
فَإِنَّهَا لَمْ تَرْتَفِعْ، لَكِنَّهَا لَمَّا كَانَتْ مُتَّصِلَةً بِالْبِنَاءِ الْمُرْتَفِعِ فَوْقَهَا صَارَتْ كَأَنَّهَا مُرْتَفِعَةٌ بِارْتِفَاعِهِ،
karena fondasi itu sendiri tidak terangkat; tetapi karena ia menyatu dengan bangunan yang ditinggikan di atasnya, seolah-olah fondasi itu ikut terangkat dengan terangkatnya bangunan.
كَمَا يُقَالُ: ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ، وَلَا يُقَالُ: ارْتَفَعَ أَعَالِي الْبِنَاءِ وَلَا أَسَافِلُهُ.
Sebagaimana dikatakan: “Bangunan itu telah tinggi,” dan tidak dikatakan: “Bagian atas bangunan itu tinggi” atau “bagian bawahnya tinggi.”
وَقَوْلُهُ: رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا فِي مَحَلِّ الْحَالِ بِتَقْدِيرِ الْقَوْلِ، أَيْ: قَائِلَيْنَ: رَبَّنَا.
Firman-Nya: “Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami …” berada pada posisi hal, dengan takdir adanya kata “qā’ilain” (seraya berkata), yakni: “(mereka berdua) berkata: Wahai Tuhan kami …”
وَقَرَأَ أُبَيٌّ وَابْنُ مَسْعُودٍ: «وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ، وَيَقُولَانِ: رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا».
Ubay dan Ibnu Mas‘ud membaca: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail, dan keduanya berkata: ‘Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami …’”
وَقَوْلُهُ: وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ، أَيِ: اجْعَلْنَا ثَابِتَيْنِ عَلَيْهِ، أَوْ زِدْنَا مِنْهُ.
Firman-Nya: “Dan jadikanlah kami berdua sebagai orang yang berserah diri kepada-Mu,” artinya: Jadikanlah kami tetap teguh di atas (Islam itu), atau tambahkanlah (ketundukan) kepada kami.
قِيلَ: الْمُرَادُ بِالْإِسْلَامِ هُنَا: مَجْمُوعُ الْإِيمَانِ وَالْأَعْمَالِ.
Ada yang mengatakan: Yang dimaksud dengan Islam di sini adalah keseluruhan iman dan amal-amal (shalih).
وَقَوْلُهُ: وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا، أَيْ: وَاجْعَلْ مِنْ ذُرِّيَّتِنَا، وَ«مِنْ» لِلتَّبْعِيضِ أَوْ لِلتَّبْيِينِ.
Firman-Nya: “Dan dari keturunan kami …” maksudnya: “Jadikanlah dari keturunan kami …”
Huruf “min” di sini bisa bermakna untuk sebagian (tab‘īdh) atau untuk penjelasan (tabyīn).
وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: إِنَّهُ أَرَادَ بِالذُّرِّيَّةِ: الْعَرَبَ خَاصَّةً، وَكَذَا قَالَ السُّهَيْلِيُّ.
Ibnu Jarir berkata: Yang dimaksud dengan “dzurriyyah” di sini adalah orang-orang Arab secara khusus; demikian pula dikatakan oleh as-Suhaili.
قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ: وَهَذَا ضَعِيفٌ، لِأَنَّ دَعْوَتَهُ ظَهَرَتْ فِي الْعَرَبِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا بِهِ.
Ibnu ‘Athiyyah berkata: Ini pendapat yang lemah, karena doa Ibrahim tampak pengaruhnya pada orang Arab dan selain mereka yang beriman kepadanya.
وَالْأُمَّةُ: الْجَمَاعَةُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ،
Kata “ummat” di sini berarti sekelompok orang (jamaah).
وَقَدْ تُطْلَقُ عَلَى الْوَاحِدِ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا2
Namun kata “ummat” kadang juga digunakan untuk satu orang, seperti firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya Ibrahim adalah satu umat yang tunduk patuh.”2
وَتُطْلَقُ عَلَى الدِّينِ، وَمِنْهُ: إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ3
Kata itu juga dipakai untuk makna agama, seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami berada di atas suatu umat (agama/ajaran).”3
وَتُطْلَقُ عَلَى الزَّمَانِ، وَمِنْهُ: وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ4
Ia juga dipakai untuk makna masa (waktu), seperti firman-Nya: “Dan ia teringat setelah sekian masa.”4
وَقَوْلُهُ: وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا، هِيَ مِنَ الرُّؤْيَةِ الْبَصَرِيَّةِ.
