Al Baqarah Ayat 114-115

 

[سورة البقرة (2) : الآيات 114 الى 115]

[Surat Al-Baqarah (2): Ayat 114 hingga 115]

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَساجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعى فِي خَرابِها أُولئِكَ مَا كانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوها إِلَاّ خائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذابٌ عَظِيمٌ (114)

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah untuk disebut nama-Nya di dalamnya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut. Bagi mereka di dunia kehinaan, dan bagi mereka di akhirat azab yang besar (114).

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَما تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ واسِعٌ عَلِيمٌ (115)

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui (115).

هَذَا الِاسْتِفْهَامُ فِيهِ أَبْلَغُ دَلَالَةٍ عَلَى أَنَّ هَذَا الظُّلْمَ مُتَنَاهٍ، وَأَنَّهُ بِمَنْزِلَةٍ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَلْحَقَهُ سَائِرُ أَنْوَاعِ الظُّلْمِ.

Pertanyaan (istifham) ini mengandung petunjuk yang paling kuat bahwa kezaliman ini telah mencapai puncaknya, dan bahwa ia berada pada kedudukan yang tidak patut disandingkan dengan jenis-jenis kezaliman lainnya.

أَيْ: لَا أَحَدَ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ.

Maksudnya: Tidak ada seorang pun yang lebih zalim daripada orang yang melarang (penggunaan) masjid-masjid Allah.

وَاسْمُ الِاسْتِفْهَامِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ عَلَى الِابْتِدَاءِ، وَأَظْلَمُ خَبَرُهُ.

Isim istifham (kata tanya *Man*) berkedudukan *rafa'* sebagai *mubtada'* (subjek), dan kata *Azlamu* adalah *khabar*-nya (predikat).

وَقَوْلُهُ: (أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ) قِيلَ: هُوَ بَدَلٌ مِنْ مَسَاجِدَ.

Firman-Nya: (أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ/untuk disebut nama-Nya di dalamnya), dikatakan bahwa ia adalah *badal* (pengganti) dari kata *masajid*.

وَقِيلَ إِنَّهُ مَفْعُولٌ لَهُ بِتَقْدِيرِ كَرَاهِيَةَ أَنْ يُذْكَرَ.

Dikatakan pula bahwa ia adalah *maf'ul lahu* (objek alasan) dengan perkiraan makna: "karena benci jika disebut nama-Nya".

وَقِيلَ: إِنَّ التَّقْدِيرَ: مِنْ أَنْ يُذْكَرَ، ثُمَّ حُذِفَ حَرْفُ الْجَرِّ لِطُولِ الْكَلَامِ.

Dikatakan juga: Takdir (perkiraan struktur kalimatnya) adalah: *Min an yudzkara* (dari disebutnya nama-Nya), kemudian huruf *jarr*-nya dibuang karena kalimatnya terlalu panjang.

وَقِيلَ: إِنَّهُ مَفْعُولٌ ثَانٍ لِقَوْلِهِ (مَنَعَ).

Dan dikatakan juga: Ia adalah objek kedua (*maf'ul tsani*) bagi kata *Mana'a* (melarang).

وَالْمُرَادُ بِمَنْعِ الْمَسَاجِدِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ مَنْعُ مَنْ يَأْتِي إِلَيْهَا لِلصَّلَاةِ، وَالتِّلَاوَةِ، وَالذِّكْرِ، وَتَعْلِيمِهِ.

Yang dimaksud dengan melarang masjid untuk disebut nama Allah di dalamnya adalah melarang orang yang datang kepadanya untuk shalat, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan mengajarkan ilmu.

وَالْمُرَادُ بِالسَّعْيِ فِي خَرَابِهَا: هُوَ السَّعْيُ فِي هَدْمِهَا، وَرَفْعِ بُنْيَانِهَا.

Adapun yang dimaksud dengan "berusaha merobohkannya" adalah usaha untuk menghancurkannya dan meruntuhkan bangunannya.