Firman-Nya: “Dan tunjukkanlah kepada kami manasik kami …” berasal dari kata ru’yah bashariyyah (melihat dengan mata).
وَقَرَأَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَقَتَادَةُ، وَابْنُ كَثِيرٍ، وَابْنُ مُحَيْصِنٍ، وَغَيْرُهُمْ: «أَرْنَا» بِسُكُونِ الرَّاءِ،
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Qatadah, Ibnu Katsir, Ibnu Muhayshin dan selain mereka membaca “أَرْنَا” dengan mensukunkan huruf ra’.
وَمِنْهُ قَوْلُ الشَّاعِرِ:
Di antaranya adalah ucapan seorang penyair:
أَرْنَا إِدَاوَةَ عَبْدِ اللَّهِ نَمْلَؤُهَا … مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ إِنَّ الْقَوْمَ قَدْ ظَمِئُوا
“Tunjukkanlah kepada kami tempat air milik Abdullah, akan kami isi ia
dengan air Zamzam, sungguh kaum ini telah kehausan.”
وَالْمَنَاسِكُ: جَمْعُ نُسُكٍ، وَأَصْلُهُ فِي اللُّغَةِ: الْغَسْلُ، يُقَالُ: نَسَكَ ثَوْبَهُ إِذَا غَسَلَهُ.
“Mansik” (jamaknya: manāsik) secara bahasa asalnya bermakna “mencuci”; dikatakan: “Nasaka tsaubahu” jika ia mencuci pakaiannya.
وَهُوَ فِي الشَّرْعِ: اسْمٌ لِلْعِبَادَةِ،
Sedangkan dalam istilah syariat, ia adalah nama bagi ibadah.
وَالْمُرَادُ هُنَا مَنَاسِكُ الْحَجِّ،
Yang dimaksud di sini adalah manasik haji.
وَقِيلَ: مَوَاضِعُ الذَّبْحِ،
Ada yang mengatakan: yang dimaksud adalah tempat-tempat penyembelihan.
وَقِيلَ: جَمِيعُ الْمُتَعَبَّدَاتِ.
Ada juga yang mengatakan: semua bentuk ibadah.
وَقَوْلُهُ: وَتُبْ عَلَيْنَا، قِيلَ: الْمُرَادُ بِطَلَبِهِمَا لِلتَّوْبَةِ: التَّثْبِيتُ، لِأَنَّهُمَا مَعْصُومَانِ لَا ذَنْبَ لَهُمَا،
Firman-Nya: “Dan terimalah taubat kami …” — ada yang mengatakan: yang dimaksud dengan permohonan taubat keduanya adalah permohonan agar diteguhkan, karena keduanya (Ibrahim dan Ismail) adalah maksum (dijaga dari dosa), tidak memiliki dosa.
وَقِيلَ: الْمُرَادُ: تُبْ عَلَى الظَّلَمَةِ مِنَّا.
Ada pula yang mengatakan: maksudnya adalah “Terimalah taubat para pelaku kezaliman dari kalangan kami.”
وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ: «وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ» أَيْ: أَمَرْنَاهُ.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Athā’ bahwa ia berkata tentang firman-Nya: “Dan Kami telah mengambil perjanjian dari Ibrahim …”: maksudnya, “Kami memerintahkannya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: «أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ» قَالَ: مِنَ الْأَوْثَانِ.
Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya: “(yaitu) sucikanlah rumah-Ku …”, ia berkata: “(Sucikan) dari berhala-berhala.”
وَأَخْرَجَ أَيْضًا عَنْ مُجَاهِدٍ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ مِثْلَهُ، وَزَادُوا: الرَّيْبَ، وَقَوْلَ الزُّورِ، وَالرِّجْسَ.
Ia juga meriwayatkan dari Mujahid dan Sa‘id bin Jubair dengan makna yang sama, dan mereka menambahkan: “(Sucikan) dari keraguan, ucapan dusta, dan segala kotoran.”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَابْنُ جَرِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ نَحْوَهُ.
‘Abdu bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah dengan makna yang serupa.
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: إِذَا كَانَ قَائِمًا فَهُوَ مِنَ الطَّائِفِينَ، وَإِذَا كَانَ جَالِسًا فَهُوَ مِنَ الْعَاكِفِينَ، وَإِذَا كَانَ مُصَلِّيًا فَهُوَ مِنَ الرُّكَّعِ السُّجُودِ.
Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Jika seseorang berdiri (di sekitar Ka‘bah), maka ia termasuk orang-orang yang thawaf; jika ia duduk, ia termasuk orang-orang yang beri‘tikaf; dan jika ia shalat, maka ia termasuk orang-orang yang ruku dan sujud.”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الَّذِينَ يَنَامُونَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ: هُمُ الْعَاكِفُونَ.
‘Abdu bin Humaid dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ia ditanya tentang orang-orang yang tidur di masjid, maka ia berkata: “Mereka adalah orang-orang yang beri‘tikaf (‘ākifūn).”
وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ، وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا، فَلَا يُصَادُ صَيْدُهَا وَلَا يُقْطَعُ عَضَاهَا»
Telah sah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram, dan aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram di antara dua lava gunungnya; tidak boleh diburu binatang-binatang yang ada di dalamnya, dan tidak boleh ditebang pepohonannya.”
كَمَا أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَمُسْلِمٌ، وَالنَّسَائِيُّ، وَغَيْرُهُمْ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasa’i, dan lainnya dari hadits Jabir.
وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْمَعْنَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ طَرِيقِ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ،
Makna ini juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui sejumlah sahabat,
مِنْهُمْ: رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ،
di antaranya: Rafi‘ bin Khadij dalam riwayat Muslim dan selainnya,
وَمِنْهُمْ: أَبُو قَتَادَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ،
dan di antaranya: Abu Qatadah dalam riwayat Ahmad,
وَمِنْهُمْ: أَنَسٌ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ،
dan di antaranya: Anas (bin Malik) dalam riwayat dua imam (al-Bukhari dan Muslim),
وَمِنْهُمْ: أَبُو هُرَيْرَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ،
dan di antaranya: Abu Hurairah dalam riwayat Muslim,
وَمِنْهُمْ: عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ فِي الْأَوْسَطِ،
dan di antaranya: ‘Ali bin Abi Thalib dalam riwayat ath-Thabrani dalam *al-Ausath*,
وَمِنْهُمْ: أُسَامَةُ عَنْ زَيْدٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْبُخَارِيِّ،
dan di antaranya: Usāmah, dari Zaid, dalam riwayat Ahmad dan al-Bukhari,
وَمِنْهُمْ: عَائِشَةُ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ.
dan di antaranya: ‘Aisyah dalam riwayat al-Bukhari.
وَثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ مَكَّةَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَهِيَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ».
Telah sah pula dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, dan ia tetap haram sampai Hari Kiamat.”
وَأَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ تَعْلِيقًا، وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ.
Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini secara mu‘allaq, dan Ibnu Majah meriwayatkannya dari hadits Shafiyah binti Syaibah.
وَأَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
Dan dua imam (al-Bukhari dan Muslim) serta selain keduanya meriwayatkannya dari hadits Ibnu ‘Abbas,
وَأَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَأَهْلُ السُّنَنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ،
dan dua imam serta para penulis Sunan meriwayatkannya dari hadits Abu Hurairah.
وَفِي الْبَابِ أَحَادِيثُ غَيْرُ مَا ذَكَرْنَا،
Dalam bab ini masih ada hadits-hadits lain selain yang kami sebutkan.
وَلَا تَعَارُضَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ،
Tidak ada kontradiksi di antara hadits-hadits ini.
فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا بَلَّغَ النَّاسَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَهَا، وَأَنَّهَا لَمْ تَزَلْ حَرَمًا آمِنًا نُسِبَ إِلَيْهِ أَنَّهُ حَرَّمَهَا،
Karena tatkala Ibrahim ‘alaihis-salām menyampaikan kepada manusia bahwa Allah telah menjadikannya tanah haram dan bahwa Makkah senantiasa menjadi tanah haram yang aman, maka penisbatan “Ibrahim mengharamkan Makkah” diarahkan kepadanya,
أَيْ: أَظْهَرَ لِلنَّاسِ حُكْمَ اللَّهِ فِيهَا.
yakni: beliau menampakkan kepada manusia hukum Allah pada (kota) itu.