وَيَجُوزُ أَنْ يُرَادَ بِالْخَرَابِ: تَعْطِيلُهَا عَنِ الطَّاعَاتِ الَّتِي وُضِعَتْ لَهَا.

Dan boleh juga yang dimaksud dengan "merobohkan" adalah menonaktifkan masjid dari ketaatan-ketaatan yang mana masjid itu didirikan untuknya.

فَيَكُونُ أَعَمَّ مِنْ قَوْلِهِ: (أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ).

Maka makna ini menjadi lebih umum daripada firman-Nya: "Untuk disebut nama-Nya di dalamnya".

فَيَشْمَلُ جَمِيعَ مَا يُمْنَعُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بُنِيَتْ لَهَا الْمَسَاجِدُ، كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمِهِ، وَالْقُعُودِ لِلِاعْتِكَافِ، وَانْتِظَارِ الصَّلَاةِ.

Sehingga mencakup segala bentuk pelarangan terhadap hal-hal yang menjadi tujuan dibangunnya masjid, seperti belajar ilmu, mengajarkannya, duduk untuk iktikaf, dan menunggu waktu shalat.

وَيَجُوزُ أَنْ يُرَادَ مَا هُوَ أَعَمُّ مِنَ الْأَمْرَيْنِ، مِنْ بَابِ عُمُومِ الْمَجَازِ، كَمَا قِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: (إِنَّما يَعْمُرُ مَساجِدَ اللَّهِ) 1.

Boleh juga yang dimaksud adalah makna yang lebih umum dari kedua hal tersebut (fisik dan non-fisik), termasuk dalam bab *umum al-majaz* (majas umum), sebagaimana dikatakan dalam firman-Nya: "Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah..." 1.

وَقَوْلُهُ: (مَا كانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوها إِلَّا خائِفِينَ) أَيْ: مَا كَانَ يَنْبَغِي لَهُمْ دُخُولُهَا إِلَّا حَالَ خَوْفِهِمْ.

Firman-Nya: (مَا كانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوها إِلَّا خائِفِينَ/Tidak pantas bagi mereka memasukinya kecuali dengan rasa takut), maksudnya: Tidak selayaknya mereka masuk ke dalamnya kecuali dalam keadaan takut.

وَفِيهِ إِرْشَادٌ لِلْعِبَادِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ يَنْبَغِي لَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ مِنْ أَهْلِ الْكُفْرِ، مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ بَيْنَ مَسْجِدٍ وَمَسْجِدٍ، وَبَيْنَ كَافِرٍ وَكَافِرٍ.

Di dalamnya terdapat petunjuk bagi para hamba dari Allah 'Azza wa Jalla, bahwa seyogianya mereka mencegah orang-orang kafir dari masjid-masjid Allah, tanpa membedakan antara satu masjid dengan masjid lainnya, dan antara satu kafir dengan kafir lainnya.

كَمَا يُفِيدُ عُمُومُ اللَّفْظِ، وَلَا يُنَافِيهِ خُصُوصُ السَّبَبِ.

Sebagaimana ditunjukkan oleh keumuman lafaz ayat tersebut, dan kekhususan sebab turunnya ayat tidak menafikan keumumannya.

وَأَنْ يَجْعَلُوهُمْ بِحَالَةِ إِذَا أَرَادُوا الدُّخُولَ كَانُوا عَلَى وَجَلٍ وَخَوْفٍ مِنْ أَنْ يَفْطِنَ لَهُمْ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَيُنْزِلُونَ بِهِمْ مَا يُوجِبُ الْإِهَانَةَ وَالْإِذْلَالَ.

Dan (seyogianya kaum muslimin) menjadikan mereka dalam kondisi jika ingin masuk masjid, mereka merasa cemas dan takut kalau-kalau ada orang Islam yang menyadari keberadaan mereka, lalu menimpakan kepada mereka sesuatu yang menyebabkan penghinaan dan kerendahan.