وَإِلَى هَذَا الْجَمْعِ ذَهَبَ ابْنُ عَطِيَّةَ وَابْنُ كَثِيرٍ.
Kompromi seperti inilah yang dipilih oleh Ibnu ‘Athiyyah dan Ibnu Katsir.
وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: إِنَّهَا كَانَتْ حَرَامًا، وَلَمْ يَتَعَبَّدِ اللَّهُ الْخَلْقَ بِذَلِكَ حَتَّى سَأَلَهُ إِبْرَاهِيمُ، فَحَرَّمَهَا وَتَعَبَّدَهُمْ بِذَلِكَ. انْتَهَى.
Ibnu Jarir berkata: “Sesungguhnya Makkah itu telah menjadi tanah haram (sejak dahulu), tetapi Allah belum mewajibkan para makhluk untuk mengamalkan (hukum haram itu) sampai Ibrahim memohon (pengharaman itu); maka Allah menjadikannya haram dan mewajibkan mereka untuk mengamalkan (hukum) itu.” Selesai.
وَكِلَا الْجَمْعَيْنِ حَسَنٌ.
Kedua cara mengkompromikan (hadits-hadits) ini adalah baik.
وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ الطَّائِفِيِّ، قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّهُ لَمَّا دَعَا إِبْرَاهِيمُ لِلْحَرَمِ فَقَالَ: «وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ» نَقَلَ اللَّهُ الطَّائِفَ مِنْ فِلَسْطِينَ.
Dan Ibnu Jarir serta Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muhammad bin Muslim ath-Tha’ifi, ia berkata: “Sampai kepadaku (kabar) bahwa ketika Ibrahim berdoa untuk tanah haram (Makkah) dengan ucapannya: ‘Dan berilah rezeki penduduknya dengan buah-buahan,’ maka Allah memindahkan (kota) Thaif dari wilayah Palestina.”
وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَالْأَزْرَقِيُّ عَنِ الزُّهْرِيِّ.
Riwayat yang serupa dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Azraqi dari az-Zuhri.
وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ أَيْضًا الْأَزْرَقِيُّ عَنْ بَعْضِ وَلَدِ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ.
Al-Azraqi juga meriwayatkan hal yang serupa dari sebagian keturunan Nafi‘ bin Jubair bin Muth‘im.
وَقَدْ أَخْرَجَ الْأَزْرَقِيُّ نَحْوَهُ مَرْفُوعًا مِنْ طَرِيقِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ.
Al-Azraqi meriwayatkan riwayat yang mirip (dengan sanad) marfū‘ dari jalur Muhammad bin al-Munkadir.
وَأَخْرَجَ أَيْضًا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ، قَالَ: دَعَا إِبْرَاهِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَتَرَكَ الْكُفَّارَ وَلَمْ يَدْعُ لَهُمْ بِشَيْءٍ، قَالَ اللَّهُ: «وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ …» الْآيَةَ.
Ia (al-Azraqi) juga meriwayatkan dari Muhammad bin Ka‘b al-Qurazi, ia berkata:
“Ibrahim berdoa untuk orang-orang beriman dan meninggalkan orang-orang kafir; beliau tidak mendoakan mereka sedikit pun. Maka Allah berfirman: ‘Dan (juga) kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara …’ hingga akhir ayat.”
وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مُجَاهِدٍ.
Riwayat yang mirip juga dikeluarkan oleh Sufyan bin ‘Uyainah dari Mujahid.
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَالطَّبَرَانِيُّ، وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: «مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ»، قَالَ: كَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ احْتَجَرَهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ دُونَ النَّاسِ،
Dan Ibnu Abi Hatim, ath-Thabrani, serta Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya: “(yaitu) di antara mereka yang beriman kepada Allah …”, ia berkata:
“Seakan-akan Ibrahim membatasi (doa rezekinya) hanya untuk orang-orang beriman, bukan untuk seluruh manusia.”
فَأَنْزَلَ اللَّهُ: «وَمَنْ كَفَرَ» أَيْضًا، «فَأَنَا أَرْزُقُهُمْ كَمَا أَرْزُقُ الْمُؤْمِنِينَ، أَأَخْلُقُ خَلْقًا لَا أَرْزُقُهُمْ! أُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا، ثُمَّ أَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابِ النَّارِ».
“Maka Allah menurunkan (lanjutan ayat-Nya): ‘Dan (juga) kepada orang yang kafir …’ (yakni):
‘Maka Aku juga akan memberi rezeki kepada mereka sebagaimana Aku memberi rezeki kepada orang-orang beriman. Apakah Aku menciptakan makhluk lalu tidak memberinya rezeki?!
Aku beri mereka kesenangan sementara, kemudian Aku paksa mereka menuju azab neraka.’”
ثُمَّ قَرَأَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «كُلًّا نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ»5 الْآيَةَ.
Kemudian Ibnu ‘Abbas membaca ayat: “Kepada masing-masing golongan, baik yang ini maupun yang itu, Kami berikan bantuan (rezeki).”5
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ أَبِي الْعَالِيَةِ، قَالَ: قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فِي قَوْلِهِ: «وَمَنْ كَفَرَ» أَنَّ هَذَا مِنْ قَوْلِ الرَّبِّ.
Dan Ibnu Jarir serta Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu al-‘Āliyah, ia berkata:
“Ubay bin Ka‘b berkata tentang firman-Nya: ‘Dan (juga) kepada orang yang kafir …’ bahwa ini adalah bagian dari ucapan Rabb (Allah).”
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هَذَا مِنْ قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ، يَسْأَلُ رَبَّهُ أَنْ: «مَنْ كَفَرَ فَأَمْتِعْهُ قَلِيلًا».
Sedangkan Ibnu ‘Abbas berkata: “Ini adalah bagian dari ucapan Ibrahim; ia memohon kepada Rabb-nya (dengan lafaz): ‘Dan barangsiapa yang kafir, maka beri ia kesenangan sementara.’”
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «الْقَوَاعِدُ»: أَسَاسُ الْبَيْتِ.
Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “‘Al-qawā‘id’ adalah fondasi Baitullah.”
وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَالْبُخَارِيُّ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَغَيْرُهُمْ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قِصَّةً مُطَوَّلَةً، وَآخِرُهَا فِي بِنَاءِ الْبَيْتِ، قَالَ:
Ahmad, ‘Abdu bin Humaid, al-Bukhari, Ibnu Jarir dan selain mereka meriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair kisah panjang, yang akhirnya (berkaitan dengan) pembangunan Baitullah. Ia berkata:
فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ، فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي،
“Pada saat itulah Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah;
Ismail membawa batu-batu, dan Ibrahim membangun.”
حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ، فَوَضَعَهُ لَهُ، فَقَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَبْنِي، وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ،
“Hingga ketika bangunan itu menjadi tinggi, (Ismail) datang membawa batu ini (maqam Ibrahim), lalu meletakkannya untuk Ibrahim. Maka Ibrahim berdiri di atasnya dalam keadaan terus membangun, sedangkan Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya.”
وَهُمَا يَقُولَانِ: «رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ».
“Sementara keduanya mengucapkan: ‘Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
وَأَخْرَجَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: «وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ»، قَالَ: الْقَوَاعِدُ الَّتِي كَانَتْ قَوَاعِدَ الْبَيْتِ قَبْلَ ذَلِكَ.
Dan ‘Abdurrazzaq, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, serta Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah …”, ia berkata:
“Yaitu fondasi-fondasi yang dahulu menjadi fondasi Baitullah sebelum (peristiwa) itu.”
وَقَدْ أَكْثَرَ الْمُفَسِّرُونَ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ مِنْ نَقْلِ أَقْوَالِ السَّلَفِ فِي كَيْفِيَّةِ بِنَاءِ الْبَيْتِ،
Para ahli tafsir telah memperbanyak riwayat dalam menafsirkan ayat ini, berupa perkataan salaf mengenai cara pembangunan Baitullah,
وَمِنْ أَيِّ أَحْجَارِ الْأَرْضِ بُنِيَ؟ وَفِي أَيِّ زَمَانٍ عُرِفَ؟ وَمَنْ حَجَّهُ؟
dan (membahas) dari batu-batu bumi mana ia dibangun, pada masa kapan ia dikenal, dan siapa saja yang menunaikan haji kepadanya,
وَمَا وَرَدَ فِيهِ مِنَ الْأَدِلَّةِ عَلَى فَضْلِهِ، أَوْ فَضْلِ بَعْضِهِ بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ.
serta dalil-dalil yang datang tentang keutamaannya, atau keutamaan sebagian bagiannya, seperti Hajar Aswad.