وَلَيْسَ فِيهِ الْإِذْنُ لَنَا بِتَمْكِينِهِمْ مِنْ ذَلِكَ حَالَ خَوْفِهِمْ، بَلْ هُوَ كِنَايَةٌ عَنِ الْمَنْعِ لَهُمْ مِنَّا عَنْ دُخُولِ مَسَاجِدِنَا.

Ayat ini bukanlah izin bagi kita untuk membiarkan mereka masuk dalam keadaan takut, melainkan ini adalah kiasan (*kinayah*) tentang perintah agar kita melarang mereka memasuki masjid-masjid kita.

وَالْخِزْيُ: قِيلَ: هُوَ ضَرْبُ الْجِزْيَةِ عَلَيْهِمْ وَإِذْلَالُهُمْ، وَقِيلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَقَدْ تَقَدَّمَ تَفْسِيرُهُ.

Kata *Al-Khizyu* (kehinaan): dikatakan maknanya adalah pembebanan pajak (*jizyah*) atas mereka dan perendahan mereka, dikatakan pula makna yang lain, dan tafsirnya telah dijelaskan sebelumnya.

وَالْمَشْرِقُ: مَوْضِعُ الشُّرُوقِ. وَالْمَغْرِبُ: مَوْضِعُ الْغُرُوبِ.

*Al-Masyriq*: tempat terbit matahari. *Al-Maghrib*: tempat terbenam matahari.

أَيْ: هُمَا مِلْكٌ لِلَّهِ، وَمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْجِهَاتِ وَالْمَخْلُوقَاتِ، فَيَشْمَلُ الْأَرْضَ كُلَّهَا.

Maksudnya: Keduanya adalah milik Allah, beserta apa yang ada di antara keduanya berupa arah-arah dan makhluk-makhluk, sehingga mencakup bumi seluruhnya.

وَقَوْلُهُ: (فَأَيْنَما تُوَلُّوا) أَيْ: أَيَّ جِهَةٍ تَسْتَقْبِلُونَهَا فَهُنَاكَ وَجْهُ اللَّهِ، أَيِ: الْمَكَانُ الَّذِي يَرْتَضِي لَكُمُ اسْتِقْبَالَهُ.

Firman-Nya: (فَأَيْنَما تُوَلُّوا/maka ke manapun kamu menghadap), maksudnya: arah mana saja yang kalian hadapi, maka di sana ada Wajah Allah, yakni: tempat/arah yang Allah ridhai kalian menghadap kepadanya.

وَذَلِكَ يَكُونُ عِنْدَ الْتِبَاسِ جِهَةِ الْقِبْلَةِ الَّتِي أَمَرَنَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَيْهَا بِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: (فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ وَحَيْثُ ما كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ) 2.

Hal itu berlaku ketika terjadi kerancuan (kebingungan) mengenai arah kiblat yang kita diperintahkan untuk menghadapnya, berdasarkan firman-Nya Subhanahu: "Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya" 2.

قَالَ فِي الْكَشَّافِ: وَالْمَعْنَى: أَنَّكُمْ إِذَا مُنِعْتُمْ أَنْ تُصَلُّوا فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، أَيْ: فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَقَدْ جُعِلَتْ لَكُمُ الْأَرْضُ مَسْجِدًا.

Penulis *Al-Kasysyaf* (Az-Zamakhsyari) berkata: Maknanya adalah, jika kalian dilarang untuk shalat di Masjidil Haram (atau maksudnya Baitul Maqdis), maka sungguh bumi telah dijadikan masjid bagi kalian.

فَصَلُّوا فِي أَيِّ بُقْعَةٍ شِئْتُمْ مِنْ بِقَاعِهَا، وَافْعَلُوا التَّوْلِيَةَ فِيهَا، فَإِنَّ التَّوْلِيَةَ مُمْكِنَةٌ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

Maka shalatlah di tempat mana saja yang kalian kehendaki dari bagian bumi ini, dan lakukanlah penghadapan (ke arah kiblat) di sana, karena sesungguhnya menghadap kiblat itu memungkinkan dilakukan di setiap tempat.

لَا تَخْتَصُّ أَمَاكِنُهَا فِي مَسْجِدٍ دُونَ مَسْجِدٍ، وَلَا فِي مَكَانٍ دُونَ مَكَانٍ انْتَهَى.

Tempat pelaksanaannya tidak khusus pada satu masjid saja, tidak pula pada satu tempat tertentu saja. Selesai kutipan.

وَهَذَا التَّخْصِيصُ لَا وَجْهَ لَهُ فَإِنَّ اللَّفْظَ أَوْسَعُ مِنْهُ. وَإِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ بِهِ بَيَانَ السَّبَبِ فَلَا بَأْسَ.

Pengkhususan (makna) ini tidak memiliki alasan yang kuat, karena lafaz ayatnya lebih luas dari itu. Namun jika yang dimaksudkan adalah untuk menjelaskan sebab turunnya ayat, maka tidak mengapa.

وَقَوْلُهُ: (إِنَّ اللَّهَ واسِعٌ عَلِيمٌ) فِيهِ إِرْشَادٌ إِلَى سِعَةِ رَحْمَتِهِ. وَأَنَّهُ يُوَسِّعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي دِينِهِمْ، وَلَا يُكَلِّفُهُمْ مَا لَيْسَ فِي وُسْعِهِمْ.

Firman-Nya: (إِنَّ اللَّهَ واسِعٌ عَلِيمٌ/Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui), di dalamnya terdapat petunjuk akan luasnya rahmat-Nya, dan bahwa Dia memberikan keluesan bagi hamba-hamba-Nya dalam agama mereka, serta tidak membebani mereka apa yang tidak mereka sanggupi.

وَقِيلَ: وَاسْعٌ، بِمَعْنَى: أَنَّهُ يَسَعُ عِلْمُهُ كُلَّ شَيْءٍ، كَمَا قَالَ: (وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً) 3.

Dikatakan pula: *Wasi'* (Maha Luas) maknanya: Bahwa ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya: "Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu" 3.

وَقَالَ الْفَرَّاءُ: الْوَاسِعُ: الْجَوَادُ الَّذِي يَسَعُ عَطَاؤُهُ كُلَّ شَيْءٍ.

Al-Farra' berkata: *Al-Wasi'* adalah Maha Pemurah yang pemberian-Nya mencakup segala sesuatu.

وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ إِسْحَاقَ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ قُرَيْشًا مَنَعُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ: (وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَساجِدَ اللَّهِ).

Ibnu Ishaq dan Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kaum Quraysh melarang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di sisi Ka'bah di Masjidil Haram, maka Allah menurunkan ayat: (وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَساجِدَ اللَّهِ).

وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْهُ قَالَ: هُمُ النَّصَارَى.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan darinya (Ibnu Abbas), ia berkata: Mereka (pelaku kezaliman itu) adalah orang-orang Nasrani.

وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَابْنُ جَرِيرٍ عَنْ مُجَاهِدٍ نَحْوَهُ.

Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan hal serupa dari Mujahid.

وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنِ السُّدِّيِّ قَالَ: هُمُ الرُّومُ، كَانُوا ظَاهَرُوا بُخَتُنَصَّرَ عَلَى خَرَابِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari As-Suddi, ia berkata: Mereka adalah bangsa Romawi, mereka membantu Bukhtunassar (Nebuchadnezzar) untuk menghancurkan Baitul Maqdis.

وَفِي قَوْلِهِ (أُولئِكَ مَا كانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوها إِلَّا خائِفِينَ) قَالَ: فَلَيْسَ فِي الْأَرْضِ رُومِيٌّ يَدْخُلُهُ الْيَوْمَ إِلَّا وَهُوَ خَائِفٌ أَنْ يُضْرَبَ عُنُقُهُ، وَقَدْ أُخِيفَ بِأَدَاءِ الْجِزْيَةِ فَهُوَ يُؤَدِّيهَا.