وَفِي «الدُّرِّ الْمَنْثُورِ» مِنْ ذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ فِي غَيْرِهِ، فَلْيُرْجَعْ إِلَيْهِ،
Dalam kitab *ad-Durr al-Mantsur* terdapat pembahasan yang tidak ada pada kitab-kitab lain; maka silakan dirujuk.
وَفِي تَفْسِيرِ ابْنِ كَثِيرٍ بَعْضٌ مِنْ ذَلِكَ،
Dalam tafsir Ibnu Katsir juga terdapat sebagian (riwayat) tersebut.
وَلَمَّا لَمْ يَكُنْ مَا ذَكَرُوهُ مُتَعَلِّقًا بِالتَّفْسِيرِ، لَمْ نَذْكُرْهُ.
Dan karena apa yang mereka sebutkan itu tidak berkaitan langsung dengan tafsir (makna ayat), kami tidak menyebutkannya (di sini).
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ سَلَّامِ بْنِ أَبِي مُطِيعٍ فِي هَذِهِ الْآيَةِ: «رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ»، قَالَ: كَانَا مُسْلِمَيْنِ، وَلَكِنْ سَأَلَاهُ الثَّبَاتَ.
Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sallām bin Abi Muthi‘ tentang ayat: “Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu,” ia berkata:
“Keduanya memang sudah Muslim, tetapi keduanya memohon kepada Allah agar diteguhkan.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ، قَالَ: «مُخْلِصَيْنِ».
Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdul Karim, ia berkata (makna “Muslimain”): “Orang-orang yang ikhlas (hanya kepada-Mu).”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ السُّدِّيِّ فِي قَوْلِهِ: «وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا» قَالَ: يَعْنِيَانِ الْعَرَبَ.
Dan Ibnu Jarir serta Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi tentang firman-Nya: “Dan dari keturunan kami …” ia berkata: “Maksud keduanya adalah (keturunan) orang-orang Arab.”
وَأَخْرَجَ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: قَالَ إِبْرَاهِيمُ: «رَبِّ أَرِنَا مَنَاسِكَنَا»، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ،
Dan Sa‘id bin Mansur serta Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata:
“Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepada kami manasik kami.’ Lalu Jibril datang kepadanya …”
فَأَتَى بِهِ الْبَيْتَ، فَقَالَ: «ارْفَعِ الْقَوَاعِدَ»، فَرَفَعَ الْقَوَاعِدَ، وَأَتَمَّ الْبُنْيَانَ،
“Jibril membawa Ibrahim ke Baitullah, lalu berkata: ‘Tinggikanlah fondasinya.’ Maka Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi itu dan menyempurnakan bangunannya.”
ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ فَأَخْرَجَهُ، فَانْطَلَقَ بِهِ نَحْوَ مِنًى، فَلَمَّا كَانَ عِنْدَ الْعَقَبَةِ، فَإِذَا إِبْلِيسُ قَائِمٌ عِنْدَ الشَّجَرَةِ،
“Kemudian Jibril memegang tangan Ibrahim dan membawanya keluar, lalu pergi bersamanya menuju Mina.
Tatkala sampai di dekat ‘Aqabah, ternyata Iblis berdiri di dekat sebuah pohon.”
فَقَالَ: «كَبِّرْ وَارْمِهِ»، فَكَبَّرَ وَرَمَاهُ، فَذَهَبَ إِبْلِيسُ،
“Maka Jibril berkata: ‘Bertakbirlah dan lemparlah dia.’ Lalu Ibrahim bertakbir dan melemparnya, maka Iblis pun pergi.”
حَتَّى أَتَى الْجَمْرَةَ الْوُسْطَى، فَفَعَلَ بِهِ إِبْرَاهِيمُ كَمَا فَعَلَ فِي الْأُولَى،
“Lalu (Ibrahim) sampai ke jumrah yang tengah, dan terhadap Iblis Ibrahim melakukan seperti yang ia lakukan di jumrah pertama.”
ثُمَّ كَذَلِكَ فِي الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ،
“Kemudian demikian pula di jumrah yang ketiga.”
ثُمَّ أَخَذَ جِبْرِيلُ بِيَدِ إِبْرَاهِيمَ حَتَّى أَتَى بِهِ الْمَشْعَرَ الْحَرَامَ، فَقَالَ: «هَذَا الْمَشْعَرُ الْحَرَامُ»،
“Kemudian Jibril memegang tangan Ibrahim hingga membawanya ke al-Masy‘ar al-Harām, dan berkata: ‘Inilah al-Masy‘ar al-Harām.’”