Mengenai firman-Nya: (أُولئِكَ مَا كانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوها إِلَّا خائِفِينَ), As-Suddi berkata: "Tidak ada di muka bumi ini seorang Romawi pun yang memasukinya (Baitul Maqdis) hari ini kecuali dia takut lehernya akan dipenggal, atau dia ditakuti dengan kewajiban membayar jizyah, lalu ia membayarnya."

وَفِي قَوْلِهِ: (لَهُمْ فِي الدُّنْيا خِزْيٌ) قَالَ: أَمَّا خِزْيُهُمْ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّهُ إِذَا قَامَ الْمَهْدِيُّ وَفُتِحَتِ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ قَتَلَهُمْ، فَذَلِكَ الْخِزْيُ.

Dan mengenai firman-Nya: (لَهُمْ فِي الدُّنْيا خِزْيٌ), ia berkata: "Adapun kehinaan mereka di dunia, sesungguhnya jika Al-Mahdi telah bangkit dan Konstantinopel telah ditaklukkan, maka Al-Mahdi akan membunuh mereka, itulah kehinaan tersebut."

وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَابْنُ جَرِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ: أَنَّهُمُ الرُّومُ.

Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah: Bahwa mereka adalah bangsa Romawi.

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ كَعْبٍ: أَنَّهُمُ النَّصَارَى لَمَّا أَظْهَرُوا عَلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ حَرَقُوهُ.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ka'ab: Bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani, ketika mereka berhasil menguasai Baitul Maqdis, mereka membakarnya.

وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ قَالَ: هُمُ الْمُشْرِكُونَ حِينَ صَدُّوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبَيْتِ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ia berkata: Mereka adalah kaum musyrikin ketika mereka menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Baitullah pada hari Hudaibiyah.

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ: لَيْسَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ إِلَّا خَائِفِينَ.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abu Shalih, ia berkata: Tidak boleh bagi orang musyrik memasuki masjid kecuali dalam keadaan takut.

وَأَخْرَجَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ، وَابْنُ جَرِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ فِي قَوْلِهِ: (لَهُمْ فِي الدُّنْيا خِزْيٌ) قَالَ: يُعْطُونَ الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ.

Abdurrazzaq dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah mengenai firman-Nya: (لَهُمْ فِي الدُّنْيا خِزْيٌ), ia berkata: Mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

وَأَخْرَجَ ابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي سُنَنِهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Al-Hakim (yang mensahihkannya), dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:

أَوَّلُ مَا نُسِخَ مِنَ الْقُرْآنِ فِيمَا ذُكِرَ لَنَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ شَأْنُ الْقِبْلَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ) الْآيَةَ.

"Hal pertama yang dinasakh (dihapus hukumnya) dari Al-Qur'an—sepanjang yang disebutkan kepada kami, dan Allah lebih mengetahui—adalah perihal kiblat. Allah Ta'ala berfirman: (وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ) dan seterusnya."

فَاسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، وَتَرَكَ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ، ثُمَّ صَرَفَهُ اللَّهُ إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ، وَنَسَخَهَا، فَقَالَ (وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ) 4.

"Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap dan shalat ke arah Baitul Maqdis serta meninggalkan Baitul Atiq (Ka'bah). Kemudian Allah memalingkan beliau kembali ke Baitul Atiq dan menasakhnya, seraya berfirman: (Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram) 4."

وَأَخْرَجَ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ نَحْوَهُ.

Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan hal serupa dari Ibnu Mas'ud.

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَمُسْلِمٌ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، وَغَيْرُهُمْ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:

Ibnu Abi Syaibah, Abd bin Humaid, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ تَطَوُّعًا أَيْنَمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ، ثُمَّ قَرَأَ ابْنُ عُمَرَ هَذِهِ الْآيَةَ (فَأَيْنَما تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ) وَقَالَ فِي هَذَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ.

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa shalat sunnah di atas hewan tunggangannya ke arah mana saja hewan itu menghadap." Kemudian Ibnu Umar membaca ayat ini (فَأَيْنَما تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ) dan berkata: "Tentang hal inilah ayat ini diturunkan."

وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ عَنِ ابْنِ جَرِيرٍ، وَالدَّارَقُطْنِيُّ، وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ.

Dan diriwayatkan hadits serupa dari Ibnu Jarir, Ad-Daraquthni, dan Al-Hakim yang mensahihkannya.

وَقَدْ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ قِبَلَ الْمَشْرِقِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَصَلَّى.

Dan telah tetap dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Jabir tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau biasa shalat di atas hewan tunggangannya menghadap ke timur, namun apabila beliau hendak melaksanakan shalat wajib, beliau turun dan menghadap kiblat lalu shalat.

وَرُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ مَرْفُوعًا، أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو دَاوُدَ.

Diriwayatkan hal serupa dari hadits Anas secara *marfu'*, yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Dawud.

وَأَخْرَجَ عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَضَعَّفَهُ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَغَيْرُهُمْ، عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، قَالَ:

Abd bin Humaid, At-Tirmidzi (yang mendhaifkannya), Ibnu Majah, Ibnu Jarir, dan selain mereka meriwayatkan dari Amir bin Rabi'ah, ia berkata:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ سَوْدَاءَ مُظْلِمَةٍ، فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْأَحْجَارَ فَيَعْمَلُ مَسْجِدًا فَيُصَلِّي فِيهِ.

"Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam yang gelap gulita, lalu kami singgah di suatu tempat. Maka mulailah orang-orang mengambil batu-batu dan membuat tempat shalat lalu shalat di sana."

فَلَمَّا أَنْ أَصْبَحْنَا إِذَا نَحْنُ قَدْ صَلَّيْنَا عَلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لَقَدْ صَلَّيْنَا لَيْلَتَنَا هَذِهِ لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ.

"Ketika pagi hari tiba, ternyata kami telah shalat menghadap ke arah selain kiblat. Maka kami berkata: 'Wahai Rasulullah! Sungguh kami telah shalat tadi malam menghadap ke selain kiblat.'"

فَأَنْزَلَ اللَّهُ (وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ) الْآيَةَ، فَقَالَ: مَضَتْ صَلَاتُكُمْ.

"Maka Allah menurunkan ayat (وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ), lalu beliau bersabda: 'Shalat kalian telah berlalu (sah).'"

وَأَخْرَجَ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ، وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا نَحْوَهُ، إِلَّا أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُمْ خَطُّوا خُطُوطًا.

Ad-Daraquthni, Ibnu Mardawaih, dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir secara *marfu'* dengan hadits serupa, hanya saja beliau menyebutkan bahwa mereka membuat garis-garis.

وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا.

Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan hal serupa dengan sanad yang lemah dari Ibnu Abbas secara *marfu'*.

وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ أَيْضًا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ عَطَاءٍ يَرْفَعُهُ، وَهُوَ مُرْسَلٌ.

Sa'id bin Manshur dan Ibnu Al-Mundzir juga meriwayatkan hal serupa dari Atha' yang memarfu'kannya, namun hadits ini *mursal*.

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ (فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ) قَالَ: قِبْلَةٌ لِلَّهِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتَ شَرْقًا أَوْ غَرْبًا.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai (فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ), ia berkata: "Kiblat milik Allah ke mana pun kamu menghadap, baik timur maupun barat."

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ، وَابْنُ مَاجَهْ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ».

Ibnu Abi Syaibah, At-Tirmidzi (yang mensahihkannya), dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Antara timur dan barat adalah kiblat."

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَالدَّارَقُطْنِيُّ، وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ مِثْلَهُ.

Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, dan Al-Baihaqi meriwayatkan hal serupa dari Ibnu Umar.

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ عُمَرَ نَحْوَهُ.

Dan Ibnu Abi Syaibah serta Al-Baihaqi meriwayatkan hal serupa dari Umar.
1. At-Taubah: 18.
2. Al-Baqarah: 144.
3. Thaha: 98.
4. Al-Baqarah: 150.