ثُمَّ ذَهَبَ حَتَّى أَتَى بِهِ عَرَفَاتٍ، قَالَ: «وَقَدْ عَرَفْتَ مَا أَرَيْتُكَ؟» قَالَهَا ثَلَاثًا، قَالَ: «نَعَمْ».
“Kemudian Jibril pergi (bersamanya) hingga membawanya ke ‘Arafah. Ia berkata: ‘Apakah engkau telah mengetahui (memahami) apa yang aku perlihatkan kepadamu?’ — sampai tiga kali, dan Ibrahim menjawab: ‘Ya.’”
قَالَ: «فَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ»، قَالَ: «كَيْفَ أُؤَذِّنُ؟»،
“Maka Jibril berkata: ‘Maka serukanlah kepada manusia untuk (menunaikan) haji.’ Ibrahim berkata: ‘Bagaimana aku harus menyerukan (itu)?’”
قَالَ: قُلْ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَجِيبُوا رَبَّكُمْ» ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،
“Jibril berkata: ‘Ucapkanlah: Wahai manusia, penuhilah panggilan Rabb kalian — tiga kali.’”
فَأَجَابَ الْعِبَادُ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ»،
“Maka para hamba pun menjawab: ‘Labbaik Allahumma labbaik.’”
فَمَنْ أَجَابَ إِبْرَاهِيمَ يَوْمَئِذٍ مِنَ الْخَلْقِ فَهُوَ حَاجٌّ.
“Maka siapa saja dari makhluk yang menjawab (seruan) Ibrahim pada hari itu, dialah yang akan (berkesempatan) berhaji (di kemudian hari).”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ مِنْ طَرِيقِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: فَرَغَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ بِنَاءِ الْبَيْتِ، قَالَ: «قَدْ فَعَلْتُ أَي رَبِّ!» فَـ «أَرِنَا مَنَاسِكَنَا» أَبْرِزْهَا لَنَا، عَلِّمْنَاهَا، فَبَعَثَ اللَّهُ جِبْرِيلَ، فَحَجَّ بِهِ.
Dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ibnu al-Musayyab dari ‘Ali, ia berkata:
“Ketika Ibrahim telah selesai membangun Baitullah, ia berkata: ‘Wahai Rabb, aku telah melakukannya.’
(Maka ia berdoa): ‘Tunjukkanlah kepada kami manasik kami’, yakni tampakkanlah kepada kami, ajarkanlah kepada kami.
Maka Allah mengutus Jibril, lalu Jibril berhaji bersama Ibrahim.”
وَفِي الْبَابِ آثَارٌ كَثِيرَةٌ عَنِ السَّلَفِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ، تَتَضَمَّنُ أَنَّ جِبْرِيلَ أَرَى إِبْرَاهِيمَ الْمَنَاسِكَ،
Dalam bab ini terdapat atsar-atsar yang banyak dari para salaf, baik sahabat maupun generasi setelah mereka, yang mengandung keterangan bahwa Jibril telah memperlihatkan manasik (haji) kepada Ibrahim,
وَفِي أَكْثَرِهَا أَنَّ الشَّيْطَانَ تَعَرَّضَ لَهُ كَمَا تَقَدَّمَ عَنْ مُجَاهِدٍ.
dan dalam kebanyakan riwayat tersebut dinyatakan bahwa setan mengganggunya, sebagaimana telah disebutkan dari Mujahid.
وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَالطَّبَرَانِيُّ، وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي «الشُّعَبِ» عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ نَحْوَ ذَلِكَ،
Dan Ibnu Khuzaimah, ath-Thabrani, al-Hakim (dan ia mensahihkannya), serta al-Baihaqi dalam *as-Syu‘ab* meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dengan makna yang serupa.
وَكَذَلِكَ أَخْرَجَ عَنْهُ أَحْمَدُ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَالْبَيْهَقِيُّ.
Demikian pula Ahmad, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas hal yang serupa.
---
1 QS. al-Hāqqah (69): 21.
2 QS. an-Naḥl (16): 120.
3 QS. az-Zukhruf (43): 22.
4 QS. Yūsuf (12): 45.
5 QS. al-Isrā’ (17): 20.